Konten dari Pengguna

Hubungan antara Keberagaman Bangsa Indonesia dan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bagaimana hubungan antara keberagaman bangsa Indonesia dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Foto: unsplash.com/@mllewelynb
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bagaimana hubungan antara keberagaman bangsa Indonesia dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Foto: unsplash.com/@mllewelynb

Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa Indonesia yang tertulis dalam lambang negara Garuda Pancasila. Semboyan yang berasal dari bahasa Jawa Kuno tersebut apabila diartikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi, "Berbeda-beda namun tetap satu jua". Pertanyaannya, adakah hubungan antara keberagaman bangsa Indonesia dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika?

Sebelum mengetahui keterkaitannya, sebaiknya pahami terlebih dahulu makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika bagi bangsa Indonesia. Semboyan tersebut merefleksikan berbagai macam suku, agama, budaya, ras, dan golongan.

Bhinneka Tunggal Ika juga mencerminkan prinsip dasar kesatuan. Lantas, bagaimana hubungan antara keberagaman bangsa Indonesia dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika? Simak pembahasan lengkapnya berikut ini.

Hubungan antara Keberagaman Bangsa Indonesia dan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika

Ilustrasi bagaimana hubungan antara keberagaman bangsa Indonesia dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Foto: pixabay.com/jarmoluk

Hubungan antara keberagaman bangsa Indonesia dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika cukup erat. Menurut buku Pendidikan Pancasila SMP/MTS Kelas VII oleh Yayat Suryatna, dkk., keberagaman tersebut merujuk pada banyaknya perbedaan di Indonesia, mulai dari suku, agama, budaya, bahasa, hingga ras.

Bhinneka Tunggal Ika hadir untuk mengajarkan pentingnya sikap menghargai, menghormati, dan menerima perbedaan satu sama lain. Lewat konsep ini, keberagaman bisa jadi simbol yang mewakili kekayaan tradisi dan budaya di Indonesia.

Dengan menerapkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan bermasyarakat, persatuan dan kesatuan bangsa akan tetap terjaga. Meski berasal dari latar belakang yang berbeda, kita tetaplah satu bangsa yang wajib menghormati dan menghargai perbedaan satu sama lain.

Sebaliknya, tanpa adanya kesadaran sikap untuk mewujudkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, perpecahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bisa terjadi. Sebab, setiap orang hanya akan mementingkan dirinya sendiri dan tak lagi menghargai perbedaan.

Baca Juga: Kenapa Burung Garuda Menoleh ke Kanan? Ini Penjelasannya!

Contoh Penerapan Bhinneka Tunggal Ika dalam Kehidupan Sehari-hari

Ilustrasi perwujudan Bhinneka Tunggal Ika. Foto: Pexels/ Irgi Nur Fadil

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika bisa diwujudkan lewat sikap toleran. Sikap tersebut memungkinkan seseorang lebih menghargai dan menghormati setiap perbedaaan ataupun keberagaman yang ada.

Lewat sikap ini, masyarakat bisa lebih memahami cara bertindak agar tidak memicu perpecahan. Untuk memahami penerapan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari, simak contoh lengkapnya berikut ini seperti dirangkum dari buku Pendidikan pancasila dan Kewarganegaraan SMP/MTs Kelas VII oleh Lukman Surya Saputra, dkk.

1. Terhadap Kehidupan Beragama

Indonesia mengakui enam agama, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghuchu. Setiap agama tidak memaksakan ajarannya kepada siapa pun. Jadi, seseorang bebas memilihnya sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Ini selaras dengan kebijakan negara yang membolehkan warganya untuk menganut dan mengamalkan agamanya masing-masing, sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 Pasal 29 ayat 2.

Dalam kehidupan beragama, diperlukan sikap toleransi untuk menghargai setiap perbedaan yang ada. Adapun beberapa sikap yang bisa Anda praktikkan dalam kehidupan sehari-hari yakni sebagai berikut:

  • Melaksanakan ajaran agama yang dianutnya dengan baik dan benar.

  • Menghormati agama yang diyakini orang lain.

  • Tak memaksakan keyakinan agama yang dianutnya kepada orang lain.

  • Toleran terhadap pelaksanaan ibadah yang dianut pemeluk agama lain.

2. Terhadap Keberagaman Suku dan Ras

Perbedaan suku dan ras seharusnya tidak jadi kendala dalam membangun persatuan bangsa. Dalam hal ini, sikap toleran diperlukan untuk menghormati harkat dan martabat orang lain.

Perbedaan tidak boleh menjadikan individu merasa lebih baik dari orang lain ataupun sebaliknya. Sebab, baik buruknya seseorang tidak bisa dinilai dari warna kulit, bentuk tubuh, ataupun rupa wajah, melainkan dari cara mereka berperilaku.

Maka, dianjurkan untuk berperilaku baik kepada semua orang. Anda tidak boleh memandang seseorang berdasarkan latar belakangnya saja, apalagi soal suku dan ras.

3. Terhadap Keberagaman Sosial Budaya

Kehidupan sosial dan kebudayaan Indonesia yang beragam merupakan bagian dari kekayaan bangsa. Oleh karena itu, warga negara Indonesia dianjurkan untuk konsisten menjaga semangatnya dalam memelihara dan menjaga keberagaman tersebut.

Tentu, Anda bisa merefleksikan semangat keberagaman lewat sikap yang baik. Adapun contohnya yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yakni sebagai berikut.

  • Mengetahui keanekaragaman budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.

  • Mempelajari dan menguasai salah satu seni budaya sesuai dengan minat dan kesenangan.

  • Merasa bangga terhadap budaya bangsa sendiri.

  • Menyaring budaya asing yang masuk ke dalam bangsa Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika sebagai Semboyan Negara Indonesia

Ilustrasi Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara Indonesia. Foto: Unsplash.com/Mufid Majnun

Mengutip artikel ilmiah berjudul Kajian Analitik Terhadap Semboyan Bhinneka Tunggal Ika oleh I Nyoman Pursika, Universitas Pendidikan Ganesha, istilah Bhinneka Tunggal Ika dipetik dari Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular. Istilah tersebut dapat dijumpai dalam bait 5 pupuh 139 yang isinya:

Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,

Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,

Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,

Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahannya:

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.

Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?

Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal

Mulanya, kitab Sutasoma mengajarkan toleransi kehidupan beragama yang menempatkan agama Hindu dan Buddha untuk tinggal dalam lingkungan yang rukun dan damai. Frasa Bhinneka Tunggal Ika dalam kitab tersebut dipandang sesuai dengan kondisi sosiologis, budaya, dan geografis Indonesia.

Sehingga, Bhinneka Tunggal Ika Sutasoma pun dijadikan sebagai semboyan bangsa. Dikutip dari situs Kemdikbud, semboyan tersebut tertulis dalam pita yang dicengkeram burung Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia. Lalu diperkuat dalam Pasal 36A UUD 1945 yang berbunyi, "Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika."

(NSF)