Makna Warna Segehan dan Tempatnya Menurut Tradisi Masyarakat Bali

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam tradisi Bali, setiap unsur upacara adat memiliki makna simbolis yang dalam, termasuk warna segehan dan tempatnya. Segehan sendiri adalah bentuk persembahan sederhana yang biasanya berisi nasi, garam, dan sesajen kecil lainnya.
Segehan biasa ditempatkan di titik-titik tertentu sesuai dengan warna dan arah mata angin. Warna-warna pada segehan tidak dipilih sembarangan, melainkan mencerminkan kekuatan spiritual yang dihormati dalam ajaran Hindu Bali.
Untuk memahami maknanya secara utuh, masyarakat Hindu Bali perlu mengetahui di mana segehan diletakkan. Sebab, setiap arah dan warnanya memiliki filosofi yang berbeda-beda.
Warna Segehan dan Tempatnya
Warna pada segehan memiliki makna khusus dan ditempatkan pada lokasi tertentu sesuai fungsinya. Mengutip buku Kearifan Lokal Bali karya Igna Wijaya, berikut adalah penjelasan dari beberapa jenis segehan beserta warna dan penempatannya:
1. Segehan Kepel Putih
Ini merupakan segehan yang paling sederhana. Segehan kepel putih menggunakan nasi putih saja dan biasanya dihaturkan setiap hari di berbagai tempat sebagai bentuk persembahan harian.
2. Segehan Putih Kuning
Segehan ini mirip dengan segehan putih, namun salah satu nasinya diganti menjadi warna kuning. Biasanya dihaturkan di bawah pelinggih atau tempat suci lainnya sebagai bentuk penghormatan dan permohonan keselamatan.
3. Segehan Kepel Warna Lima (Manca Warna)
Segehan ini terdiri dari lima warna nasi, yaitu putih, merah, kuning, hitam, dan brumbun (gabungan empat warna). Peletakan tiap warna tersebut disesuaikan dengan arah mata angin yang berbeda. Berikut rinciannya:
Hitam ditempatkan di Utara
Putih ditempatkan di Timur
Merah ditempatkan di Selatan
Kuning ditempatkan di Barat
Brumbun ditempatkan di Tengah sebagai pusat atau pancer
Segehan manca warna ini biasanya dihaturkan di tempat-tempat tertentu seperti pintu masuk pekarangan (lebuh pemedal) atau di perempatan jalan, sebagai bentuk perlindungan dan penjagaan dari energi-energi negatif yang berasal dari berbagai arah.
Warna dan tempat segehan ini mencerminkan keseimbangan alam dan penghormatan kepada penjaga arah mata angin dalam kepercayaan Hindu Bali.
Baca Juga: Segehan Agung untuk Nyepi dan Peletakannya di Rumah
Fungsi Segehan
Dalam buku Ensiklopedi Upakara: Edisi Lengkap karya I Nyoman jati dan Ni Komang Sutriyanti dijelaskan bahwa segehan berfungsi sebagai bentuk persembahan sederhana dalam ajaran Hindu Bali. Persembahan ini menjadi simbol harmonisasi antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual tak kasat mata.
Segehan dianggap sebagai bentuk paling dasar dari caru, yaitu upacara penyucian dan penyeimbangan energi di alam semesta. Tujuan utama segehan adalah memohon perlindungan kepada Sang Hyang Widhi agar kehidupan umat manusia terbebas dari gangguan, baik yang tampak (sekala) maupun yang tidak tampak (niskala), terutama dari gangguan para bhuta kala atau makhluk halus.
Setelah kegiatan memasak, umat biasanya menghaturkan segehan cacahan atau yang dikenal juga sebagai jotan atau yadnya sesa. Bentuknya berupa nasi yang tidak dikepel atau tidak dibuat tumpeng.
Segehan ini ditujukan kepada Sang Hyang Panca Maha Bhuta, lima unsur alam semesta yang diyakini menyusun bahan makanan seperti nasi, sayur, lauk, dan lainnya.
(SAI)
