Memahami Arti Wahyu Keprabon dan Hubungannya dengan Kepemimpinan

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam masyarakat Jawa, istilah wahyu keprabon digunakan untuk menjelaskan takdir seorang pemimpin kota atau negara. Wahyu keprabon artinya semacam restu leluhur kepada seseorang untuk menduduki tampuk kepemimpinan.
Berbicara soal kepemimpinan, Indonesia baru saja menggelar Pemilu Serentak 2024. Saat ini, proses penghitungan suara masing-masing capres dan cawapres masih berlangsung. Dengan kata lain, belum ada presiden dan wakil presiden baru yang resmi.
Rekapitulasi hasil suaralah yang akan menentukan paslon mana yang akan menjadi pemimpin Indonesia selanjutnya. Namun, dalam pemahaman masyarakat Jawa, faktor wahyu keprabon turut memengaruhi kedudukan paslon.
Apa Itu Wahyu Keprabon?
Dalam buku Dharmaning Satriya oleh Wawan Susetya dijelaskan bahwa wahyu keprabon artinya semacam restu atau pengakuan alam terhadap calon pemimpin yang diisyaratkan dengan sejumlah tanda tertentu.
Jika seorang calon pemimpin tidak memiliki wahyu keprabon, maka sangat kecil kemungkinan ia bisa menjadi pemimpin meskipun telah berusaha keras. Tanpa wahyu keprabon, artinya dia juga tidak memiliki izin dari Tuhan.
Masyarakat Jawa memang menganggap bahwa kekuasaan dan kepemimpinan selalu berkaitan dengan spiritualitas. Jadi, jika seseorang ingin menduduki jabatan pemimpin, maka mendapatkan kepercayaan rakyat saja tidak cukup. Ia harus berusaha untuk mendapat kepercayaan dari para leluhur juga.
Keyakinan masyarakan Jawa ini sudah berlangsung sejak zaman dahulu. Al Sugeng Wiyono dalam buku Belajar Spiritual Bersama "The thinking general" menjelaskan bahwa penguasa keraton di masa lampau selalu dinaungi oleh wahyu keprabon.
Jika ingin menjadi pemimpin keraton, maka orang tersebut harus memburu wahyu keprabon dengan melakukan berbagai upaya, salah satunya bertapa. Jika saat bertapa ia melihat cahaya, artinya dia mendapatkan wahyu keprabon tersebut.
Dalam khazanah Jawa, wahyu dilambangkan dengan cahaya berwarna putih kekuning-kuningan dengan kilau emas, timah, dan perak. Wahyu akan mendatangi mereka yang memiliki watak satriya anoraga, yakni kesatria yang senantiasa setia pada negara dan bangsanya.
Hanya orang dengan wahyu keprabon-lah yang dinilai mampu mengemban amanah mengelola keraton atau negara. Apabila seseorang telah mendapatkan wahyu ini, maka kehebatannya tidak hanya tampak dalam wujud lahir saja, tetapi juga dalam wujud karisma seorang pemimpin.
Namun, harus diketahui bahwa wahyu keprabon tidak selamanya melekat pada pemimpin yang pantas. Wahyu keprabon bisa direbut oleh orang-orang yang tidak mempunyai watak satriya anoraga.
Mereka akan menyalahgunakan wahyu tersebut untuk memperdaya masyarakat. Meski begitu, biasanya para "pembajak wahyu" tidak akan kuat mengatasi kekuatan spiritual ini, sehingga mereka menjadi gila dan wahyu keprabon akan pergi dengan sendirinya.
Tahapan Mencari Wahyu Keprabon
Menurut Wawan Susetya dalam Dharmaning Satriya, setidaknya ada empat tahapan yang harus dilewati seseorang jika ingin mendapatkan wahyu keprabon di masa lampau, yakni:
Mempelajari ilmu bela diri (ngelmu kaprajuritan).
Mempelajari ilmu ketata-negaraan (ngelmu kaprajan), termasuk ilmu sosial kemasyarakatan, budaya, kerohanian, dan sebagainya.
Mempelajari ilmu kesaktian (ngelmu kagidgayan atau ngelmu kesakten).
Mencari wahyu keprabon dengan menjalani kehidupan tirakat, seperti melakukan semedi atau bertapa di gua, puncak gunung, tengah hutan, bawah pohon, dan sebagainya.
Di zaman modern ini, pemimpin tidak lagi berburu wahyu keprabon sebagaimana kesatria dan calon raja di zaman dahulu. Meski begitu, wahyu keprabon dianggap tetap turun kepada siapa saja yang pantas menjadi pemimpin.
Pancaran wahyu ini akan terlihat dari karisma dan kerendahan hati seorang calon pemimpin. Biasanya, orang lain pun akan segan dan menghormati calon pemimpin itu karena sifatnya yang adil, berpandangan jernih, dan bertutur kata halus.
Baca Juga: Tradisi Wungon, Sarana Introspeksi Diri Masyarakat Jawa
(DEL)
