Kultum Ramadhan Hari ke-24 tentang Mudik untuk Dijadikan Referensi

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ramadhan telah memasuki hari ke-24. Di masa-masa terakhir bulan suci ini, banyak umat Islam yang mulai mempersiapkan diri untuk mudik ke kampung halaman.
Dalam Islam, mudik bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga mengandung nilai ibadah. Sebab, niat utamanya adalah silaturahmi untuk mempererat hubungan kekeluargaan, berbakti kepada orang tua, dan saling memaafkan.
Keutamaan ini bisa disampaikan penceramah dalam kultum Ramadhan yang lazim dibaca selepas salat wajib, menjelang berbuka, ataupun tarawih. Melalui kultum tersebut, jemaah diharapkan mampu memahami makna dan hikmah di balik perjalanan mudik.
Tak lupa, penceramah juga bisa menyelipkan panduan mudik yang sesuai dengan ketentuan syar'i agar jemaah semakin paham. Bagi yang membutuhkan referensi materi kultum Ramadhan hari ke-24, simak contohnya berikut ini!
Contoh Kultum Ramadhan Hari ke-24
Dihimpun dari buku Syiar Ramadan Perekat Persaudaraan: Materi Kuliah dan Khutbah di Masjid dan Musala selama Ramadan oleh Tim Layanan Syariah Kementrian Agama RI, berikut contoh teks kultum Ramadhan hari ke-24 yang membahas tema mudik:
1. Keutamaan Mudik dalam Islam
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
Hadirin rahimakumullah!
Bangsa kita adalah bangsa yang berbudaya. Berbudaya artinya memiliki berbagai macam tradisi. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, juga memiliki tradisi tahunan yang sangat indah. Tradisi yang dimaksud adalah mudik atau Pulang Kampung. Tradisi ini tentunya dilakukan oleh orang yang bekerja atau kuliah di luar kota kelahiranmnya.
Adapun masyarakat yang tidak pulang kampung, mereka mempersiapkan diri untuk menyambut Hari Raya dengan membuat kue lebaran, baju baru atau ketupat. Terhitung Hari Raya dan beberapa hari setelahnya, mereka saling bersilaturahmi mengunjungi kerabat atau handai taulan.
Mudik merupakan salah satu bentuk silaturahmi. Secara mudah, silaturahmi artinya menyambung tali cinta atau kasih kepada sesama muslim, terutama kepada keluarga inti, kerabat atau handai taulan. Walaupun terkadang mudik harus dilakukan dengan susah payah, misalnya berebutan tiket pesawat, bus atau kereta, bermacet-macetan di jalan, membawa cendramata yang tidak sedikit, membawa peralatan pribadi seperti koper dan lain-lain, tetap saja dilakukan.
Belum lagi jika membawa anak-anak yang masih kecil, tentunya lebih merepotkan. Tapi repot bukanlah halangan bagi mereka. Apa alasannya? Kekuatan cinta dan rindu keluarga, itulah jawabnnya. Cinta mengalahkan segalanya, pepatah tersebut ada benarnya juga, bukan?
Dalam Islam, silaturahmi memiliki keistimewaan dan keutamaan yang besar. Selain memperoleh pahala yang tidak sedikit, fadhilah silaturahmi diantaranya adalah memperbanyak rezeki dan merpanjang usia. Hal ini senagaimana disabsabdakan Rasulullah SAW:
Dari Anas bin Malik RA berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dipanjangkan usianya, hendaklah dia menyambung silaturrahim." (Muttafaq Alaih)
Al-Imam An-Nawawi dalam kitabnya, Al-Minhaj, mengomentari hadis ini bahwa salah satu makna diluaskan rezeki adalah diperbanyak dari segi kuantitas dan juga keberkahan. Artinya, orang yang bersilaturahmi diberikan rezeki yang banyak dan berkah. Adapun makna lain dari dipanjangkan umurnya adalah bertambahnya berkah usia untuk melakukan ketaaatan dan diberikan kekuatan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat baginya untuk bekal kehidupan akhirat.
