Konten dari Pengguna

Memahami Patriarki dalam Islam, Benarkah Perempuan Dianggap Lebih Rendah?

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Patriarki dalam Islam, Apakah Benar Perempuan Lebih Rendah. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Patriarki dalam Islam, Apakah Benar Perempuan Lebih Rendah. Foto: Pexels

Patriarki dalam Islam sering kali dikaitkan dengan kewajiban istri untuk senantiasa taat dan melayani suami. Laki-laki juga dianggap sebagai pemimpin rumah tangga, sementara perempuan diasumsikan harus fokus di urusan domestik saja.

Syariat Islam lainnya yang sering diungkit ketika membahas patriarki adalah pembagian warisan yang porsinya lebih banyak untuk laki-laki. Sebagian orang menilai hukum ini menegaskan bahwa posisi perempuan lebih rendah dibandingkan pria.

Ketimpangan relasi antara pria dan wanita memanglah akar munculnya budaya patriarki. Namun, benarkah Islam menyuburkan budaya tersebut?

Memahami Budaya Patriarki

Memahami Budaya Patriarki. Foto: Unsplash

Menurut Alfian Rokhmansyah dalam bukunya yang berjudul Pengantar Gender dan Feminisme, patriarki berasal dari kata patriarkat, yaitu struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral, dan segala-galanya.

Secara Antropologis, patriarki digunakan untuk merumuskan kondisi sosiologis laki-laki dalam suatu masyarakat yang cenderung menguasai keadaan. Semakin berkuasa mereka, maka semakin kuat dorongan dalam dirinya untuk merasa unggul (superior) dibandingkan perempuan.

Mengutip jurnal Perspektif Patriarki dan Peran Wanita dalam Keluarga Islam yang diterbitkan Universitas Pendidikan Indonesia, konsep patriarki ini banyak ditemukan di dalam rumah tangga. Istri diposisikan sebagai objek yang harus tunduk dalam dominasi dan kekuasaan suami.

Budaya patriarki sangat berpotensi menimbulkan kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga. Dalam hal ini, kekerasan tidak melulu soal fisik, tapi dapat berbentuk tekanan psikis atau mental.

Baca Juga: Berbeda dengan Patriarki, Inilah Pengertian Matriarki

Apakah Islam Mendukung Patriarki?

Apakah Islam Mendukung Patriarki. Foto: Pexels

Menurut pandangan Islam, perempuan bukanlah musuh bagi lelaki, justru keduanya diciptakan untuk saling melengkapi. Hal ini dijelaskan dalam jurnal berjudul Budaya Patriarki dalam Rumah Tangga (Pemahaman Teks Al-Quran dan Kesetaraan Gender) yang disusun Mochamad Nadif Nasruloh dan Taufiq Hidayat.

Posisi laki-laki dan perempuan adalah setara, yang membedakan hanyalah iman dan takwa, sebagaimana sabda Allah Swt. berikut:

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (Q.S Al-Hujarat:13)

Di dalam Al-Quran, memang terdapat ayat yang menjelaskan bahwa laki-laki merupakan pemimpin perempuan, tapi ayat tersebut tidak bisa dimaknai secara literal.

“Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (lelaki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (lelaki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka”. (QS. An-Nisa:34)

Untuk memaknainya, kita harus merujuk pada tafsir para ahli. Dalam tafsir Al-Wadih dijelaskan bahwa tugas lelaki adalah memimpin dan menjaga perempuan dengan sungguh-sungguh.

Hal ini pula yang membuat laki-laki mendapatkan bagian warisan lebih banyak, karena mereka harus menunaikan kewajiban memberi nafkah kepada istri. Sementara warisan untuk perempuan dikhususkan untuk pribadi dan tidak wajib dibagi.

Dalam rumah tangga, keputusan mengenai urusan rumah juga harus diputuskan berdua, tidak boleh suami atau istri saja. Begitupun dalam pekerjaan rumah, bukan "kodrat perempuan" untuk melakukan semuanya sendirian.

Rasulullah saw telah mencontohkan agar lelaki membantu tugas mengurus rumah. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan hadist berikut:

Urwah berkata kepada Aisyah, "Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jika ia bersamamu (di rumahmu)?" Aisyah berkata, "Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sendalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember." (HR Ibnu Hibban)

Dalam hadist lain yang diriwayatkan dari Aisyah r.a. dia berkata:

"Rasulullah saw selalu membantu mengerjakan tugas keluarganya, tetapi jika waktu shalat tiba, beliau segera keluar untuk melaksanakan shalat." (HR. Bukhari)

Dari dua dalil di atas tampak jelas bahwa kodrat perempuan di hadapan Allah sama dengan laki-laki. Islam tidak memandang berbeda derajat keduanya, tapi membebankan tugas yang berbeda sesuai kadarnya.

Pada akhirnya, yang membuat derajat manusia lebih tinggi dibandingkan yang lain di hadapan Allah Swt bukanlah gender, harta, ataupun kedudukan, melainkan iman dan takwa.

(DEL)