Konten dari Pengguna

Manfaat dan Tata Cara Puasa Mutih, Tradisi Masyarakat Jawa Kuno

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 5 menit

clock
comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi beras. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi beras. Foto: Unsplash

Puasa mutih merupakan salah satu tradisi masyarakat Jawa Kuno. Biasanya, tradisi ini dilakukan oleh penganut ajaran kejawen untuk mendapatkan kekuatan ghaib atau supranatural, keberhasilan hajat, dan lainnya.

Puasa mutih berasal dari istilah Jawa, di mana kata mutih diartikan sebagai memutihkan. Sementara, jika dilihat dari segi filosofis, tradisi ini dimaknai sebagai pemutih hati, membersihkan jiwa, dan memberi berkah.

Agar semakin paham mengenai puasa mutih hingga hukum melaksanakannya dalam pandangan Islam, simak penjelasannya dalam ulasan artikel ini.

Apa Itu Puasa Mutih?

Dikutip dari buku Mistrik dan Makrifat Sunan Kalijaga yang ditulis oleh Achmad Chodjim, puasa mutih merupakan puasa yang dilakukan dengan menghindari makanan dan minum selain yang berwarna putih.

Puasa ini dilakukan dengan berpantang makan dan minum apa saja, kecuali nasi putih dan air putih. Misalkan hanya makan nasi putih tanpa lauk, minum air putih, susu, telur, gula pasir, dan lain sebagainya. Tradisi ini juga melarang konsumsi gula, garam, dan jenis bumbu lainnya.

Ilustrasi beras. Foto: Pixabay

Puasa ini biasanya dilakukan dalam waktu seminggu hingga 40 hari. Kendati demikian, sejumlah pakar kesehatan tidak menyarankan puasa selama 40 hari.

Sebab, hal tersebut dapat membuat tubuh kekurangan protein dan mengalami penurunan fungsi. Sebaiknya, tradisi ini diterapkan dalam waktu seminggu.

Ketika bangun waktu subuh, dianjurkan juga membaca kidung yang disertai sabar dan syukur. Ini bertujuan agar tercapainya kehendak dan timbulnya daya dari Allah SWT.

Berikut doa yang dibacakan pada pagi dan petang sebanyak tiga kali untuk membebaskan diri dari hutang:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِالرِّجَالِ

Artinya: “Ya Allah, saya berlindung kepada Engkau dari kesusahan dan kesedihan, saya berlindung kepada Engkau dari kelemahan dan kemalasan, saya berlindung kepada Engkau dari kepengecutan dan kekikiran, dan saya berlindung kepada Engkau dari himpitan hutang dan paksaan orang.

Apa Fungsi Puasa Mutih?

Puasa mutih kerap kali dijalankan oleh calon pengantin, baik wanita ataupun pria, dalam tradisi pengantin Jawa. Fungsi dari pelaksanaan puasa mutih bagi pengantin Jawa, yaitu akan dipenuhi dengan kesabaran, keuletan, pantang menyerah, dan rasa syukur yang tertanam dalam hati masing-masing calon pengantin.

Puasa mutih juga sebaiknya dilakukan ketika dalam keadaan senggang dengan memanfaatkan kesempatan sebelum datangnya kesempitan.

Itulah yang disebut laku tirakat dalam khazanah Islam Jawa. Tirakat sendiri berasal dari kata thariqah, tarekat. Kidung tersebut juga dimaksudkan untuk membebaskan diri dari jeratan utang.

Apa Dampak Puasa Mutih?

Ilustrasi air putih. Foto: Pixabay

Puasa mutih juga bisa dilakukan tanpa perlu menjadi seorang calon pengantin. Jika dilakukan dengan benar, puasa ini dapat mendatangkan sejumlah manfaat untuk tubuh dan jiwa.

Dikutip dari buku Ilmu kanuragan di pondok pesantren Rohmtul Ummah Assalafy, Jekulo, Kudus oleh Mukhamad Rizka, berikut adalah manfaat melakukan puasa mutih:

  • Membersihkan racun dalam tubuh.

  • Mengurangi asupan lemak.

  • Mengurangi kadar gula dan garam dalam tubuh.

  • Memberi kekuatan supranatural.

  • Membuka kemampuan indera keenam.

  • Menjamin kesuksesan sebelum hajatan besar.

Melindungi diri dari santet atau guna-guna.

Apa Hukum Puasa Mutih dalam Islam?

Merujuk buku Tanya Jawab Islam: Piss KTB oleh PISS KTB, TIM Dakwah Pesantren, setiap puasa yang dilakukan sesuai dengan hukum syara' yang tidak tuntunan pelaksanaannya, masuk dalam kategori puasa sunah mutlak, dan niatnya adalah puasa mutlak.

