Etika Berhubungan Suami Istri dalam Kitab Qurrotul Uyun

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kitab Qurrotul Uyun merupakan salah satu kajian ilmu fikih yang membahas tentang konsep hubungan seksual antara suami-istri sesuai syariat Islam. Kitab yang disusun oleh Syekh Muhammad at-Tahami Ibnu Madani itu kerap dipelajari di pesantren.
Apa Itu Kitab Qurrotul Uyun?
Allah SWT mengatur setiap aspek kehidupan umatnya, termasuk tentang hubungan seksual sesuai syariat Islam. Menyadur buku Konsep Mengawali Hubungan Suami Istri dalam Kitab Qurratul ‘Uyun yang ditulis oleh Supriyanto, hubungan seksual adalah salah satu bentuk keintiman yang terjalin antara sepasang kekasih dalam ikatan pernikahan.
Selain itu, hubungan seksual merupakan bentuk komunikasi paling intim antara suami dengan istri. Tak hanya sebagai pemenuhan atas kebutuhan biologis, hubungan seksual yang sehat dan baik merupakan salah satu kunci kebahagiaan dalam pernikahan.
Itulah mengapa, pembahasan tentang hubungan seksual antara suami-istri menjadi salah satu perhatian khusus dalam ilmu fikih dan menjadi pembahasan inti dalam kitab Qurrotul Uyun.
Dikutip dari laman NU Online, Qurrotul Uyun merupakan kitab berbentuk syarah dari nazham (syair) yang ditulis oleh Syekh Qasim bin Ahmad bin Musa bin Yamun. Kemudian disyarahkan oleh Syekh Tahami dengan uraian lebih rinci dan bahasa yang lebih luwes, sehingga mudah dipahami oleh para pembacanya.
Apa Isi Kitab Qurrotul Uyun?
Kitab Qurrotul Uyun secara garis besar membahas tentang hubungan intim antara suami-istri dengan detail. Menurut sumber yang sama, kitab ini mengulas secara gamblang mengenai aktivitas seksual.
Lebih dari separuh isi kitab ini membahas tentang hubungan seksual antara suami-istri. Lebih lanjut, berikut isi pembahasan secara garis besar dalam kitab Qurrotul Uyun:
Pemilihan waktu dan momen yang tepat untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangan.
Persiapan sebelum melakukan seks.
Pantangan saat berhubungan seks.
Tata krama saat melakukan seks.
Doa yang dibaca saat berhubungan seks.
Pembahasan mengenai hubungan seksual lainnya.
Bagi Syekh Tahami, memperhatikan aspek berhubungan seks sesuai syariat dapat menumbuhkan keharmonisan dan kemesraan dalam pernikahan. Inilah mengapa, memahami dan menerapkan anjuran yang dituliskan dalam kitab tersebut menjadi sebuah ikhtiar untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
Selain pengetahuan seks atau jima, kitab ini juga membahas ihwal walimah, waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan, nasihat saling menyayangi antara suami-istri, hingga tanggung jawab ke anak sebagai orang tua.
Apa Keutamaan Kitab Qurrotul Uyun?
Beberapa keutamaan pernikahan yang diulas dalam kitab Qurrotul Uyun seperti yang dikutip dari laman NU Online, di antaranya:
Upaya menyempurnakan setengah dari agama
Menikah tak sekadar sebagai pemenuhan kebutuhan biologis, naluri, dan fitrah. Lebih dari itu, menikah merupakan ibadah yang dapat menyempurnakan setengah dari agama.
Dalam kitab Qurrotul Uyun dijelaskan bahwa hendaknya sepasang suami-istri membersihkan badan dan hatinya sebelum berhubungan. Selain bertobat atas dosa yang telah dilakukan, sangat dianjurkan bagi tiap pasangan untuk mandi dan berwudu terlebih dahulu sebelum berhubungan badan.
Kondisi yang suci secara lahir maupun batin mencerminkan terpenuhinya agama dalam kehidupan rumah tangga. Sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebut bahwa:
“Barangsiapa telah menikah, maka ia sejatinya telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka hendaknya bertakwa pada Allah dalam setengah yang lainnya.” (HR. Muslim).
Pahala ibadah dilipatgandakan
Dalam kitab Qurrotul Uyun dijelaskan bahwa menikah dapat melipatgandakan pahala atas ibadah yang dilakukan. Pernyataan itu didasarkan pada sebuah hadis, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
''Salat yang dikerjakan oleh orang yang sudah menikah itu lebih utama daripada 40 kali salat yang dikerjakan orang yang tidak berumah tangga.''
