Konten dari Pengguna

El Nino Godzilla Sampai Kapan? Ini Informasinya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 Ilustrasi El Nino. Foto: Neenawat Khenyothaa/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi El Nino. Foto: Neenawat Khenyothaa/Shutterstock

El Nino Godzilla belakangan menjadi topik yang hangat diperbincangkan karena diprediksi membawa perubahan cuaca signifikan di Indonesia. Fenomena ini merujuk pada kondisi El Nino dengan intensitas yang sangat kuat, sehingga berpotensi memperpanjang durasi musim kemarau.

Sejumlah ahli menyatakan bahwa dampak El Nino Godzilla bisa meluas, seperti mengganggu hasil pertanian, ketersediaan air, hingga meningkatkan risiko kebakaran lahan. Itu kenapa, langkah mitigasi yang terencana sangat diperlukan.

Kemarau panjang ini diperkirakan melanda Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. Lantas, El Nino Godzilla sampai kapan? Yuk, simak pembahasan lengkapnya berikut ini.

Apa Itu El Nino Godzilla?

Ilustrasi kekeringan di musim kemarau. Foto: Shutter Stock

Fenomena El Nino Godzilla kerap menjadi sorotan karena dampaknya yang bisa meluas ke berbagai sektor. Untuk itu, Anda mesti memahami pengertiannya terlebih dahulu untuk menganalisis kondisi lebih jauh.

1. Pengertian El Nino Godzilla

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian ekuator. Ketika suhu meningkat drastis, pola pembentukan awan ikut berubah. Akibatnya, curah hujan cenderung terkonsentrasi di wilayah Pasifik, sementara daerah lain yang lebih jauh justru mengalami penurunan hujan.

Kondisi ini membuat musim kemarau sering kali berlangsung lebih panjang dari biasanya. Karena dampak yang ekstrem ini, istilah "Godzilla" pun disematkan pada fenomena El Nino terbaru.

Seperti dikutip dari laman Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, julukan “Godzilla” bukan istilah ilmiah resmi, melainkan sebutan populer yang diberikan ilmuwan NASA pada 2015 untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat dan destruktif.

Analogi tersebut diambil dari sosok monster raksasa Godzilla yang identik dengan kekuatan besar. Dengan kata lain, istilah ini digunakan untuk memudahkan pemahaman tentang betapa ekstremnya fenomena tersebut.

2. Dampak El Nino Godzilla

El Nino dengan kekuatan tinggi membawa sejumlah dampak yang perlu diwaspadai, antara lain:

  • Musim kemarau yang lebih panjang dan kering,

  • Krisis air bersih akibat berkurangnya sumber air seperti sumur, sungai, dan waduk.

  • Penurunan hasil pertanian karena tanaman kesulitan mendapatkan air yang cukup.

  • Meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan seiring kondisi lingkungan yang kering.

  • Penurunan curah hujan di banyak wilayah.

El Nino Godzilla Sampai Kapan?

Ilustrasi el nino. Foto: Pexels

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut fenomena El Nino Godzilla diperkirakan melanda Indonesia pada periode April hingga Oktober 2026. Kondisi ini berpotensi semakin kuat seiring kemungkinan munculnya anomali iklim lain, yaitu Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

IOD positif menyebabkan suhu permukaan laut di perairan dekat Sumatera dan Jawa menjadi lebih dingin. Dampaknya, wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan, sehingga musim kemarau berpotensi berlangsung lebih kering.

"Kedua fenomena tersebut diprediksi akan terjadi bersamaan selama periode musim kemarau di Indonesia sejak April hingga Oktober 2026" tulis @brin_indonesia melalui unggahan Instagramnya.

Kondisi ini mendorong perlunya langkah mitigasi sejak dini untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan. Dalam unggahan yang sama, dipaparkan beberapa potensi dampak yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Dampak kekeringan di selatan Indonesia yang dapat mengancam lumbung padi nasional khususnya di Pantura Jawa.

  • Dampak banjir di wilayah timur laut Indonesia karena curah hujan tinggi selama kemarau (Sulawesi, Halmahera, Maluku).

  • Dampak kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan, meskipun khususnya bagian utara kedua pulau ini tetap akan mengalami hujan yang tinggi.

  • Mengoptimalkan produksi garam untuk mencapai swasembada garam selama tahun 2026-2027 khususnya di wilayah selatan Indonesia.

Baca Juga: Bagaimana Adaptasi Manusia terhadap Perbedaan Bentang Alam? Ini Penjelasannya

(SA)