Konten dari Pengguna

Kenapa Houthi Terus Menyerang Arab Saudi? Ini Pemicunya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kepulan besar asap hitam membubung dari area penyimpanan bahan bakar di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, Sabtu (19/9/2026). Foto: Stringer/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Kepulan besar asap hitam membubung dari area penyimpanan bahan bakar di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, Sabtu (19/9/2026). Foto: Stringer/REUTERS

Arab Saudi kembali menerima serangan dari kelompok Houthi yang berbasis di Yaman. Sejumlah rudal dan drone terus menyasar ke wilayah kerajaan, termasuk ibu kota Riyadh.

Salah satu serangan terjadi pada Sabtu (10/10/2026) yang menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Dikutip dari Reuters, serangan tersebut menewaskan sedikitnya 13 orang dan menyebabkan lebih dari 300 orang terluka.

Selain menimbulkan korban jiwa dan kerusakan bangunan, serangan tersebut juga mengganggu jadwal penerbangan. Sejumlah penerbangan dilaporkan dibatalkan atau dialihkan.

Lantas, apa yang melatarbelakangi serangan Houthi terhadap Arab Saudi? Mari simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Mengapa Houthi Menyerang Arab Saudi?

Pejuang Houthi berdiri di depan bangkai jet tempur Arab Saudi yang diklaim berhasil ditembak jatuh dalam tangkapan layar dari video rilis media militer Houthi di Yaman, Rabu (16/9/2026). Foto: Houthi Military Media/Reuters

Dikutip dari Al Jazeera dan The Independent, berikut rentetan sejarah konflik Yaman dari awal hingga perkembangannya saat ini:

1. Kekacauan Politik Yaman Setelah Arab Spring

Konflik ini bermula dari gelombang demonstrasi Arab Spring pada 2011 yang menuntut pengunduran diri Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh. Pada akhirnya, ia menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Abdrabbuh Mansour Hadi.

Namun, pemerintahan Hadi menghadapi berbagai persoalan, seperti:

  • Korupsi dan kerawanan pangan.

  • Serangan kelompok militan.

  • Perpecahan di tubuh militer.

  • Ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah.

Kondisi tersebut dimanfaatkan Houthi untuk memperluas pengaruhnya. Kelompok yang secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah ini berasal dari komunitas Zaydi di Yaman utara dan telah lama menentang pemerintah serta pengaruh Arab Saudi di negara tersebut.

2. Houthi Merebut Ibu Kota Yaman

Pada 2014, Houthi memperluas penguasaan wilayahnya hingga memasuki Sanaa, ibu kota Yaman. Perebutan Sanaa pada September 2014 melemahkan pemerintahan Hadi dan memicu konflik bersenjata yang berkembang menjadi perang berkepanjangan.

Perkembangan tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi Arab Saudi, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan negaranya dan berada dekat jalur pelayaran strategis.

3. Arab Saudi Melancarkan Intervensi Militer

Puing-puing jet tempur Arab Saudi yang diklaim kelompok Houthi berhasil ditembak jatuh terlihat dalam tangkapan layar dari video rilis media militer Houthi di Yaman, Rabu (16/9/2026). Foto: Houthi Military Media/Reuters

Pada Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk mendukung pemerintahan Presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi yang diakui secara internasional, sekaligus melawan kelompok pemberontak Houthi. Intervensi ini didukung Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan sejumlah negara lain.

4. Gencatan Senjata Meredakan Ketegangan

Pada 2022, Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi memasuki periode deeskalasi setelah tercapainya gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kesepakatan ini awalnya berlaku selama dua bulan dan membantu mengurangi intensitas pertempuran. Meski begitu, gencatan senjata tidak menyelesaikan seluruh persoalan politik di Yaman, sehingga ketegangan masih berpotensi meningkat kembali.

5. Posisi Strategis Bab el-Mandeb

Selain persoalan politik dan keamanan, letak geografis Yaman juga turut memengaruhi konflik di kawasan. Salah satu wilayah strategis yang menjadi sorotan adalah Selat Bab el-Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Penguasaan wilayah di sekitar selat ini dapat memberi Houthi kemampuan mengganggu lalu lintas kapal, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi Arab Saudi terkait keamanan maritim.

Posisi strategis Bab el-Mandeb penting karena beberapa alasan berikut:

  • Jalur pelayaran internasional: Menghubungkan jalur perdagangan antara Eropa dan Asia.

  • Distribusi energi: Menjadi jalur penting bagi pengiriman minyak dan komoditas energi.

  • Keamanan ekspor minyak: Gangguan di selat ini dapat memengaruhi distribusi minyak Arab Saudi, terutama ketika jalur ekspor lain di kawasan turut mengalami hambatan.

6. Ketegangan Kembali Meningkat

Dalam beberapa bulan terakhir, konflik di Yaman kembali memanas. Kelompok Houthi memperluas pengaruhnya di wilayah pesisir Laut Merah, termasuk kawasan strategis di sekitar Mokha dan Selat Bab el-Mandeb.

Situasi ini turut meningkatkan ketegangan dengan Arab Saudi. Houthi melancarkan sejumlah serangan menggunakan drone dan rudal yang menyasar fasilitas militer, bandara, kota-kota, hingga infrastruktur energi di negara tersebut.

Sebagai respons, Arab Saudi meningkatkan serangan udara terhadap posisi Houthi di Yaman. Kedua pihak pun saling menyalahkan atas meningkatnya eskalasi konflik.

Baca Juga: Saudi Tutup Bandara Riyadh hingga 17 Oktober usai Serangan Houthi

(ANB)