Kumpulan Puisi Chairil Anwar yang Legendaris

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Chairil Anwar dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam dunia sastra Indonesia. Karya-karyanya tetap hidup hingga kini, bahkan kerap dibacakan dalam lomba puisi hingga dijadikan materi pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan.
Puisi-puisi Chairil Anwar mengangkat beragam tema, mulai dari percintaan, kematian, hingga pergulatan eksistensial yang kuat dan personal. Tak hanya dikenal di dalam negeri, karya-karyanya juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti Inggris, Jerman, dan Spanyol.
Bagi yang sedang membutuhkan, di bawah ini adalah kumpulan puisi Chairil Anwar penuh makna dan menggugah perasaan.
Kumpulan Puisi Chairil Anwar
Dihimpun dari Antologi Puisi Chairil Anwar: Mampus Kau Dikoyak-koyak Sepi oleh Chairil Anwar, berikut kumpulan puisi Chairil Anwar:
1. Diponegoro
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Keprcayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sesudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditinda
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.
Maju.
Serbu.
Serang
Terjang,
2. Tak Sepadan
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.
Dikutuk-disumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik juga padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
3. Sia-sia
Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah da melati putih;
darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
4. Ajakan
Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruan glegah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepada sama gandengan
Kita jalani ini jalan
Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira-girang
Biar hujan datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi
5. Aku
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binantang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Baca Juga: Kumpulan Puisi Taufiq Ismail yang Sarat Akan Makna
(NSF)
