Konten dari Pengguna

Memahami Ketaatan yang Tidak Mutlak Menurut Islam

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Al-Quran. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Al-Quran. Foto: Unsplash.

Ketaatan yang tidak mutlak adalah salah satu konsep dalam muamalah. Muamalah mencakup semua jenis hubungan antar manusia (hablum minannas), baik dalam bermasyarakat maupun bernegara.

Ketaatan dalam Islam terbagi menjadi dua, yakni ketaatan mutlak dan ketaatan tidak mutlak atau bersyarat. Ketaatan mutlak merupakan bentuk kepatuhan yang tidak bisa ditawar, misalnya taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ketaatan mutlak dapat membuat seseorang meraih kemenangan yang abadi di dunia maupun akhirat, sebagaimana diatur dalam Al-Quran Surat Al Ahzab ayat 71.

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah mendapat kemenangan besar”.

Lantas, apa yang dimaksud dengan ketaatan tidak mutlak? Simak penjelasannya dalam ulasan berikut.

Ketaatan Tidak Mutlak

Ilustrasi pemuka agama. Foto: Unsplash.

Selain taat kepada Allah dan Rasul-Nya, setiap Muslim juga diperintahkan untuk patuh kepada ulil amri. Adapun yang dimaksud sebagai ulil amri bisa berupa para ulama, ahli fatwa, atau pemegang kekuasaan di dunia.

Ketentuan untuk patuh terhadap penguasa dijelaskan dalam Surat An Nisa ayat 4. Allah SWT berfirman yang artinya:

“ Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu …. ”

Namun perlu dicatat, bahwa ketaatan kepada ulil amri bersifat bersyarat atau tidak mutlak. Ketaatan tidak mutlak merupakan bentuk kepatuhan yang masih bisa ditawar. Hal ini dilandaskan juga pada ayat yang sama.

“... Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Dengan kata lain, setiap Muslim harus mematuhi kebijakan para penguasa selama apa yang diperintahkan tidak melanggar syariat. Namun, jika kebijakan yang diperintahkan lebih condong ke arah maksiat, maka seseorang diwajibkan untuk menentang perintah tersebut.

Baca juga: Bagaimana Ketentuan Menaati Ulil Amri? Ini Penjelasannya Menurut Islam

Contoh Ketaatan Tidak Mutlak

Ilustrasi Al-Quran. Foto: Unsplash.

Berikut ini beberapa contoh ketaatan tidak mutlak beserta penjelasannya yang perlu diketahui umat Mulim.

1. Taat kepada Orang Tua

Setiap anak wajib berbakti dan mematuhi kedua orang tuanya. Meski demikian, anak boleh menentang ayah dan ibunya apabila mereka diperintahkan untuk melakukan perbuatan maksiat. Hal ini dijelaskan dalam Al Quran Surat Luqman ayat 15.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu menaati keduanya. Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

2. Taat kepada Guru

Guru merupakan sosok pengganti orang tua di sekolah sehingga perintahnya wajib ditaati. Namun, apabila guru mengajarkan hal-hal yang tidak pantas dan melanggar syariat, maka seseorang murid wajib menentangnya.

3. Taat kepada Pemimpin

Setiap masyarakat yang tinggal di suatu wilayah wajib mematuhi aturan yang berlaku dan taat kepada pemimpin selama tidak diminta berbuat maksiat. Hal ini didasarkan pada hadis yang dirirwayatkan Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

“Wajib mendengar dan taat kepada penguasa bagi setiap Muslim dalam perkara yang dia setujui ataupun yang dia benci. Jika pemimpinnya memerintahkan untuk bermaksiat tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat”.

(GLW)