Menikah sebagai sarana melahirkan anak dan keturunan yang saleh
Selain diniatkan sebagai ibadah, menikah juga dapat dijadikan sarana untuk mendapat anak dan keturunan yang saleh. Rasulullah bersabda dalam sebuah hadis:
“Menikahlah kalian dengan perempuan yang paling dicintai dan paling banyak memberi keturunan. Sebab, aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian atas umat-umat lain pada hari Kiamat,” (HR Ahmad).
Etika Berhubungan Suami Istri dalam Kitab Qurrotul Uyun
Melakukan hubungan suami istri merupakan salah satu kunci terbentuknya keluarga yang harmonis. Ini juga bentuk ibadah yang bernilai pahala.
Dalam hadis riwayat Muslim, para sahabat bertanya pada Nabi Muhammad SAW:
"Wahai Rasulullah, apakah jika salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya (berhubungan suami istri) akan mendapat pahala?"
Rasulullah SAW menjawab: "Apa pendapat kalian seandainya dia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, bukankah dia mendapatkan dosa. Maka demikian pula jika dia melampiaskan syahwatnya pada yang halal, dia memperoleh pahala".
Dengan begitu, jima atau hubungan suami istri harus dilakukan sesuai syariat. Dari beberapa kitab yang membahas tentang pernikahan dan hubungan suami istri, salah satu yang paling terkenal adalah kitab Qurrotul Uyun. Kitab ini sering diajarkan di pesantren sebagai tuntunan dalam pendidikan seks.
Karena jima merupakan ibadah yang memiliki tujuan baik, maka pelaksanaannya juga harus sesuai adab. Di sinilah peran Qurrotul Uyun, yakni menyajikan pembahasan tentang senggama secara detail, mulai dari pemilihan waktu yang tepat hingga tata caranya.
Berikut ini adalah sejumlah panduan jima menurut kitab Qurrotul Uyun:
Waktu terbaik
Waktu terbaik untuk berhubungan suami istri adalah setelah Isya, atau boleh juga dilakukan setelah Magrib sebelum Isya. Selain itu suami hendaknya melarang seseorang berhenti di dekat pintu kamarnya agar orang tersebut tak mengganggunya saat bersenggama.
Dilandasi dengan niat baik
Jima akan bernilai ibadah jika dilandasi dengan niat baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Syaikh Tihami dalam kitab tersebut yang berbunyi:
“Bagi suami yang hendak melakukan hubungan seks dengan istrinya, hendaknya ia bersih hatinya, bertobat kepada Allah, dan menyesali tindakan dosa, kekhilafan dan tindakan tercela yang pernah dilakukan. Jadi, ketika ia melakukan hubungan seks, ia dalam keadaan suci dan bersih, baik secara lahiriah maupun secara batiniah. Hal ini dimaksudkan semoga Allah akan memberi karunia kepadanya atas kesempurnaan urusan agamanya melalui hubungan seks dengan istrinya.”
Bercumbu rayu sebelum jima
Di kitab ini ditekankan bahwa istri bukan hanya sebagai pemuas hawa nafsu suami. Kepuasan kedua pasangan dalam hubungan seksual sangat penting. Oleh sebab itu Syaikh Tihami menganjurkan agar pasangan menciptakan susana romantis sebelum melakukan hubungan seksual.
Suami hendaknya berupaya untuk merangkai tutur kata yang baik dan indah ketika berbicara dengan istrinya. Dengan cara ini keresahan dalam batin sang istri akan lenyap. Seorang suami juga dianjurkan untuk bercumbu dan didahului dengan mencium kepala istri.
Posisi terbaik
Posisi seorang istri saat bersetubuh adalah telentang di atas sprei yang dingin dengan pinggul diganjal bantal. Sedangkan suami naik ke atas tubuh istrinya dalam kondisi tubuh telungkup.
Sebelum jima, suami diharuskan membaca basmalah. Hal yang perlu diingat adalah Islam melarang jima melalui dubur dan orang yang melakukannya akan dilaknat. Selain itu, suami hendaknya membuat istri mencapai orgasme dalam setiap persenggamaan.
Berwudu setelah selesai
Setelah selesai berjima, suami istri disunahkan mencuci kemaluan dan berwudu. Akan lebih baik lagi apabila keduanya mandi besar untuk mensucikan diri dari hadas besar.
Itulah penjelasan tentang kitab Qurrotul Uyun dan etika berhubungan untuk suami istri seperti yang dijelaskan dalam kitab tersebut. Semoga bermanfaat!
(ERA & ANM)
