Demo Timor Leste karena Apa? Ini Penyebabnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Demonstrasi besar-besaran pecah di Timor Leste selama tiga hari berturut-turut, mulai 15 hingga 17 September 2025. Ribuan warga turun ke jalan-jalan ibu kota Dili untuk menolak rencana pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan rakyat.
Dikutip dari AFP, massa yang didominasi mahasiswa berkumpul di dekat gedung parlemen dan melakukan aksi anarkis sebagai bentuk protes terhadap kebijakan yang dianggap hanya menguntungkan pejabat.
Hal ini menjadi sorotan serius, mengingat sebagian besar penduduk Timor Leste masih menghadapi kemiskinan, ketimpangan sosial, gizi buruk, dan perekonomian yang rapuh.
Lalu, apa sebenarnya yang memicu demo besar-besaran ini? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Demo Timor Leste karena Apa?
Berdasarkan informasi dari laman ABC News, rencana pemerintah Timor Leste untuk membeli 65 mobil baru bagi anggota parlemen memicu gelombang protes besar di ibu kota Dili. Anggaran pengadaan mobil ini mencapai USD 4,2 juta atau setara Rp 69 miliar.
Anggaran senilai jutaan dolar tersebut dianggap tidak mencerminkan kebutuhan rakyat, terutama karena lebih dari 40% penduduk masih hidup dalam kemiskinan, menurut data Bank Dunia.
Diketahui aksi unjuk rasa yang awalnya damai berubah menjadi ricuh ketika beberapa pengunjuk rasa membakar ban dan melempar batu ke polisi, sehingga polisi menembakkan gas air mata untuk mengendalikan kerusuhan.
Kerusuhan sendiri pecah pada Selasa (16/9). Menurut laman NHK World Japan, lebih dari 2 ribu orang yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa sejumlah universitas di Dili berkumpul di dekat Parlemen Nasional untuk menentang rencana pengadaan SUV Toyota Prado bagi 65 anggota parlemen.
Mereka menuntut pemerintah lebih fokus pada kebijakan adil untuk mahasiswa, pekerja, dan masyarakat luas.
Dikutip dari laman Channel News Asia, selain isu pengadaan mobil dinas, tuntutan demonstran juga melebar pada kebijakan pensiun seumur hidup bagi mantan anggota parlemen.
Skema yang disahkan sejak 2006 itu dinilai tidak adil karena mantan anggota DPR tetap menerima gaji penuh meski sudah tidak menjabat.
Di bawah tekanan publik, parlemen akhirnya membatalkan rencana pembelian mobil dinas dan berjanji meninjau ulang aturan pensiun seumur hidup anggota parlemen.
Aksi protes yang berlangsung selama beberapa hari ini membuat situasi di Dili memanas, dengan bentrokan antara massa dan aparat tidak terhindarkan. Beberapa kendaraan dibakar dan ban-ban disulut sebagai bentuk kemarahan rakyat.
Dengan demikian, tuntutan mahasiswa tidak lagi sebatas pembatalan pembelian mobil dinas, tetapi juga mencakup kejelasan soal hak pensiun seumur hidup dan hak istimewa lainnya bagi anggota parlemen serta pejabat tinggi negara.
Baca Juga: Saat Pengadaan Mobil Dinas DPR Picu Demo Timor Leste dan Berujung Rusuh
(ANB)