Dengan kata lain, orang yang bersilaturahmi dimudahkan oleh Allah untuk melakukan ibadah dan dimudahkan dalam mempersipkan kehidupan akhirat.
Rindu kampung halaman atau tanah kelahiran merupakan hal yang manusiawi dan terpuji. Rasulullah SAW sebagai manusia terbaik juga pernah merindukan Mekah, kota dimana beliau dilahirkan, sebagaimana hal ini terekam dalam satu hadis. Rasulullah SAW bersabda:
"Demi Allah, sesungguhnya kamu (kota Makkah) adalah sebaik-baik tanah Allah, dan tanah yang paling dicintai oleh Allah, seandainya aku tidak diusir dari tempatmu, niscaya saya tidak akan keluar (darimu)." (HR. At-Tirmidzi, Ibn Majah, Ad- Darimi dan Ahmad)
Mudik tentu dilakukan karena rindu dengan kampung halaman dan orang tua. Lihatlah bagaimana indahnya ketika mata kita menyaksikan seorang anak yang memeluk erat ayah atau ibunya setelah sekian lama tidak bersua. Air mata haru tak kuasa berlinang dari kedua mata mereka.
Lihatlah ekspresi bahagia tak terkira dari wajah sang kakek dan nenek ketika memeluk cucu-cucu mereka yang baru saja tiba setelah sekian lama tak berjumpa, masya Allah! Rasa lelah karena perjalanan mudik seketika hilang karena kerinduan terbalaskan dengan penuh kebahagian.
Bagi pemudik yang orang tuanya sudah berpulang ke Rahmatullah, tentu berziarah ke makam orang tua tercinta. Dari atas makam, sang anak berdo'a dengan linangan air mata agar Allah SWT memberikan ampunan, meluaskan dan menerangkan kubur ayah bunda. Di saat itulah sang anak terkenang betapa gigihnya perjuangan orang tua dalam membesarkannya.
Terbayanglah betapa besarnya cinta orang tua kepada sang anak. Rabbighfir Lii Wa Liwalidayya Warhamhuma kama Rabbayanii Shghiiraa.
Hadirin rahimakumullah!
Perlu kita ingat bahwa mudik atau pulang kampung merupakan salah satu ladang ibadah. Hindarilah perkara-perkara yang tidak perlu dan mengakibatkan dosa. Apa itu? Tabdzir dan riya'. Tabdzir atau pemborosan merupakan perilaku tercela. Membawa uang banyak tentu boleh, namun pergunakanlah sebaik mungkin di kampung halaman agar ketika kembali bekerja pasca mudik, keuangan kita masih aman terkendali.
Tidaklah sedikit para pemudik yang akirnya banyak hutang setelah kembali dikarenakan kurang bijak dalam menggunakan harta di kampung halaman.
Hadirin rahimakumullah!
Demikian mau’izah singkat yang dapat saya sampaiakan. Kita berdoa semoga saudara-saudara kita yang tahun ini pulang ke kampung halaman diberikan kesehatan oleh Allah, dimudahkan dalam perjalanan dan semua urusan dan dapat kembali pulang dengan selamat dan tetap istiqamah tepat waktu menjalankan kewajiban sebagaimana biasa. Amiin.
Tak lupa saya menyampaiakan permohonan maaf yang setulus-tulusnya jika dalam penyampaian mauizah ini ada beberapa kesalahan dan perkataan yang kurang berkenan dihati. Hadanallah wa iyyakum ajma’in. Wasalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.
2. Ketentuan Boleh Tidak Puasa Ramadhan saat Perjalanan Mudik
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
Hadirin rahimakumullah!
