Kumpulan Puisi WS Rendra yang Penuh Makna Kehidupan

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi karya W.S. Rendra memiliki pengaruh besar dalam sastra Indonesia. Penyair bernama lengkap Willibrodus Surendra Broto Rendra ini lahir di Solo pada 7 November 1935.
Sejak usia muda, W.S. Rendra telah aktif menulis dan berkarya. Ia menghasilkan puisi, cerpen, naskah drama, serta esai sastra yang dimuat di berbagai media massa.
Ia kerap dijuluki dijuluki “Burung Merak” karena mengidentikkan dirinya dengan merak jantan yang memamerkan keindahan bulunya. Julukan tersebut juga mencerminkan kepiawaiannya dalam menulis puisi.
Ciri khas puisi-puisi W.S. Rendra terletak pada bahasa yang tegas dan lugas. Setiap karyanya mencerminkan cara pandang yang kritis terhadap persoalan sosial di Indonesia. Di bawah ini beberapa contoh puisi W.S. Rendra yang populer.
Kumpulan Puisi WS Rendra
Berikut ini merupakan kumpulan puisi karya W.S. Rendra yang dihimpun melalui bukunya berjudul Puisi-puisi Cinta dan Doa untuk Anak Cucu yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka.
1. Rambut
Rambut kekasihku
sangat indah dan panjang.
Katanya,
rambut itu untuk menjerat hatiku.
2. Kami Berdua
Karena sekolah kami belum selesai
kami berdua belum dikawinkan.
Tetapi di dalam jiwa
anak-cucu kami sudah banyak.
3. Temperamen
Batu kali
ditimpa terik matahari.
Betapa panasnya!
Ketika malam kembali membenam
kali pun tenteram.
Bulannya sejuk
dan air bernyanyi
tiada henti.
Jika kita marah
pada kekasih
selamanya tak bisa lama.
4. Syair Mata Bayi
Aku merindukan mata bayi
setelah aku dikhianati mata durjana
Aku merindukan matahari
karena aku dikerumuni mata gelap
Aku merindukan mata angin
karena aku disekap oleh mata merah saga
Wahai, mata pisau!
Mata pisau di mana-mana.
Mata batin! Mata batin!
Hadirlah kamu!
Kedalaman yang tak terkira.
Keluasaan yang tak terduga.
Harapan di tengah gebalau ancaman.
5. Rumpun Alang-alang
Engkaulah perempuan terkasih, yang sejenak kulupakan, sayang
Kerna dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang
Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal
Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal
Gelap dan bergoyang ia
dan ia pun berbunga dosa
Engkau tetap yang punya
tapi alang-alang tumbuh di dada.
6. Sagu Ambon
Ombak beralun, o, mamae
Pohon-pohon pala di bukit sakit
Burung-burung nuri menjerit
Daripada membakar masjid
Daripada membakar gereja
Lebih baik kita bakar sagu saja.
Pohon-pohon kelapa berdansa
Gitar dan tifa
Dan suaraku yang merdu
O, ikan
O, taman karang yang bercahaya
O, saudara-saudaraku,
Lihat, mama kita berjongkok di depan kota yang terbakar.
Tanpa kusadari
Laguku jadi sedih, mamae.
Air mata kita menjadi tinta sejarah yang kejam.
Laut sepi tanpa kapal layar.
Bumi meratap dan terluka
Di mana nyanyian anak-anak sekolah?
Di mana selendangmu, nonae?
Di dalam api unggun aku membakar sagu.
Aku lihat permusuhan antara saudara itu percuma,
Luka saudaraku, lukaku juga.
7. Tuhan, Aku Cinta pada-Mu
Aku lemas
tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal.
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar.
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi.
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu
Baca Juga: 10 Kumpulan Puisi Chairil Anwar dengan Berbagai Tema
(SA)
