Konten dari Pengguna

Kumpulan Puisi Taufiq Ismail yang Sarat Akan Makna

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kumpulan puisi Taufiq Ismail. Foto: Mrika Selimi/Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kumpulan puisi Taufiq Ismail. Foto: Mrika Selimi/Unsplash

Taufiq Ismail merupakan salah satu penyair legendaris Indonesia. Puisinya banyak mengangkat tema perjuangan dan nasionalisme yang merefleksikan kondisi sosial pada masanya.

Meski begitu, ada juga puisi Taufik Ismail yang mengangkat tema tentang kehidupan dan cinta. Tema-tema tersebut membuat karyanya terasa begitu dekat dan relevan bagi berbagai kalangan pembaca.

Hingga kini, puisi Taufiq Ismail masih sering dibacakan dalam berbagai acara sastra dan kebudayaan. Simak artikel ini melihat kumpulan puisi Taufik Ismail!

Kumpulan Puisi Taufiq Ismail

Ilustrasi kumpulan puisi Taufiq Ismail. Foto: Rushaan S/Unsplash

Dihimpun dari buku Antologi Puisi Indonesia Modern Anak-anak oleh Suyono Suyatno, dkk. dan Sajak-sajak Goenawan Mohamad dan Sajak-sajak Taufiq Ismail oleh Dami N. Toda, dkk., berikut kumpulan puisi Taufiq Ismail:

1. Dengan Puisi, Aku

Dengan puisi aku bernyanyi

Sampai senja umurku nanti

Dengan puisi aku bercinta

Berbatas cakrawala

Dengan puisi aku mengenang

Keabadian Yang Akan Datang

Dengan puisi aku menangis

Jarum waktu bila kejam mengiris

Dengan puisi aku mengutuk

Nafas zaman yang busuk

Dengan puisi aku berdoa

Perkenankanlah kiranya.

2. Karangan Bunga

Tiga anak kecil

Dalam langkah malu-malu

Datang ke Salemba

Sore itu

'Ini dari kami bertiga

Pita hitam pada karangan bunga

Sebab kami ikut berduka

Bagi akak yang ditembak mati

Siang tadi.'

3. Depan Sekretariat Negara

Setelah korban diusung

Tergesa-gesa

Ke luar jalanan

Kami semua menyanyi

'Gugur bunga'

Perlahan-lahan

Prajurit ini

Membuka baretnya

Airmata tak tertahan

Di puncak Gayatri

Menunduklah bendera

Di belakangnya segumpal awan.

4. Seorang Tukang Rambutan Pada Istrinya

"Tadi siang ada yang mati,

Dan yang mengantar banyak sekali

Ya, Mahasiswa-mahasiswa itu, Anak-anak sekolah

Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!

Samapi bensin juga turun harganya

Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula

Mereka keehausan dalam panas bukan main

Terbakar muka di atas truk terbuka

Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu

Biarlah sepuluh ikat juga

Memang sudah rezeki mereka

Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan

Seperti anak-anak kecil

"Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutan!"

Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya

Dan ada yang turun dari truk, bu

Mengejar dan menyalami saya

"Hidup pak rambutan!" sorak mereka

Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar

"Hidup pak rambutan!" sorak mereka

"Terima kasih, pak, terima kasih!

Bapak setuju kami, bukan?"

Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara

"Doakan perjuangan kami, pak,"

Mereka naik truk kembali

Masih meneriakkan terima kasih mereka

"Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!"

Saya tersedu, bu. Saya tersedua

Belum pernah seumur hidup

Orang berterima kasih begitu jujurnya

Pada orang kecil seperti kita.

5. Kutahu Kau Kembali Jua Anakku

Saudara-kandungku, pulang, tangannya merah

Kedua pundak landai tiada tulang selangka

Dia tegak goyah, pandangannya pada kami satu-satu

Aku tahu kau kembali jua anakku

Tiba-tiba dia roboh di halaman, dia kami papah

Ibu pun perlahan mengusapi dahinya tegar

Tanganku amis ibu, tanganku berdarah

Aku kembali jua anakku

Siang itu dia tergolek ibu, lekah perutnya

Aku tak membidiknya tapi tanganku bersimbah

Tunduk terbugkuk matanya sangat papa

Kami sama rebah, kupeluk dia di tanah

Kauketuk sendiri ambang dadamu anakku

Usapkan jemari sudah berdarah

Simpan laras bedil yang memerah

Kutahu kau kembali jua anakku

6. Menu Kafetaria Sabtu Pagi

Menu kafetaria Sabtu pagi:

Sepi.

Aku duduk dan minta segelas air es

Dalam hatiku namamu, dan kau tak ada

Orang-orang berbincang dan ketawa

Sebuah dunia oleng dalam kafe ini

Matahari jauh, suara-suara kendara riuh

Sebuah dunia oleh dalam sepi

Aku pun berdiri, menghadap pergi

Ada tiada, seperti terpandang jua

Ketika di luar memancar

Matahari pagi

7. Doa Si Kecil

Tuhan Yang Pemurah

Beri mama kasur tebal

Tuhan Yang Kaya

Belikan ayah pipa yang indah

Amin

Baca Juga: 10 Kumpulan Puisi Chairil Anwar dengan Berbagai Tema

(NSF)