Puasa Ramadhan merupakan kewajiban yang dilakukan secara serentak oleh seluruh mukallaf yang tidak memiliki udzur. Adapun mukallaf dalam kondidi udzur seperti sakit, hamil atau menyusui, tua renta yang sudah tidak kuat puasa atau juga musafir, maka boleh mengambil rukhshakh (dispensasi) untuk tidak brpuasa dengan mekanisme yang telah ditentukan oleh syariat Islam.
Ketika mengambil rukhshah, maka ada kewajiban lain, ada yang harus mengqadha' di hari selain Ramadhan, ada yang hanya mengantinya dengan fidyah saja da nada pula yang harus diganti dengan qadha' dan fidyah sekaligus.
Pada kesempatan ini, insya Allah saya akan fokus membahas dispensasi (rukshshah) bagi musafir untuk tidak berpusa, khususnya saat perjalanan mudik menuju kampung halaman. Mengapa hal ini dirasa sangat penting dibahas?
Jawaban pastinya adalah karena ada sebagian kaum muslimin yang tidak memahami fikih safar secara komprehensif. Contoh konkritnya adalah tidak sedikit para pemudik yang tidak berpuasa hanya semata-mata alasan safar. Padahal tidak semua musafir boleh secara mutlak mengambil dispensasi untuk tidak berpuasa dan meng-qada' di hari lain
Hadirin rahimakumullah!
Sebelum membahas lebih rinci fikih safar di bulan Ramadhan, terlebih dulu kita menyimak dalil tektstual tentang adanya rukhshah bagi musafir untuk tidak berpuasa dan mengqadha’nya di hari lain, sebagai berikut:
"Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain." (Q.S. Al-Baqarah: 184).
Benar sekakali bahwa ayat di atas secara jelas dan tegas membolehkan seorang musafir untuk tidak berpuasa Ramadan namun dia wajib mengganti jumlah hari puasa (qadha') di bulain lainnya. Tapi sebagi muslim yang baik, kita tidak bisa langsung begitu saja menyimpulkan bahwa kebolehan tersebut berlaku mutlak bagi seluruh musafir.
Kita harus mempelajari fikih safar yang diajarkan oleh para ulama agar kita tidak salah menyimpulkan suatu hukum. Bahasan fiqih safar merupakan kesimpulan yang difahami para ulama fiqh mengenai ayat-ayat Al-Qur’an atau hadis-hadis atau juga perkataan para Sahabat Rasulullah RA mengenai hal ini.
Hadirin rahimakumullah!
Baiklah, mari kita bahas mekanisme rukhsah bagi musafir untuk tidak berpuasa Ramadan dan mengqadha' puasa tersebut di hari lain. Setidaknya ada dua referensi primer fiqh madzhab Syafi’i, baik dari kitab klasik dan kotemporer. Yaitu kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab karya Al-Imam An-Nawawi dan Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh, karya As-Syaikh Wahbah Az-Zuhaili.
Hadirin rahimakumullah!
Sekalipun pemudik sudah masuk kriteria boleh untuk tidak puasa, namun tetap dianjurkan untuk berpuasa jika memang mampu melakukannnya. Selamat mudik dan persiapkan fisik, mental dan manajemen keuangan dengan baik. Jangan lupa mengkondisikan rumah sebelum berangkat mudik. Sebaiknya koordinasikan dengan pihak terkait demi kenyamanan dan keamanan rumah kita saat ditinggal mudik. Selamat bertemu dengan keluaga tercinta.
Hadirin rahimakumullah!
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat untuk kita semua. Mohon maaf jika terdapat kesalaha dan kekurangan.
Wal afwu minkum, tsummas salamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Di tengah arus informasi yang semakin cepat dan dinamika kehidupan yang terus bergerak, Ramadan menjadi momen untuk refleksi diri dan kembali pada nilai empati serta kepedulian. Sepanjang bulan suci ini, kumparan hadir dengan beragam program, liputan langsung, dan informasi relevan seputar Ramadan.
Cek informasi selengkapnya di kum.pr/ramadan2026
Baca Juga: 3 Kultum Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar Sebagai Referensi
(NSF)
