Konten dari Pengguna

Hukum Nyadran dalam Islam Menjelang Bulan Ramadhan

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hukum nyadaran dalam Islam. Foto: Harviyan Perdana Putra/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hukum nyadaran dalam Islam. Foto: Harviyan Perdana Putra/ANTARA FOTO

Nyadran merupakan tradisi yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa. Tradisi ini biasanya dilakukan menjelang bulan Ramadhan, tepatnya pada bulan Syaban.

Tujuan nyadran adalah mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan kematian. Bentuk pelaksanaannya berbeda di setiap daerah, tetapi umumnya dilakukan dengan berziarah ke makam, membersihkan area pemakaman, memanjatkan doa, dan menabur bunga.

Selain itu, sebagian masyarakat juga kerap menggelar tahlil dan doa bersama di rumah. Pertanyaannya, bagaimana hukum nyadran dalam Islam? Apakah diperbolehkan? Simak penjelasannya di artikel ini!

Hukum Nyadran dalam Islam

Ilustrasi hukum nyadaran dalam Islam. Foto: Aji Styawan/ANTARA FOTO

Islam berkembang di Jawa melalui dakwah para Wali Songo menggunakan tradisi yang telah ada, salah satunya melalui nyadran. Tradisi ini awalnya berasal dari kepercayaan Hindu-Buddha, lalu dimodifikasi dengan memasukkan nilai-nilai Islam agar lebih mudah diterima masyarakat.

Mengutip Jurnal Humanis Vol. 15 No. 1 oleh Wildan Novia Rosydiana dari Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebagian masyarakat memaknai nyadran sebagai simbol hubungan spiritual antara manusia, roh leluhur, dan Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam perspektif hukum Islam, nyadran menimbulkan beragam pandangan. Jika merujuk pada hadis riwayat Ibnu Majah No. 1572, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut."

Hadis ini menjadi dasar bahwa meniru ritual kaum kafir dalam bentuk ibadah dapat dikategorikan sebagai larangan.

Di sisi lain, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia agar memperoleh ampunan dan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Karena itu, apabila tradisi nyadran diisi dengan amalan bernuansa Islam, seperti tahlil, istighasah, dan doa, maka kegiatan tersebut dapat bernilai ibadah.

Hal tersebut juga dijelaskan dalam situs resmi Universitas Islam Indonesia. Nyadran yang dilakukan sesuai tuntunan syariat dan etika yang diajarkan Nabi Muhammad SAW dianggap sebagai sunnah dan dapat diamalkan.

Baca Juga: Contoh Kegiatan Tarhib Ramadhan 2026 untuk Umat Islam

Sejarah Tradisi Nyadran

Ilustrasi nyadran. Foto: Anis Efizudin/ANTARA FOTO

Nyadran merupakan tradisi khas masyarakat Jawa yang dilakukan secara turun-temurun menjelang bulan Ramadhan. Tradisi ini sudah dilakukan sejak masa Hindu-Buddha, jauh sebelum Islam masuk dan berkembang di Indonesia.

Disadur dari buku 100+ Tempat Wisata dan Budaya di Indonesia oleh Ita Fitria dkk., nyadran merupakan hasil akulturasi budaya Jawa Kuno, yakni tradisi Craddha yang berisi pemberian sesaji dan penghormatan kepada leluhur, yang kemudian dimodifikasi oleh Wali Songo dengan ajaran Islam.

Tradisi nyadran umumnya dilaksanakan sebulan sebelum Ramadhan, tepatnya pada tanggal 15, 20, dan 23 Syaban. Tujuan pelaksanaannya adalah sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Di sejumlah daerah di Jawa, nyadran dilakukan dengan membersihkan makam leluhur, menabur bunga, memanjatkan doa, serta mengadakan kenduri. Pada zaman dahulu, tradisi ini juga menjadi momen kebersamaan masyarakat untuk menikmati hidangan-hidangan istimewa.

Seiring perkembangan zaman dan gaya hidup masyarakat, pelaksanaan tradisi nyadran kini mulai berkurang dan tidak lagi dilakukan secara serentak di berbagai daerah.

(NSF)