Kapan Musim Hujan Berakhir? Ini Prediksi BMKG

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memasuki awal tahun 2026, intensitas hujan masih terpantau tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat di sejumlah daerah ikut terdampak oleh cuaca yang cenderung basah dan kurang bersahabat.
BMKG menjelaskan bahwa dinamika atmosfer, baik skala regional maupun global, saat ini masih mendukung terbentuknya awan hujan. Secara umum, cuaca diprediksi berawan hingga hujan ringan dan sedang, meski beberapa wilayah berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat disertai angin kencang.
Lantas, kapan musim hujan di Indonesia akan berakhir? Mari simak prediksi dari BMKG berikut ini. Informasi adalah hal penting mengingat banyak sektor kehidupan bergantung pada kepastian kondisi cuaca, mulai dari pertanian hingga transportasi.
Kapan Musim Hujan Berakhir?
Berdasarkan Pemutakhiran Prediksi Musim Hujan 2025/2026 yang dirilis BMKG pada November 2025, fenomena El Niño–Southern Oscillation saat ini berada pada fase La Niña lemah dengan indeks sekitar minus 0,77.
Kondisi ini diperkirakan akan bertahan hingga awal 2026 dan berkontribusi pada meningkatnya kandungan uap air di atmosfer. Alhasil, curah hujan masih relatif tinggi di banyak wilayah Indonesia.
Secara umum, musim hujan mulai terasa sejak akhir 2025 dan mencapai intensitas tertingginya pada awal 2026. Meski demikian, puncak musim hujan tidak berlangsung serempak karena dipengaruhi karakteristik cuaca di masing-masing wilayah.
BMKG memprakirakan puncak musim hujan secara nasional terjadi pada periode Januari hingga Februari 2026, sebelum perlahan beralih menuju musim kemarau. Sejumlah wilayah diprediksi masih mengalami hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi.
Di sebagian Pulau Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta Bali dan Nusa Tenggara, curah hujan umumnya berada pada kategori normal, kecuali pada bulan Januari yang diprediksi akan lebih basah.
Setelah periode tersebut, beberapa wilayah seperti Sumatra, pesisir timur Aceh, Sumatra Utara, Riau, dan sebagian Jambi diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Februari 2026.
Informasi Tinggi Gelombang
Selain kondisi hujan, BMKG juga mengeluarkan peringatan gelombang tinggi di perairan Indonesia yang berlaku pada 5 Januari 2026 pukul 07.00 WIB hingga 8 Januari 2026 pukul 07.00 WIB. Tinggi gelombang diprediksi mencapai 1,25 hingga 4,0 meter dan berisiko terhadap keselamatan pelayaran.
Dikutip dari laman Instagram @infobmkg, berikut wilayah yang berpotensi mengalami gelombang tinggi:
1. Gelombang 1,25–2,5 meter:
Selat Malaka bagian utara
Samudra Hindia barat Aceh
Perairan Kepulauan Nias
Samudra Hindia selatan Jawa Tengah
Samudra Hindia selatan DI Yogyakarta
Samudra Hindia selatan Jawa Timur
Samudra Hindia selatan Bali
Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat
Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur
2. Gelombang 2,5–4,0 meter:
Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai
Samudra Hindia barat Bengkulu
Samudra Hindia barat Lampung
Samudra Hindia selatan Banten
Samudra Hindia selatan Jawa Barat
Laut Natuna Utara
Samudra Pasifik utara Maluku
Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya
Laut Arafura bagian tengah dan timur
BMKG mengimbau masyarakat untuk menyesuaikan aktivitas dan perjalanan dengan kondisi cuaca setempat, terutama di wilayah pesisir dan perairan. Informasi cuaca terbaru dapat dipantau melalui aplikasi InfoBMKG, laman resmi bmkg.go.id, serta media sosial @infobmkg.
Baca Juga: Apa Itu Siklon Tropis FINA yang Picu Gelombang Tinggi? Ini Penjelasan BMKG
(ANB)
