Makna Hari Raya Galungan dan Tradisi Perayaannya di Indonesia

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada banyak perayaan hari besar bagi umat Hindu, salah satunya Hari Raya Galungan. Hari Raya Galungan tahun ini jatuh pada hari ini, Rabu (10/11).
Merujuk situs resmi Pemerintah Kabupaten Buleleng, Hari Raya Galungan adalah hari di mana umat Hindu memperingati terciptanya seluruh alam semesta beserta isinya. Selain itu, Hari Raya Galungan juga dimaksudkan untuk merayakan kemenangan kebaikan (dharma) melawan kebathilan (adharma).
Lalu, apa makna Hari Raya Galungan bagi umat Hindu?
Makna Hari Raya Galungan
Menurut Antonius Atoshoki dkk dalam buku Relasi Dengan Tuhan, Hari Raya Galungan dimaknai sebagai kemenangan dharma melawan adharma, lalu keduanya bersatu menjadi kekuatan rohani untuk menenangkan pikiran.
Artinya, jika manusia berhasil melawan hawa nafsu, akan membawa kebenaran dalam hidup. Mengutip situs resmi Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, hawa nafsu dalam diri manusia dikenal dengan nama Kalatiga, yakni:
Kala Amangkurat, yakni nafsu yang selalu ingin berkuasa, ingin menguasai segala keinginan secara batiniah dan nafsu ingin memerintah bila tidak terkendali tumbuh menjadi nafsu serakah untuk mempertahankan kekuasaan sekalipun menyimpang dari kebenaran.
Kala Dungulan, yang berarti segala nafsu untuk mengalahkan semua yang dikuasai oleh teman kita atau orang lain.
Kala Galungan, yakni nafsu untuk menang dengan berbagai dalih dan cara yang tidak sesuai dengan norma maupun etika agama.
Tradisi Perayaan Hari Raya Galungan di Indonesia
Diterangkan dalam buku Pendidikan Toleransi Sasak Muslim Bali Hindu di Kota Mataram oleh Lalu Khothibul Umam, berdasarkan penanggalan Bali-Jawa (Javano-Balinese Calender) Hari Raya Galungan ini dilaksanakan tepat pada Budha Kliwon Wuku Dungulan atau setiap tujuh bulan sekali dalam kalender masehi.
Dalam merayakan Hari Raya Galungan, umat Hindu di Indonesia biasanya memasang Penjor sehari sebelumnya. Penjor adalah simbol dari Naga Basukih, di mana Basukih memiliki arti kemakmuran atau kesejahteraan.
Memasang Penjor pada Hari Raya Galungan dimaksudkan sebagai bentuk wujud rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa atas segala kemakmuran dan kesejahteraan yang telah diberikan-Nya.
Menukil buku Agama Hindu terbitan Ganeca Exact, umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Galungan dengan bersembahyang di Pantai Padanggalak, Denpasar. Mereka juga akan mengenakan pakaian adat yang didominasi dengan warna putih sambil membawa sesaji di atas kepala mereka.
Pelaksanaan Hari Raya Galungan di Bali juga disebut sebagai hari pawedalan jagat atau otonan gumi. Hal ini dikarenakan masyarakat Bali menyambut Hari Raya Galungan dengan suasana yang meriah dan ramai dibangkan daerah lainnya.
Selain itu, Hari Raya Galungan juga akan lebih meriah apabila jatuh bertepatan dengan hari purnama yang disebut dengan Hari Raya Galungan Nadi.
Ciri-ciri Hari Raya Galungan Nadi adalah pada bagian bawah Penjor akan dikerik bersih dan bagian atas diisi dengan gerincingan (gongseng) agar dapat berbunyi ngrincing kalau diterpa angin, sehingga menimbulkan suara yang ramai dan meriah dibandingkan dengan Hari Raya Galungan biasa.
(NDA)
