Konten dari Pengguna

Memahami Sistem Penilaian IRT TKA, Menilai Tak Hanya dari Jawaban Benar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sistem Penilaian IRT TKA. Foto: Agewib/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sistem Penilaian IRT TKA. Foto: Agewib/Shutterstock

Tes Kemampuan Akademik (TKA) lahir dari kebutuhan akan laporan capaian akademik individu dengan menggunakan penilaian terstandar. Untuk memastikan laporannya akurat dan sungguh-sungguh menggambarkan kemampuan akademik murid, maka sistem penilaiannya dibuat lebih adil, objektif, dan setara.

Kemendikdasmen mengumumkan bahwa TKA menggunakan sistem penilaian Item Response Theory (IRT). Sistem ini sering dipakai asesmen berskala internasional seperti PISA dan TIMSS. Lantas, apa itu sistem penilaian IRT TKA? Berikut ini penjelasan lengkapnya.

Memahami Sistem Penilaian IRT TKA

Ilustrasi Sistem Penilaian IRT TKA. Foto: Agewib/Shutterstock

Mengutip informasi dari Instagram resmi @pusmendik, Item Response Theory (IRT) merupakan metode yang memperhitungkan karakteristik unik dan tingkat kesulitan tiap butir soal. Dengan metode ini, penilaian tidak lagi hanya bergantung pada jumlah jawaban benar, tetapi juga menilai kualitas penyelesaian soal.

Metode IRT sangat tepat untuk asesmen skala besar seperti TKA agar peserta yang mendapat paket soal sulit tidak dirugikan. Itulah mengapa sistem penilaian ini dipandang lebih adil dan menghargai usaha murid.

Dalam asesmen TKA, penilai secara khusus menggunakan metode IRT Two-parameter Logistic Model (2PL), yakni membaca dua parameter utama tiap butir soal. Parameternya adalah sebagai berikut:

  • Tingkat Kesulitan: Mengukur seberapa menantang butir soal untuk dijawab dengan benar.

  • Daya Pembeda: Mengukur seberapa tajam soal membedakan siswa yang betul-betul kompeten dengan yang belum menguasai materi.

Jadi, dengan sistem ini, penilaian terhadap kemampuan akademik peserta bisa sangat jauh berbeda meskipun sama-sama menjawab seluruh soal dengan benar. Sebagai contoh:

  • Siswa A: Bisa menjawab benar 15 butir soal, didominasi soal dengan tingkat kesulitan tinggi, maka diestimasikan kemampuan akademiknya lebih tinggi.

  • Siswa B: Bisa menjawab benar 15 butir soal, didominasi soal dengan tingkat kesulitan dasar, maka diestimasikan kemampuan akademiknya pada tingkat rata-rata.

Sistem Skor Baru dalam TKA untuk Jenjang SMA/Sederajat

Ilustrasi Sistem Skor Baru dalam TKA untuk Jenjang SMA/Sederajat. Foto: Shutterstock

Masih merujuk pada Instagram @pusmendik, skor TKA untuk SMA/MA/SMK sederajat mengalami perubahan dari 0-100 menjadi 200-800. Pembaruan ini bertujuan untuk menyajikan informasi kemampuan akademik dalam skala yang sesuai dengan pendekatan pengukurannya, yakni IRT.

Dengan sistem ini, skor tiap soal jadi berbeda karena mempertimbangkan tingkat kesulitan dan daya pembedanya. Namun, bukan berarti setiap soal sulit otomatis mendapat bonus nilai lebih besar.

Kemampuan murid diperkirakan melalui pengolahan keseluruhan jawaban dan karakteristik soal yang telah dianalisis. Karena itu, jumlah jawaban benar yang sama dapat menghasilkan perkiraan kemampuan berbeda.

Untuk lebih memahami skema skor baru ini, berikut poin-poin penting yang perlu diperhatikan:

  • Skor baru bukan persentase jawaban benar. Misalnya, skor 600 tidak berarti peserta menjawab benar 60% soal. Angka tersebut menunjukkan hasil pada skala pelaporan TKA. Karenanya, skor baru tidak boleh langsung diubah menjadi nilai lama melalui pembagian atau perkalian sederhana.

  • Perubahan skala tidak berarti soal menjadi lebih sulit. Kesulitan ditentukan oleh rancangan soal, sedangkan skala menentukan bagaimana hasil dilaporkan.

  • Skor perlu dibaca bersama penjelasan capaian yang menyertainya.

Baca Juga: 15 Soal TKA Kimia SMA 2025 untuk Latihan dan Persiapan Ujian

(DEL)