Fondasi Pyramid of Learning untuk Perkembangan Otak Anak

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Untuk memahami tumbuh kembang anak, dikenal konsep Pyramid of Learning yang berkaitan dengan sistem sensorik dan motorik. Konsep ini pertama kali dikembangkan pada 1991 oleh terapis okupasi Kathleen Taylor dan pendidik Maryann Trott sehingga sering disebut Taylor-Trott Pyramid of Learning.
Berdasarkan fondasi Pyramid of Learning, otak akan berkembang melalui pengalaman yang diperoleh anak sejak usia dini. Simak penjelasan selengkapnya berikut ini!
Struktur Pyramid of Learning
Pyramid of Learning tersusun dari beberapa lapisan yang saling berkaitan, dimulai dari sistem saraf pusat di bagian dasar hingga kognisi dan intelektual di puncak piramida. Mengutip dari laman Develop Learn Grow, struktur tersebut terdiri atas:
Sistem Sarat Pusat: Otak dan sumsum tulang belakang sebagai fondasi paling dasar yang menerima seluruh input sensorik.
Sistem Sensorik: Meliputi taktil, vestibular, proprioseptif, penciuman, penglihatan, pendengaran, dan pengecapan.
Perkembangan Sensori Motorik: Mencakup keamanan postural, kesadaran dua sisi tubuh, perencanaan gerak, skema tubuh, kematangan refleks, dan kemampuan menyaring input.
Perkembangan Motorik Perseptual: Meliputi koordinasi mata-tangan, kontrol motorik okular, penyesuaian postur, keterampilan bahasa auditori, persepsi visual-spasial, dan fungsi pusat perhatian.
Kognisi dan Intelektual: Puncak piramida yang mencakup kemampuan belajar akademik, aktivitas sehari-hari, dan perilaku.
Otak Berkembang Melalui Pengalaman
Otak anak melakukan reorganisasi berdasarkan cara tubuh digunakan. Semakin banyak variasi gerakan dan pengalaman anak, semakin banyak pula sel dan koneksi baru yang terbentuk di otaknya.
Jalur belajar di otak akan menguat bila sering digunakan. Sementara koneksi yang jarang dipakai akan otomatis dipangkas oleh otak. Beberapa contoh nyata proses ini terlihat pada:
Skema Tubuh: Anak belajar mengenali posisi tubuhnya sendiri lewat gerakan yang dilakukan berulang, misalnya merangkak, berjalan, atau melompat.
Perencanaan Gerak: Kemampuan ini terbentuk lewat proses mencoba, menerima umpan balik, dan mengulang gerakan hingga menjadi otomatis. Contohnya anak belajar mengendarai sepeda dengan cara mencoba berkali-kali, jatuh bangun, sampai akhirnya bisa mengayuh tanpa perlu berpikir lagi.
Koordinasi mata-tangan: Keterampilan ini semakin terasah saat anak sering bermain, misalnya menyusun balok atau menangkap bola berulang kali.
Dampak dari Fondasi Pyramid of Learning yang Lemah
Jika kemampuan sensorik dan motorik anak tidak terlatih dengan baik, dampaknya akan terasa hingga ke tahap perkembangan selanjutnya. Sebagai contoh, anak yang kesulitan memproses rangsangan indra, seperti sentuhan atau keseimbangan, kemungkinan akan mengalami hambatan dalam keterampilan motorik dan konsentrasi. Hal ini dapat memengaruhi kemampuan berpikir dan belajar akademik anak.
Oleh karena itu, orang tua dan guru disarankan mengajak anak melakukan berbagai aktivitas fisik dan sensorik sejak dini, seperti bermain di luar ruangan atau menyentuh berbagai tekstur benda. Aktivitas semacam ini dapat membantu anak membangun kemampuan motorik dasar dan mempersiapkan diri untuk belajar akademik di kemudian hari.
Baca juga: Apa Salah Satu Prinsip Penilaian Kinerja PNS? Ini Penjelasannya
(FHK)
