Contoh Studi Kasus PPG tentang LKPD sebagai Referensi Pengerjaan

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) wajib menyelesaikan tugas studi kasus sebagai bagian dari proses pembelajaran. Dalam tugas ini, ada beberapa tema yang menjadi pokok pembahasan, salah satunya LKPD atau Lembar Kerja Peserta Didik.
Nantinya, peserta diminta menceritakan pengalaman nyata saat mengajar di kelas, khususnya yang berkaitan dengan penyusunan maupun penggunaan LKPD. Adapun LKPD sendiri merupakan lembar kerja berisi petunjuk dan tugas belajar yang dirancang untuk membantu siswa memahami materi secara lebih terarah.
Bagi Anda yang sedang mencari contoh studi kasus PPG tentang LKPD untuk dijadikan referensi, simaklah artikel ini!
Contoh Studi Kasus PPG tentang LKPD
Tugas studi kasus PPG memuat deskripsi dari pokok pembahasan yang diangkat, langkah pelaksanaannya, respon peserta didik, serta pengalaman yang dapat dijadikan pembelajaran. Sebagai gambaran, berikut contoh studi kasus PPG tentang LKPD yang dihimpun dari YouTube Pak Guru Wali
Studi Kasus Permasalahan LKPD pada Mata Pelajaran PJOK
Materi: Pencak Silat - Kelas 5 SD
Permasalahan: LKPD hanya cocok untuk siswa cepat, sementara siswa yang lambat sering tertinggal.
1. Deskripsikan LKPD yang dibuat sesuai dengan kondisi siswa dan tujuan pembelajaran
Dalam pembelajaran PJOK, khususnya materi pencak silat, saya membuat LKPD yang berisi rangkaian gerakan dasar pencak silat, seperti kuda-kuda, pukulan, dan tangkisan. LKPD ini dirancang dalam bentuk lembar tugas dengan langkah-langkah gerakan, gambar ilustrasi, dan ruang untuk menuliskan refleksi setelah berlatih.
Tujuannya, agar siswa dapat mengenal dan mempraktikan dasar-dasar pencak silat secara mandiri, sekaligus memahami nilai disiplin, sportivitas, dan menjaga kebugaran tubuh.
Namun, LKPD yang saya buat cenderung menuntut siswa mengikuti instruksi secara cepat dan tepat. Gambar ilustrasi hanya sedikit, penjelasan teks cukup padat, sehingga siswa yang cepat menangkap instruksi bisa langsung mengikuti, sementara siswa yang lebih lambat cenderung bingung dan tertinggal.
2. Bagaimana merancang LKPD sesuai tujuan pembelajaran dan kondisi siswa?
Saat merancang LKPD, saya awalnya fokus pada kelengkapan materi. Saya juga menambahkan pertanyaan reflektif di akhir, seperti "apa manfaat gerakan kuda-kuda dalam pencak silat?"
Namun, saya kurang memperhatikan variasi kemampuan siswa. Ada yang terbiasa olahraga dan cepat meniru gerakan, tetapi ada juga yang masih kaku sehingga perlu bimbingan bertahap.
LKPD yang saya buat juga tidak memiliki diferensiasi, misalnya dalam bentuk latihan tambahan yang sederhana bagi siswa yang lambat atau tantangan lanjutan bagi siswa yang cepat.
3. Bagaimana respon peserta didik dengan LKPD yang dibuat?
Meskipun ada perbedaan kecepatan, respon siswa terhadap LKPD ini sebenarnya cukup positif. Siswa yang cepat merasa tertantang untuk mencoba semua gerakan. Siswa yang lambat pun tetap berusaha mengikuti, walaupun dengan ritme yang berbeda.
4. Apa pengalaman berharga yang dipetik?
Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa membuat LKPD untuk PJOK tidak bisa disamakan dengan mata pelajaran teori. LKPD tidak cukup hanya berisi langkah-langkah gerakan yang runtut, tetapi juga perlu variasi tingkat kesulitan agar sesuai dengan perbedaan kemampuan siswa.
Saya menyadari pentingnya menyusun LKPD yang fleksibel: untuk siswa cepat bisa ditambahkan tantangan dan untuk siswa lambat diberikan gambar ilustrasi yang lebih detail.
Selain itu, pengalaman ini membuat saya lebih peka dalam mengatur waktu praktik agar tidak terburu-buru.
Baca Juga: 10 Soal Simulasi Uji Kompetensi PPG 2025 beserta Kunci Jawabannya
(NSF)
