Tradisi Wungon, Sarana Introspeksi Diri Masyarakat Jawa

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi masyarakat Jawa, wungon artinya adalah malam sakral. Istilah ini juga lekat dengan tradisi yang berlangsung di beberapa daerah di Indonesia.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), wungon adalah tidak tidur semalam suntuk. Dikutip dari laman Pemkab Pemalang, wungon adalah sebuah tradisi di malam yang sakral untuk melakukan introspeksi diri.
Wungon masih banyak dilakukan oleh masyarakat di berbagai daerah, khususnya di Jawa Tengah. Tradisi ini masih dilestarikan oleh masyarakat Pemalang dan Solo dalam berbagai kesempatan.
Apa itu Wungon?
Sesuai tradisi dalam budaya Jawa, wungon merupakan malam yang sakral. Tradisi wungon adalah ketika orang-orang tidak tidur semalam suntuk dengan tujuan melakukan introspeksi diri, muhasabah, dan evaluasi atas segala hal yang telah dilakukan di beberapa waktu terakhir.
Selain itu, wungon digunakan untuk merencanakan langkah apa saja yang akan dilakukan di masa mendatang dengan penuh keyakinan.
Selain wungon, istilah lain yang digunakan adalah tirakatan. Istilah ini merupakan sebuah momen untuk mendoakan para tokoh pahlawan yang gugur di masa perjuangan, kemudian dilakukan saat malam kemerdekaan atau malam menuju 17 Agustus.
Wungon juga sering dilaksanakan pada malam 17 Agustus, sebagai bentuk rasa syukur atas rahmat dan nikmat kemerdekaan yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada bangsa Indonesia.
Dirangkum dari laman Pemkot Surakarta, wungon dilakukan untuk menjadi sarana mengenang kembali sejarah perjuangan bangsa, pahlawan, meneladani semangat juang, sekaligus mendoakan agar amal ibadah dan perjuangan yang telah mereka berikan mendapatkan rida Allah SWT.
Wungon biasanya dihadiri oleh warga setempat di tingkat RT, RW, atau yang lebih tinggi, sebagai sarana berkumpul dan bertegur sapa. Selain itu, wungon juga dihadiri oleh pamong atau perangkat desa hingga pejabat-pejabatnya. Pamong desa akan dimintai sambutan untuk membuka acara Wungon.
Selain memperingati kemerdekaan, wungon juga diadakan untuk memperingati hari besar lainnya, seperti hari jadi daerah, tahun baru, dan sebagainya.
Baca juga: 4 Contoh Tradisi Jawa yang Masih Dilakukan hingga Saat Ini
Susunan Acara Wungon
Sebenarnya, tidak ada rangkaian acara khusus bagi wungon di berbagai daerah. Hal yang membuat satu wungon dengan lainnya serupa hanyalah bagian introspeksi dan berdiam diri.
Masyarakat bisa menyesuaikan acara wungon sesuai kebutuhan, kemampuan, dan kreatifitas masing-masing. Berikut ini adalah susunan acara wungon yang biasa dilakukan:
Pembukaan oleh MC dalam bahasa krama inggil.
Doa pembuka.
Sambutan dari pamong desa atau tamu undangan yang jabatannya paling tinggi di acara tersebut. Biasanya, sambutan akan berisi pesan-pesan kemerdekaan, rencana ke depan, dan penuh optimisme.
Doa tahlil.
Iringan gamelan atau kesenian daerah masing-masing.
Potong tumpeng oleh pamong desa.
Penutup.
Demikian informasi mengenai tradisi wungon yang masih melekat sampai hari ini. Tradisi ini juga dapat mempererat tali silaturahmi di kalangan masyarakat.
(TAR)
Baca juga: 2 Contoh Dharma Wacana Singkat dalam Bahasa Bali
