Konten dari Pengguna

Hukum Puasa 1 Muharram, Apakah Dibolehkan dalam Islam?

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak puasa. Foto: pakww/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak puasa. Foto: pakww/Shutterstock

Memperbanyak ibadah di bulan Muharram mampu mendatangkan keutamaan yang besar di sisi Allah SWT. Namun, bagaimana dengan hukum puasa 1 Muharram? Apakah termasuk dalam syariat Islam?

Dijelaskan dalam buku Ternyata Sholat dan Puasa Sunnah dapat Mempercepat Kesuksesan susunan Ceceng Salamuddin (2013), puasa di bulan Muharram sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW, namun tidak spesifik pada tanggal 1 Muharram saja. Sebab, Muharram merupakan salah satu bulan spesial dalam kalender Hijriyah.

Anjuran puasa 1 Muharram ini didasarkan pada hadis Nabi yang berbunyi, “Sebaik-baik puasa setelah (bulan) Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yakni bulan Muharram.” (HR. Muslim)

Namun, pelaksanaannya tetap harus didasarkan pada kaidah fiqih yang benar. Seperti apa? Simak ketetapan hukumnya dalam artikel berikut ini.

Hukum Puasa 1 Muharram dalam Islam

Ilustrasi anak belajar puasa. Foto: Odua Images/Shutterstock

Sebenarnya, tidak ada dalil spesifik yang memerintahkan atau menganjurkan umat Muslim untuk berpuasa di tanggal 1 Muharram. Namun, banyak dalil yang menjelaskan keutamaan memperbanyak ibadah di bulan Muharram, salah satunya dengan berpuasa.

Alasannya karena bulan Muharram mampu mendatangkan banyak keutamaan dan kecintaan Allah SWT. Maka, umat Muslim yang menjalankan ibadah di bulan tersebut akan dilipatgandakan pahala dan kebaikannya oleh Allah.

Adapun menurut Abu Ubaidah Yusuf, dkk., dalam buku Ensiklopedi Amalan Sunnah di Bulan Hijriyah, puasa yang boleh dikerjakan selama bulan Muharram adalah puasa mutlak. Artinya, puasa tersebut tidak berkaitan dengan sebab dan waktu yang spesifik.

Beliau mengungkapkan bahwa tidak ada sumber spesifik yang menyatakan bahwa puasa tanggal 1 Muharram adalah sunnah. Apabila ingin tetap melaksanakannya, dianjurkan untuk meniatkannya sebagai puasa mutlak.

Tentu, tujuannya juga harus diniatkan sebagai perantara untuk mengamalkan nasihat Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan umatnya untuk memperbanyak puasa selama Muharram.

ilustrasi berdoa. Foto: Nong2/Shutterstock

Pahamilah bahwa puasa yang dikerjakan secara spesifik di tanggal 1 Muharram bisa menjadi bid’ah apabila diniatkan pada tanggal itu saja. Sebab, dalil perintahnya pun sangat lemah dan tergolong sebagai hadis palsu.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa akhir hari bulan Dzulhijjah dan awal Muharram, maka dia telah menutup tahun lalunya dengan puasa dan membuka tahun barunya dengan puasa, Allah menjadikan baginya kaffara lima puluh tahun.”

Hadis tersebut dimasukkan ke dalam kitab Al-Maudhu’at karya Ibnul Jauzi. Kemudian, beliau memberikan keterangan tambahan berupa, “Al-Harawi adaah al-Juwaibari dan Wahb, keduanya adalah pendusta dan pemalsu hadis.”

Maka, solusi yang tepat untuk memperbanyak puasa di bulan Muharram yakni dengan menunaikannya di hari ‘Asyura dan Tasua yang jatuh pada tanggal 10 dan 9 Muharram. Puasa sunnah ini memiliki keutamaan yang besar di sisi Allah SWT.

Ilustrasi berdoa. Foto: Shutterstock

Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa, “Hadis ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan yang paling mulia untuk melaksanakan puasa sunnah.”

Kemudian, dari Ibnu Abbas ra disebutkan bahwa, “Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura'. Beliau bertanya, "Hari apa ini?" Mereka menjawab, "Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirny Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Kami (kaum muslim lebih layak menghormati Musa dari pada kalian." kemudian Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa” (HR. Al Bukhari)

Baca juga: Puasa Asyura: Niat, Waktu Pelaksanaan, dan Keutamaannya