Mengapa Para Ahli Melakukan Penelitian Manusia Purba di Bantaran Sungai?

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Para ahli seringkali melakukan penelitian mengenai manusia purba di bantaran sungai. Penelitian itu juga kerap berhasil menemukan kerangka manusia purba di sejumlah daerah.
Hal tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan, mengapa para ahli melakukan penelitian manusia purba di bantaran sungai? Jika dilihat dalam buku Indonesia Dalam Arus Sejarah Jilid I dijelaskan bahwa manusia purba memiliki dua pola hunian, yaitu kedekatan dengan sumber air dan kehidupan di alam terbuka.
Pola hunian yang dimiliki manusia purba itu dapat dilihat berdasarkan letak geografis situs serta kondisi lingkungannya. Adapun contohnya adalah penemuan situs purba di bantaran Bengawan Solo, yakni Pithecanthropus Soloensis dan Erectus.
Penemuan situs manusia purba di bantaran sungai Bengawan Solo itu dapat dimengerti bahwa air menjadi kebutuhan pokok. Dengan adanya aliran sungai, manusia purba dapat melakukan perpindahan dari suatu tempat ke lokasi lainnya.
Manusia purba umumnya diketahui bergerak tidak terlalu jauh dari danau, sungai atau sumber air lainnya. Hal tersebut dapat terjadi lantaran mereka mengikuti binatang buruan yang biasanya ditemukan berkumpul di dekat sumber air.
Berdasarkan situs Kemendikbud, daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo mempunyai karakter topografi yang unik. Bengawan Solo memiliki topografi yang relatif datar dan membentuk aliran sungai yang berkelok-kelok (meander). Pada aliran meander lah diduga terdapat potensi peninggalan paleoantropologi dan arkeologi.
(DNA)
