Hukum Lupa Niat Puasa Ramadhan Menurut 4 Mazhab

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Niat merupakan salah satu rukun yang menentukan sah atau tidaknya ibadah puasa Ramadhan. Umat Islam dianjurkan membaca niat pada malam hari, baik setelah salat tarawih maupun saat sahur.
Dengan membaca niat, seseorang telah meneguhkan hatinya untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Sehingga, ia bisa menahan lapar dan haus serta hawa nafsu untuk memperoleh pahala dari Allah SWT.
Namun, bagaimana jika seseorang lupa membaca niat? Artikel ini akan membahas hukum lupa niat puasa Ramadhan menurut 4 mazhab. Yuk, simak selengkapnya di sini!
Hukum Lupa Niat Puasa Ramadhan
Mengutip buku Step by Step Puasa Ramadhan bagi Orang Sibuk oleh Gus Arifin, niat puasa sebaiknya dibaca pada malam hari. Pendapat ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW berikut:
"Dari Ummul Mukminin Khafshah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum terbit fajar, maka tidak sah puasanya."" (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai)
Lantas, bagaimana jika seseorang lupa niat puasa Ramadhan pada malam hari? Apakah masih diperbolehkan berniat setelah terbit fajar? Berikut penjelasan menurut empat mazhab terkait hukum lupa niat puasa Ramadhan:
1. Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi menjelaskan bahwa niat puasa hendaknya dibaca saat terbit fajar. Karena pada momen ini, ibadah puasa telah dimulai.
Namun untuk puasa wajib yang bersifat tanggungan atau utang, seperti puasa qadha, niat harus dibaca pada malam hari. Apabila dibaca setelah fajar, hukumnya menjadi tidak sah.
Lalu, untuk puasa wajib yang waktunya ditentukan seperti puasa Ramadhan, niat masih boleh dilakukan setelah terbit fajar hingga sebelum waktu zuhur, selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.
2. Mazhab Maliki
Mazhab Maliki menyatakan bahwa niat puasa yang sah hendaknya dilakukan pada malam hari atau saat terbit fajar. Jika niat dibaca sebelum matahari terbenam di hari sebelumnya atau setelah tergelincirnya matahari pada hari puasa, maka hukumnya tidak sah, termasuk puasa sunnah.
3. Mazhab Syafi'i
Menurut mazhab Syafi'i, seluruh puasa wajib mensyaratkan niat pada malam hari sebelum terbit fajar. Adapun puasa sunnah, niat boleh dilakukan sejak malam hari hingga sebelum matahari tergelincir, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
4. Mazhab Hanbali
Pendapat mazhab Hanbali sejalan dengan mazhab Syafi'i yang mewajibkan niat malam hari untuk setiap puasa wajib. Sementara untuk puasa sunnah, niat diperbolehkan pada siang hari selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.
Baca Juga: Jadwal Pembagian MBG Saat Ramadan 2026 dan Ketentuan Menunya
Bacaan Niat Puasa Ramadhan
Berikut bacaan niat puasa Ramadhan, dikutip dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI):
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هٰذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanati lillāhi ta‘ālā.
Artinya: "Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta'ala."
Di tengah arus informasi yang semakin cepat dan dinamika kehidupan yang terus bergerak, Ramadan menjadi momen untuk refleksi diri dan kembali pada nilai empati serta kepedulian. Sepanjang bulan suci ini, kumparan hadir dengan beragam program, liputan langsung, dan informasi relevan seputar Ramadan.
Cek informasi selengkapnya di kum.pr/ramadan2026
(NSF)
