Memahami Arti Peribahasa Buruk Muka Cermin Dibelah

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Buruk muka cermin dibelah adalah salah satu peribahasa yang mengandung makna negatif. Peribahasa ini merujuk pada perbuatan seseorang yang menyalahkan orang lain atas perbuatannya.
Menurut KBBI, peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu (dalam peribahasa termasuk juga bidal, ungkapan, perumpamaan).
Peribahasa buruk muka cermin dibelah digunakan untuk mengumpamakan perilaku buruk seseorang. Lantas apa arti peribahasa buruk muka cermin dibelah? Berikut penjelasannya.
Arti Peribahasa Buruk Muka Cermin Dibelah
Mengutip buku Peribahasa & Pantun Indonesia terbitan Redaksi Indonesia Cerdas, arti peribahasa "Buruk muka cermin dibelah" adalah menyalahkan orang atau hal lain tanpa memikirkan kesalahan diri sendiri.
Artinya, kadang-kadang orang yang merasa tidak baik dengan dirinya sendiri suka menyalahkan orang lain atau situasi sebagai alasan untuk tidak mau mengakui kesalahan atau masalah yang sebenarnya dari diri mereka sendiri.
Jadi, ketika seseorang melakukan kesalahan atau tindakan yang tidak benar, mereka kerap menyalahkan orang lain atau situasi sebagai cara untuk menghindari tanggung jawab atas kesalahan atau masalah yang sebenarnya mereka buat sendiri.
Baca Juga: Arti Peribahasa Bagai Air dengan Minyak dan Ungkapan Lain Bermakna Serupa
Contoh Peribahasa Lainnya
Selain peribahasa "Buruk muka cermin dibelah", terdapat beberapa peribahasa lainnya yang biasa digunakan. Dirangkum dari buku 10.000 Pribahasa Asli Indonesia untuk SD, SMP, SMA dan UMUM karya Djamaludin Nadra dan Rini Widayanti, berikut beberapa contoh peribahasa dan artinya:
Air cucuran atap jatuh ke pelimbahan juga: Setiap perbuatan baik atau buruk akan membuahkan hasil pada akhirnya.
Seperti kutu dalam beras: Orang yang selalu menyusahkan atau merugikan orang lain.
Bagaikan pinang dibelah dua: Kondisi atau situasi yang saling menguntungkan kedua belah pihak.
Bagai aur dengan tebing: Bersahabat baik dan saling mendukung satu sama lain.
Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan terasa: Masalah kecil yang diabaikan bisa menjadi besar, dan jarak bukanlah penghalang untuk merasakannya.
Langit tidak pernah mendung sebelah: Nasib baik dan buruk selalu datang bersamaan.
Malu bertanya sesat di jalan: Jangan ragu untuk bertanya jika Anda tidak tahu, agar tidak tersesat atau membuat kesalahan.
Seperti kacang lupa kulitnya: Seseorang yang lupa akan bantuan atau budi baik yang pernah diterimanya.
Ada gula ada semut: Dimana ada sesuatu yang manis, pasti akan ada yang menarik perhatian atau mengganggu.
Bagai anjing dengan kucing: Saling bermusuhan atau tidak dapat bekerja sama.
Tak ada gading yang tak retak: Tidak ada yang sempurna di dunia ini, setiap orang atau hal pasti memiliki kelemahan.
Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri: Lebih baik menghargai apa yang dimiliki sendiri daripada iri terhadap milik orang lain.
(SAI)
