Konten dari Pengguna

Kumpulan Puisi Chairil Anwar yang Legendaris

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kumpulan puisi Chairil Anwar. Foto: Thought Catalog/Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kumpulan puisi Chairil Anwar. Foto: Thought Catalog/Unsplash

Chairil Anwar dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam dunia sastra Indonesia. Karya-karyanya tetap hidup hingga kini, bahkan kerap dibacakan dalam lomba puisi hingga dijadikan materi pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan.

Puisi-puisi Chairil Anwar mengangkat beragam tema, mulai dari percintaan, kematian, hingga pergulatan eksistensial yang kuat dan personal. Tak hanya dikenal di dalam negeri, karya-karyanya juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti Inggris, Jerman, dan Spanyol.

Bagi yang sedang membutuhkan, di bawah ini adalah kumpulan puisi Chairil Anwar penuh makna dan menggugah perasaan.

Kumpulan Puisi Chairil Anwar

Ilustrasi kumpulan puisi Chairil Anwar. Foto: ooneiroslyl/Unsplash

Dihimpun dari Antologi Puisi Chairil Anwar: Mampus Kau Dikoyak-koyak Sepi oleh Chairil Anwar, berikut kumpulan puisi Chairil Anwar:

1. Diponegoro

Di masa pembangunan ini

tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu

Keprcayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti

Sesudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri

Menyediakan api.

Punah di atas menghamba

Binasa di atas ditinda

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai.

Maju.

Serbu.

Serang

Terjang,

2. Tak Sepadan

Aku kira:

Beginilah nanti jadinya

Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

Dikutuk-disumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik juga padami

Unggunan api ini

Karena kau tidak 'kan apa-apa

Aku terpanggang tinggal rangka

3. Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datang

membawa karangan kembang

Mawar merah da melati putih;

darah dan suci.

Kau tebarkan depanku

serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu

Saling bertanya: Apakah ini?

Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi

Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

4. Ajakan

Ida

Menembus sudah caya

Udara tebal kabut

Kaca hitam lumut

Pecah pencar sekarang

Di ruan glegah lapang

Mari ria lagi

Tujuh belas tahun kembali

Bersepada sama gandengan

Kita jalani ini jalan

Ria bahgia

Tak acuh apa-apa

Gembira-girang

Biar hujan datang

Kita mandi-basahkan diri

Tahu pasti sebentar kering lagi

5. Aku

Kalau sampai waktuku

'Ku mau tak seorang 'kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binantang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Baca Juga: Kumpulan Puisi Taufiq Ismail yang Sarat Akan Makna

(NSF)