Kenapa Rohingya Diusir dari Negaranya? Ini Kronologinya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berita soal ribuan etnis Rohingya yang terdampar di wilayah Aceh ramai diperbincangkan netizen belakangan ini. Masyarakat yang belum memahami sejarahnya pun bertanya petanyaan kenapa Rohingya diusir dari negaranya
Mengutip laman The UN Refugee Agency, eksodus terbesar Rohingya dimulai pada Agustus 2017. Peristiwa ini dipicu oleh kekerasan dan penindasan yang dilakukan terus-menerus oleh militer Myanmar kepada etnis Rohingya yang tinggal di negara bagian Rakhine.
Mereka memaksa 742.000 orang, termasuk anak-anak dan orang tua, untuk mencari perlindungan di Bangladesh. Pemaksaan tersebut diikuti dengan aksi pembakaran di hampir seluruh desa.
Akibatnya, ribuan keluarga menjadi korban dan terbunuh dalam peristiwa memilukan ini. Untuk mengetahui alasan kenapa Rohingya diusir dari negaranya, simaklah penjelasannya dalam artikel berikut.
Alasan Rohingya Diusir dari Myanmar
Sebenarnya alasan Rohingya diusir dari Myanmar berhubungan dengan sejarahnya. Pada tahun 1948-1989, pemerintah setempat menolak pengakuan kelompok tersebut sebagai bagian dari 135 etnis resmi di Myanmar.
Rohingya dianggap sebagai imigran ilegal dari Bangladesh yang tidak memiliki keterkaitan dengan masyarakat Myanmar. Selama bertahun-tahun, umat Muslim Rohingya pun memiliki hak terbatas untuk status kewarganegaraannya.
Mengutip laman Council on Foreign Relation, pada tahun 2014, pemerintah Myanmar melakukan sensus penduduk pertama dalam 30 tahun terakhir. Dalam sensus ini, kelompok minoritas Muslim dibolehkan untuk mengidentifikasi dirinya sebagai Rohingya.
Namun, kelompok nasionalis Buddha menolak kebijakan tersebut. Mereka pun mengancam akan memboikot sensus yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar.
Karena ancaman tersebut, pemerintah pun memutuskan bahwa etnis Rohingya hanya diperbolehkan mendaftar jika mereka mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Bengali. Secara tidak langsung, keputusan ini menunjukkan sikap diskriminasi terhadap etnis Rohingya.
Bukan tanpa alasan, kelompok nasionalis Buddha berdalih melakukan tindakan diskriminasi ini karena etnis Rohingya yang mulai bermasalah. Pada Mei 2012, beredar foto hasil forensik mengenai pembunuhan terhadap perempuan etnis Rakhine oleh Rohingya.
Pembunuhan ini dilakukan oleh tiga pemuda etnis. Sebagai aksi balasan, pemuka agama dan masyarakat setempat pun membunuh etnis Rohingya.
Peristiwa ini memicu konflik berkepanjangan. Presiden Myanmar, Thein Sein, yang memimpin kala itu memilih untuk mendeportasi Muslim Rohingya dan mengumpulkannya dalam tempat penampungan.
Imbas dari pengusiran ini, sebanyak 140ribu Muslim Rohingya terusir dan 800 orang tidak memiliki kewarganegaraan. Di ranah infrastruktur, sekitar 3 ribu bangunan rusak dan hampir 60 ribu orang kehilangan tempat tinggal.
Muslim Rohingya pun memutuskan untuk bermigrasi dan tinggal di tempat penampungan. Sebagian besar mengungsi ke negara terdekat seperti Bangladesh, Malaysia, Indonesia, dan lainnya.
Saat ini, ribuan pengungsi Rohingya telah berdatangan ke perairan Aceh. Kedatangan mereka yang semula diterima oleh masyarakat setempat kini ditolak mentah-mentah.
Namun, Presiden Joko Widodo menyatakan akan memberikan bantuan kemanusiaan sementara kepada pengungsi Rohingya. Mengutip kumparanNews, Presiden Jokowi masih berkomunikasi dengan organisasi internasional terkait masalah ini.
“Kita masih berbicara dengan organisasi-organisasi internasional, UNHCR dan lain-lain untuk karena memang masyarakat lokal tidak menginginkannya," kata Jokowi.
Baca juga: Sejarah Rohingya Myanmar Beserta Masalah yang Dialami
(MSD)