Dengan demikian, selama pelaksanaan puasa tersebut tidak mengandung hal-hal yang dilarang dalam agama, maka hukum melaksanakan puasa mutih termasuk sunah mutlak.

Ilustrasi beras. Foto: Pixabay

Hal ini sesuai dengan hadis berikut ini:

"Dalam puasa sunah mutlak (yang tidak terkait dengan puasa wajib dan sunah), cara niatnya cukup dengan niat yang mutlak (umum), sebagaimana niat pada salat sunah mutlak.

Meskipun letak niatnya sebelum dzuhur, dan tidak boleh setelah dzuhur. Karena Rasulullah SAW suatu hari berkata pada Aisyah: Apa ada sarapan pagi? Aisyah menjawab: Tidak ada. Nabi berkata: Kalau begitu saya puasa.

Aisyah menyebutkan: Suatu hari yang lain Nabi bertanya pada saya: Apa ada sarapan pagi? Saya menjawab: Ada. Nabi berkata: Kalau begitu saya tidak puasa, meski saya perkirakan berpuasa."

Selain itu, puasa mutih juga bukan termasuk ke dalam jenis puasa wishal atau puasa yang dilarang. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

"Janganlah kalian melakukan puasa wishal. Barangsiapa diantara kalian ingin melakukan wishal, maka lakukanlah hingga waktu sahur (sehari semalam). Para sahabat bertanya: Anda juga melakukan wishal, wahai Rasul? Rasul menjawab: Saya tidak sama dengan kalian. Di saat malam, ada yang memberi makan dan minum kepada saya." (HR. Bukhari).

Bagaimana Niat Puasa Mutih?

Berbeda halnya dengan puasa wajib atau sunah dalam Islam. Terdapat beberapa tata cara khusus yang harus diterapkan untuk menjalani puasa mutih.

Sebelum menjalankan puasa mutih sebaiknya tentukan waktu pelaksanaannya terlebih dahulu, baik selama 3 hari berturut-turut ataupun maksimal hingga 40 hari, sesuai dengan bimbingan guru ataupun sesepuh.

Puasa mutih biasanya dilaksanakan mulai pukul 18.00 hingga diakhiri pada 18.00 keesokan harinya. Selain itu, puasa mutih juga dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:

  1. Masih diperbolehkan makan dan minum beberapa kali sehari, sesuai waktu makan namun tetap hanya jenis makanan berwarna putih saja.

  2. Puasa mutih dilakukan dengan hanya satu kali makan saat berbuka puasa dan dilanjutkan hingga bangun tidur di hari kedua lalu kembali makan atau minum hanya jenis makanan berwarna putih saja.

Niat puasa mutih juga tidak perlu dilakukan dengan bahasa Arab. Sebab, puasa ini merupakan tradisi dari masyarakat Jawa, bukan Arab. Meski begitu, bagi yang ingin menggunakan bahasa Arab untuk tradisi ini juga diperbolehkan.

Adapun bacaan niat puasa mutih tersebut, seperti dihimpun dari buku Mengenal Agama Manusia: Mempelajari dan Memahami Agama-agama Manusia Untuk Menciptakan Ketentraman dan Rasa Solidaritas oleh Jonar Situmorang, adalah sebagai berikut:

Niat ingsun puasa mutih supaya putih bathinku, putih badanku, putih kaya dining banyu suci kerana Allah Ta'ala.

Artinya: "Saya niat puasa Mutih supaya putih batinku, putih badanku, putih seperti air suci karena Allah Ta'la."

(GTT & NDA)

Frequently Asked Question Section

Apa fungsi puasa mutih?

chevron-down

Fungsi dari pelaksanaan puasa mutih bagi pengantin Jawa, yaitu akan dipenuhi dengan kesabaran, keuletan, pantang menyerah, dan rasa syukur yang tertanam dalam hati masing-masing calon pengantin.

Puasa mutih itu gimana?

chevron-down

Puasa ini dilakukan dengan berpantang makan dan minum apa saja, kecuali nasi putih dan air putih. Misalkan hanya makan nasi putih tanpa lauk, minum air putih, susu, telur, gula pasir, dan lain sebagainya. Tradisi ini juga melarang konsumsi gula, garam, dan jenis bumbu lainnya.

Bagaimana niat puasa mutih?

chevron-down

Niat ingsun puasa mutih supaya putih bathinku, putih badanku, putih kaya dining banyu suci kerana Allah Ta'ala. Artinya: "Saya niat puasa Mutih supaya putih batinku, putih badanku, putih seperti air suci karena Allah Ta'la."