Konten dari Pengguna

Hari Raya Siwaratri: Makna, Waktu Pelaksanaan, dan Tata Caranya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Hari Raya Siwaratri. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Hari Raya Siwaratri. Foto: Unsplash.

Hari Raya Siwaratri merupakan salah satu perayaan penting bagi umat Hindu di Indonesia. Perayaan ini digelar setahun sekali sebagai momen introspeksi diri dan perenungan atas segala perbuatan yang telah dilakukan.

Lantas, apa sebenarnya makna Siwaratri dan bagaimana tata cara pelaksanaannya yang benar? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Pengertian dan Makna Siwaratri

Ilustrasi Hari Raya Siwaratri. Foto: Unsplash.

Siwaratri berasal dari dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu "Siwa" dan "Ratri". Mengutip dari situs Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Siwa artinya baik hati, suka memaafkan, memberi harapan, dan membahagiakan. Sementara Ratri berarti malam atau kegelapan.

Jika digabung, kedua kata tersebut berarti malam pelebur kegelapan dalam diri dan hati untuk menuju jalan yang lebih terang. Siwa juga nama kehormatan manifestasi Tuhan, yaitu Dewa Siwa yang berfungsi sebagai pelebur atau pemralina.

Dikutip dari situs Kementerian Agama, Siwaratri dimaknai sebagai malam perenungan suci. Malam tersebut menjadi waktu bagi umat Hindu untuk mengevaluasi dan introspeksi diri atas perbuatan atau dosa-dosa yang telah dilakukan selama ini.

Waktu Pelaksanaan Hari Raya Siwaratri

Ilustrasi Hari Raya Siwaratri. Foto: Unsplash.

Hari suci Siwaratri jatuh setiap tahun menurut kalender Saka. Perayaan ini berlangsung pada purwaning Tilem atau panglong ping 14 sasih kepitu, yaitu bulan ketujuh dalam perhitungan kalender Bali sebelum bulan mati.

Dalam kalender Masehi, Hari Raya Siwaratri biasanya jatuh setiap bulan Januari. Pada tahun 2026, perayaan ini berlangsung pada Sabtu, 17 Januari 2026.

Tata Cara Brata Siwaratri

Ilustrasi Hari Raya Siwaratri. Foto: Unsplash.

Brata Siwaratri terdiri dari tiga macam pantangan yang dilakukan sesuai kemampuan masing-masing individu, yaitu:

1. Mona Brata (Diam)

Umat berlatih untuk tidak berbicara dan mengendalikan ucapan agar terbiasa bicara yang baik dan benar. Biasanya dilakukan selama 12 jam dari pagi hingga sore, pukul 06.00 - 18.00.

2. Upawasa (Puasa)

Tidak makan dan minum selama 24 jam. Maknanya adalah melepaskan keterikatan diri pada kenikmatan duniawi dan rasa lezat makanan.

3. Jagra (Begadang/Sadar)

Tidak tidur atau selalu terjaga. Jagra bukan sekadar melek tanpa tujuan, melainkan tetap sadar (eling) dan memusatkan pikiran pada ajaran suci serta Hyang Siwa. Brata ini dilakukan paling lama 36 jam dari pagi hari H hingga pukul 18.00 esok harinya.

Rangkaian Upacara Siwaratri

Ilustrasi Hari Raya Siwaratri. Foto: Unsplash.

Mengutip situs Babad Bali, pelaksanaan upacara Siwaratri dimulai pada hari menjelang malam dengan urutan sebagai berikut:

  1. Umat melaksanakan maprayascita sebagai pembersihan pikiran dan batin.

  2. Umat mengaturkan banten pajati (sesajen) di Sanggar Surya disertai persembahyangan ke hadapan Sang Hyang Surya untuk memohon kesaksian-Nya. Sembahyang juga dilakukan ke hadapan leluhur yang telah sidha dewata untuk memohon bantuan dan tuntunannya.

  3. Umat mengaturkan banten pajati ke hadapan Sang Hyang Siwa. Banten dapat ditempatkan pada Sanggar Tutuan, Palinggih Padma, atau pada Piasan di Pamerajan atau Sanggah. Persembahyangan ditujukan kepada Sang Hyang Siwa dan Dewa Samodaya.

  4. Setelah sembahyang, umat melanjutkan dengan nunas tirta pakuluh (memohon air suci).

  5. Selanjutnya, umat melakukan masegeh, yaitu persembahan di hadapan Sanggar Surya.

  6. Rangkaian upacara Siwaratri ditutup dengan melaksanakan dana punia (sedekah) kepada mereka yang membutuhkan, tempat suci, atau Sulinggih (pendeta atau rohaniwan Hindu).

Sementara proses tersebut berlangsung, umat tetap mentaati upawasa dan jagra. Persembahyangan ke hadapan Sang Hyang Siwa dengan banten pajati dilakukan tiga kali, yaitu pada hari menjelang malam panglong ping 14 sasih Kapitu, tengah malam, dan besoknya menjelang pagi.

(FHK)

Baca juga: Kalender Bali 2026 untuk Panduan Hari Baik dan Hari Raya Hindu