Konten dari Pengguna

Kumpulan Puisi WS Rendra yang Penuh Makna Kehidupan

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi puisi WS Rendra. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi puisi WS Rendra. Foto: Pexels

Puisi karya W.S. Rendra memiliki pengaruh besar dalam sastra Indonesia. Penyair bernama lengkap Willibrodus Surendra Broto Rendra ini lahir di Solo pada 7 November 1935.

Sejak usia muda, W.S. Rendra telah aktif menulis dan berkarya. Ia menghasilkan puisi, cerpen, naskah drama, serta esai sastra yang dimuat di berbagai media massa.

Ia kerap dijuluki dijuluki “Burung Merak” karena mengidentikkan dirinya dengan merak jantan yang memamerkan keindahan bulunya. Julukan tersebut juga mencerminkan kepiawaiannya dalam menulis puisi.

Ciri khas puisi-puisi W.S. Rendra terletak pada bahasa yang tegas dan lugas. Setiap karyanya mencerminkan cara pandang yang kritis terhadap persoalan sosial di Indonesia. Di bawah ini beberapa contoh puisi W.S. Rendra yang populer.

Kumpulan Puisi WS Rendra

Ilustrasi puisi WS Rendra. Foto: Pexels

Berikut ini merupakan kumpulan puisi karya W.S. Rendra yang dihimpun melalui bukunya berjudul Puisi-puisi Cinta dan Doa untuk Anak Cucu yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka.

1. Rambut

Rambut kekasihku

sangat indah dan panjang.

Katanya,

rambut itu untuk menjerat hatiku.

2. Kami Berdua

Karena sekolah kami belum selesai

kami berdua belum dikawinkan.

Tetapi di dalam jiwa

anak-cucu kami sudah banyak.

3. Temperamen

Batu kali

ditimpa terik matahari.

Betapa panasnya!

Ketika malam kembali membenam

kali pun tenteram.

Bulannya sejuk

dan air bernyanyi

tiada henti.

Jika kita marah

pada kekasih

selamanya tak bisa lama.

4. Syair Mata Bayi

Aku merindukan mata bayi

setelah aku dikhianati mata durjana

Aku merindukan matahari

karena aku dikerumuni mata gelap

Aku merindukan mata angin

karena aku disekap oleh mata merah saga

Wahai, mata pisau!

Mata pisau di mana-mana.

Mata batin! Mata batin!

Hadirlah kamu!

Kedalaman yang tak terkira.

Keluasaan yang tak terduga.

Harapan di tengah gebalau ancaman.

5. Rumpun Alang-alang

Engkaulah perempuan terkasih, yang sejenak kulupakan, sayang

Kerna dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang

Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal

Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal

Gelap dan bergoyang ia

dan ia pun berbunga dosa

Engkau tetap yang punya

tapi alang-alang tumbuh di dada.

6. Sagu Ambon

Ombak beralun, o, mamae

Pohon-pohon pala di bukit sakit

Burung-burung nuri menjerit

Daripada membakar masjid

Daripada membakar gereja

Lebih baik kita bakar sagu saja.

Pohon-pohon kelapa berdansa

Gitar dan tifa

Dan suaraku yang merdu

O, ikan

O, taman karang yang bercahaya

O, saudara-saudaraku,

Lihat, mama kita berjongkok di depan kota yang terbakar.

Tanpa kusadari

Laguku jadi sedih, mamae.

Air mata kita menjadi tinta sejarah yang kejam.

Laut sepi tanpa kapal layar.

Bumi meratap dan terluka

Di mana nyanyian anak-anak sekolah?

Di mana selendangmu, nonae?

Di dalam api unggun aku membakar sagu.

Aku lihat permusuhan antara saudara itu percuma,

Luka saudaraku, lukaku juga.

7. Tuhan, Aku Cinta pada-Mu

Aku lemas

tapi berdaya

Aku tidak sambat rasa sakit

atau gatal.

Aku pengin makan tajin

Aku tidak pernah sesak nafas

tapi tubuhku tidak memuaskan

untuk punya posisi yang ideal dan wajar.

Aku pengin membersihkan tubuhku

dari racun kimiawi.

Aku ingin kembali pada jalan alam

Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Baca Juga: 10 Kumpulan Puisi Chairil Anwar dengan Berbagai Tema

(SA)