Memahami Arti Peribahasa Jangan Menilai Buku dari Sampulnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Jangan menilai buku dari sampulnya" adalah salah satu peribahasa yang sering digunakan oleh orang-orang. Agar tidak salah dalam memaknainya, arti peribahasa "Jangan menilai buku dari sampulnya" perlu dipahami.
Menurut KBBI, peribahasa adalah ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku. Ini juga dapat diartikan sebagai kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya yang biasanya mengiaskan maksud tertentu.
Sama halnya dengan peribahasa lainnya, peribahasa "Jangan menilai buku dari sampulnya" memiliki makna tersendiri. Lantas, apa arti peribahasa "Jangan menilai buku dari sampulnya"? Untuk mengetahuinya, simak penjelasan di bawah ini.
Arti Peribahasa Jangan Menilai Buku dari Sampulnya
Disadur dari buku Dongeng Hewan Laut Plus Fakta Unik & Pribahasa oleh Liza Erfiana dan Fery Lorena Yanni, "Jangan menilai buku dari sampulnya" adalah peribahasa yang memiliki arti "jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya."
Sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, peribahasa menggunakan kata-kata tertentu sebagai kiasan. Dalam peribahasa ini, "buku" adalah objek yang dijadikan sebagai penggambaran objek "manusia" atau "orang lain". Kata "sampul" sendiri merupakan kiasan dari kata "penampilan" yang hanya tampak dari luar.
Menurut peribahasa ini, isi atau apa yang berada di dalam seseorang/ sesuatu mungkin lebih dalam daripada yang terlihat pada awalnya. Peribahasa ini sering digunakan untuk mengingatkan agar seseorang tidak terlalu cepat membuat penilaian atau kesimpulan hanya berdasarkan penampilan fisik atau tampilan luar suatu objek.
Contoh pemaknaan peribahasa ini adalah buku. Sebuah buku bisa saja memiliki sampul yang sederhana atau kurang menarik secara visual, tetapi isinya bisa jauh lebih berharga dan bernilai.
Begitu pula dengan manusia atau suatu situasi, penampilan luar mungkin tidak mencerminkan sepenuhnya nilai sebenarnya. Seseorang yang tampak sederhana atau kurang menarik dari segi fisik ternyata memiliki kecerdasan, kebaikan hati, atau bakat yang luar biasa.
Baca Juga: Arti Peribahasa Bagai Air dengan Minyak dan Ungkapan Lain Bermakna Serupa
Contoh Peribahasa Lainnya
Peribahasa adalah kalimat yang mengiaskan maksud tertentu, yang dapat berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku. Peribahasa sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, khususnya untuk memberikan nasihat atau teguran pada orang lain secara halus.
Mengutip buku Bahasa Indonesia Kelas 3 SD/MI karya Christina Margiyati, dkk, selain "Jangan menilai buku dari sampulnya", ada beberapa peribahasa yang juga kerap digunakan dalam percakapan sehari-hari, di antaranya:
"Ada asap ada api": Setiap masalah pasti punya penyebab.
"Ada air, ada ikan": Di setiap tempat pasti ada peluang atau rezeki.
"Ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang": Berbuat baik hanya jika punya banyak harta.
"Ada udang di balik batu": Ada maksud tersembunyi.
"Ada gula, ada semut": Di tempat menyenangkan pasti ada keramaian.
"Besar pasak daripada tiang": Pendapatan tak sebanding dengan pengeluaran.
"Nasi sudah menjadi bubur": Keputusan yang sudah diambil tidak bisa diperbaiki.
(SAI)
