Mengenal Alam Syahadah, Tujuan Penciptaan, dan Cara Mengelolanya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alam semesta merupakan seluruh ruang dan waktu termasuk isinya yang diciptakan oleh Allah SWT. Ketika alam semesta diciptakan, Allah sekaligus memberi keteraturan yang tersusun dalam aspek biologi, fisika, kimia, geologi, dan kaidah sains lainnya.
Dalam Islam, alam semesta disebut dengan alam syahadah. Dikutip dari buku Tujuan Penciptaan Manusia oleh Murtadha Murtahari (2018: 45), alam syahadah adalah seluruh jagad raya yang dapat dilihat menggunakan panca indera. Contohnya yaitu tanah, air, gunung, bebatuan, benda langit, dan benda mati lainnya.
Namun, di dalam perspektif Islam tidak mengenal istilah benda mati. Sebab semua ciptaan Allah SWT termasuk alam syahadah, secara mutlak ikut bertasbih dan menyembah-Nya sebagaimana tertuang dalam ayat suci Alquran yang artinya:
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Q.S. al-Isra'/17:44).”
Alam syahadah memiliki struktur paling sederhana dibandingkan dengan ciptaan Allah SWT lainnya. Sebab, alam ini terdiri dari zat yang dapat dilihat dan relatif tidak berubah.
Berbeda dengan makhluk ciptaan lainnya seperti tumbuhan, hewan, dan manusia yang secara terus-menerus mengalami perubahan. Mereka termasuk ke dalam golongan alam syahadah gairu muthalaq atau secara ilmiah disebut makhluk hidup.
Tujuan Penciptaan Alam Syahadah dan Cara Mengelolanya
Dalam perspektif Islam, pada dasarnya tujuan penciptaan alam syahadah adalah sarana untuk menghantarkan manusia pada pengetahuan dan pembuktian tentang keberadaan sekaligus kekuasaan Allah SWT.
Sederhananya, lewat penciptaan alam syahada inilah manusia mengetahui keberadaan Allah sebagai Sang Pencipta. Dalam Alquran juga telah ditegaskan bahwa tujuan penciptaan alam syahada atau alam semesta untuk memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Adapun ayat yang dimaksud:
QS. Asy-Syura ayat 4 yang artinya: "Bagi-Nya apa yang di langit dan di bumi, Dialah Mahagung Mahabesar." Kemudian QS. Al-Baqarah ayat 29 Allah SWT juga berfirman. "Dialah yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu."
Menurut Al-Syawkani dalam buku berjudul Membaca Alam, Memahami Zaman (2005: 04), substansi ayat di atas menjelaskan bahwa pemilik harta sesungguhnya adalah Allah. Hanya Allah SWT yang berhak mengadakan sekaligus meniadakan sesuatu sesuai dengan kehendak- Nya.
Masih dalam buku yang sama, Sayyid Quthb menambahkan bahwa Allah menciptakan seluruh isi bumi untuk dikelola manusia demi kelangsungan kehidupannya. Artinya, manusia punya peran besar di bumi, yakni memanfaatkan sumber daya alam yang telah disiapkan.
Manusia sebagai pihak yang diberi kewengangan untuk mengelolanya, sebagaimana dalam QS. Al Mulk ayat 15 yang artinya. "Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rejeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kami dibangkitkan."
Adapun cara mengelolanya yang dianjurkan sesuai ajaran Islam:
Memanfaatkan hasil bumi untuk keperluan hidup jasmani. Dalam hal ini, manusia diberi kewenangan mengolah bahan-bahan alam untuk memenuhi kebutuhan sandang, papan, dan pangan.
Menjadikan alam sebagai alat untuk melahirkan beragam teori dan konsep yang terkait dengan ilmu pengetahuan.
(VIO)
