Konten dari Pengguna

Makna dan Hakikat Qurban yang Perlu Dipahami Umat Muslim

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kambing kurban. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kambing kurban. Foto: Unsplash.

Qurban atau al udhiyyah merupakan amalan utama yang dapat dikerjakan di bulan Dzulhijjah. Syarat, rukun, serta hakikat qurban sangat penting untuk dipahami umat Muslim agar dapat mengerjakannya dengan benar.

Ketentuan waktu dan tata cara berqurban telah dijelaskan dalam Alquran. Qurban dilakukan dengan menyembelih hewan ternak pada Idul Adha (10 Dzulhijjah) atau pada hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Hewan yang diperbolehkan adalah kambing, domba, unta, kerbau, dan sapi.

Selain mengetahui ketentuan qurban secara syar’i, umat Muslim juga wajib memahami hakikat berqurban agar dapat mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Lantas, apa makna dan hakikat qurban?

Makna dan Hakikat Qurban

Ilustrasi kambing kurban. Foto: Unsplash.

Allah SWT telah mensyariatkan penyembelihan hewan atau qurban kepada setiap umat manusia. Tujuan qurban adalah berserah diri kepada Allah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim As.

Suatu hari Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu untuk menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail As, melalui mimpi. Nabi Ibrahim awalnya bimbang dan berat hati untuk melakukan perintah tersebut.

Dia pun bermunajat kepada Allah agar diberikan petunjuk. Setelah berdoa, ia kembali memimpikan hal yang sama hingga tiga kali berturut-turut.

Nabi Ibrahim akhirnya menceritakan mimpinya kepada putranya. Bukannya marah, Ismail justru meminta sang ayah untuk segera melaksanakan perintah Allah SWT.

Mendengar jawaban Ismail, Nabi Ibrahim semakin sedih dan tak kuasa menahan tangis. Meski begitu, dia tetap menjalankan perintah Allah dan membawa Ismail ke Mina untuk disembelih.

Keajaiban terjadi saat pisau tajam yang digunakan Nabi Ibrahim tidak mempan menyayat leher Ismail. Kemudian, Allah SWT menukar tubuh Ismail dengan seekor kambing sebagai balasan atas ketakwaan Nabi Ibrahim.

Dari kisah tersebut, dapat disimpulkan bahwa hakikat qurban adalah rasa tunduk kepada Allah SWT. Siapa pun yang mengerjakan amalan tersebut akan masuk dalam golongan orang-orang yang bertakwa, yang bersungguh-sungguh mengabdi kepada Allah, yang rela mengorbankan harta, pikiran, tenaga, bahkan nyawanya sendiri.

Dalam Alquran Surat Al Hajj ayat 37, Allah SWT berjanji akan mengganjar orang-orang yang bertakwa dengan pahala dan nikmat yang tak terhingga.

لَنۡ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُـوۡمُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلٰـكِنۡ يَّنَالُهُ التَّقۡوٰى مِنۡكُمۡ​ؕ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَـكُمۡ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمۡ​ؕ وَبَشِّرِ الۡمُحۡسِنِيۡنَ‏ ٣٧

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Baca Juga: Umur Minimal Hewan Kurban Kambing dan Ketentuannya Menurut Syariat

(GLW)