Masjid yang Pertama Kali Dibangun Nabi di Madinah dan Fungsinya bagi Umat Islam

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembangunan masjid merupakan salah satu usaha dakwah dari Nabi Muhammad SAW di Madinah. Beliau hijrah ke Madinah setelah mendapatkan banyak tentangan dari kaum Quraisy di Makkah.
Peristiwa hijrah menjadi lembaran baru dalam usaha Nabi Muhammad SAW untuk menyebarkan agama Islam. Kehadiran Nabi dan umat Islam di Madinah disambut gembira oleh penduduk dengan pujian.
Mengutip buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah Kelas VII karangan H. Fida' A. & Yusak B., setelah berjalan selama tujuh hari, Nabi Muhammad SAW tiba di Quba (dekat Madinah) pada Senin, 20 September 622 M dan membangun masjid pertama yang diberi nama Masjid Quba.
Kisah pembangunan masjid ini tercantum dalam surat At-Taubah ayat 108 berikut.
لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا۟ ۚ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُطَّهِّرِينَ
Artinya: “Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.”
Masjid yang Pertama Kali Dibangun Nabi di Madinah
Setelah singgah di Quba, pada Jumat, 24 September 622 M, Nabi Muhammad SAW menuju Madinah. Merujuk pada buku Pendidikan Agama Islam: Sejarah Kebudayaan Islam Untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas VII karangan Dr. H. Murodi, MA., masjid yang pertama kali dibangun Nabi di Madinah adalah Masjid Nabawi.
Masjid Nabawi dibangun pada bulan Rabiul Awal tahun 1 Hijriah (September 622 M). Masjid ini didirikan pada sebuah tanah yang dibeli Nabi dari dua anak yatim, yakni Sahl dan Suhail, anak dari Nafi’ bin Umar bin Tsa’labah, dari Bani Najjar, yang diasuh As’ad bin Zurarah.
Masjid Nabawi dibangun selama 12 hari dengan ukuran 31,5 x 27 meter dan tinggi 2,5 meter. Akan tetapi karena jumlah jamaah yang semakin banyak, masjid ini diperluas menjadi 45x45 meter dengan tinggi 3 meter. Pada awalnya, fondasi bangunan Masjid Nabawi terbuat dari batu-batu keras, dindingnya dari batu bata, dan atapnya terbuat pelepah pohon kurma.
Fungsi Masjid Nabawi
Masjid Nabawi tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah dan dakwah, namun juga memiliki peranan penting dalam kehidupan pada saat itu. Rizqullah dan Quraish Shihab dalam buku Pendidikan Agama Islam: Sejarah Kebudayaan Islam Untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas VII karangan Dr. H. Murodi, MA. menyebutkan fungsi Masjid Nabawi pada masa Nabi Muhammad SAW adalah sebagai berikut:
Menampung umat Muslim yang lemah, miskin, dan belum memiliki tempat tinggal khusus. Mereka yang tinggal di penampungan ini disebut ahl al-shuffah.
Menampung perempuan yang baru masuk Islam dan belum memiliki tempat tinggal di Madinah.
Tempat untuk mengajarkan ilmu agama pada kaum muslimin.
Tempat tahanan para tawanan perang, dengan tujuan agar mereka masuk Islam.
Pusat pelayanan kesehatan, seperti mengobati umat Islam yang terluka saat perang.
Tempat menerima tamu utusan dari negara lain yang akan menemui Nabi Muhammad SAW.
Tempat musyawarah dan pertemuan umat Islam dengan pemimpinnya untuk mengatur strategi politik dan lain sebagainya.
(DND)
