Konten dari Pengguna

Cuaca Panas Sampai Kapan? Ini Penjelasan BMKG

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi cuaca panas. Foto: Tim Wimborne/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi cuaca panas. Foto: Tim Wimborne/REUTERS

Belakangan ini, masyarakat mengeluhkan cuaca panas yang kian meningkat di sejumlah daerah. Suhu udara yang terasa menyengat membuat banyak orang merasa kurang nyaman karena dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dari pagi hingga malam, udara terasa begitu pengap. Tak sedikit yang beranggapan bahwa teriknya cuaca ini merupakan pertanda datangnya musim hujan dalam waktu dekat.

Sebenarnya, sampai kapan cuaca panas ini akan bertahan? Benarkah panas terik menjadi pertanda hujan akan turun atau justru ada faktor lain yang memicunya? Berikut penjelasan selengkapnya dari BMKG.

Cuaca Panas Sampai Kapan?

Ilustrasi cuaca panas. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Berdasarkan laporan tren iklim BMKG tahun 2025, anomali suhu udara di Indonesia mengalami kenaikan rata-rata antara 0,6 hingga 0,77 derajat Celsius jika dibandingkan periode normal 1991-2020. Kenaikan ini terlihat jelas pada catatan suhu bulan Juli dan Agustus lalu.

BMKG memberikan peringatan terkait indeks panas yang hampir menyentuh ambang batas aman pada periode 24-30 September 2025. Dengan kelembapan udara yang rendah, sensasi panas bisa mencapai 38 derajat Celsius.

Fenomena ini dipicu oleh minimnya pembentukan awan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut membuat curah hujan menurun dalam beberapa waktu terakhir, sehingga udara terasa semakin panas dan kering.

BMKG menjelaskan, kondisi ini dipengaruhi oleh munculnya pusat tekanan rendah di sekitar wilayah Indonesia. Pusat tekanan rendah tersebut menyebabkan massa uap air lebih banyak bergerak menuju Laut Cina Selatan dan perairan timur Filipina.

Topan Super Ragasa di Taiwan. Foto: Ann Wang/REUTERS

Pergerakan uap air tersebut memicu hujan lebat dan angin kencang yang berkembang menjadi badai tropis Bualoi. Badai ini muncul setelah sebelumnya terjadi Topan Super Ragasa yang menimbulkan bencana di Taiwan dan Filipina, dengan korban jiwa mencapai 27 orang serta ribuan warga terpaksa mengungsi.

Sementara itu, situasi di Indonesia justru berkebalikan. Di wilayah selatan, seperti Jawa, pembentukan awan hujan sangat minim sehingga udara terasa lebih kering dan panas dalam beberapa hari terakhir.

Menurut BMKG, cuaca panas ini sifatnya sementara. Kondisi atmosfer diprediksi kembali stabil setelah badai tropis Bualoi dan pusat tekanan rendah di Laut Cina Selatan melemah atau menghilang. Setelah itu, curah hujan di wilayah Indonesia akan meningkat kembali seiring waktu.

Dengan demikian, panas terik yang terjadi bukanlah tanda langsung bahwa musim hujan segera tiba, melainkan dampak dari pola atmosfer global yang sedang berlangsung.

Imbauan BMKG

Ilustrasi aplikasi Info BMKG Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap perubahan cuaca yang bisa terjadi secara tiba-tiba.

Cuaca ekstrem, mulai dari panas terik, hujan lebat, dan angin kencang, berpotensi menimbulkan risiko yang dapat mengganggu aktivitas maupun keselamatan. Sebagai langkah antisipasi, BMKG mengimbau masyarakat untuk memperhatikan beberapa hal penting berikut:

  • Waspada terhadap perubahan cuaca mendadak, seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir.

  • Hindari berada di ruang terbuka saat hujan dengan petir, serta jauhi pohon, bangunan, atau infrastruktur rapuh ketika angin kencang melanda.

  • Gunakan tabir surya dan penuhi asupan cairan tubuh, sebab teriknya cuaca musim kemarau bisa datang sewaktu-waktu.

  • Siaga terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, maupun tanah longsor, yang bisa terjadi kapan saja.

  • Selalu pantau informasi cuaca terbaru melalui kanal resmi BMKG, yakni situs web www.bmkg.go.id, media sosial @infoBMKG, atau aplikasi InfoBMKG.

Baca Juga: Apa Itu Fenomena Aphelion dan Dampaknya terhadap Cuaca di Indonesia

(ANB)