Mengenal Tradisi Begalan dalam Pernikahan Masyarakat Banyumas

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tradisi pernikahan di Indonesia sangat banyak dan unik, salah satunya adalah tradisi begalan dari Banyumas. Tradisi ini diperkenalkan kepada masyarakat di masa Bupati Banyumas XIV, Raden Adipati Tjokronegoro pada tahun 1850.
Meski sudah berumur tua, hingga saat ini Anda masih bisa menemukan tradisi Begalan lestari di pernikahan-pernikahan masyarakat Banyumas.
Begalan dilaksanakan setelah prosesi akad nikah, atau pada saat resepsi. Pembahasan mengenai tradisi pernikahan begalan akan dijelaskan lebih lanjut dalam uraian di bawah.
Mengenal Tradisi Begalan
Dalam buku 100+ Tempat Wisata dan Budaya di Indonesia yang disusun Ita Fitria dkk. dijelaskan bahwa tradisi begalan adalah kesenian yang biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara pernikahan di Banyumas. Tradisi ini disebut begalan karena atraksinya mirip dengan perampokan yang dalam Bahasa Jawa disebut begal.
Tradisi ini sebenarnya tidak selalu hadir dalam pernikahan di Banyumas. Begalan hanya dilaksanakan apabila yang menikah adalah anak pertama dengan anak pertama, anak terakhir dengan anak terakhir, anak pertama dengan anak terakhir, dan anak pertama perempuan.
Begalan sendiri mengombinasikan seni tari, seni tutur, dan iringan gending. Bagi yang belum tahu, gending adalah istilah masyarakat Jawa untuk menyebut komposisi musik dalam seni karawitan. Gending biasanya melibatkan seperangkat gamelan.
Meskipun atraksi begalan memuat tarian, tapi tidak ada patokan tertentu mengenai gerakannya. Selama tarian tersebut selaras dengan irama gending, maka boleh-boleh saja.
Adapun seni tutur yang termuat dalam tradisi ini maksudnya adalah petuah atau nasihat kepada kedua mempelai. Petuah ini disampaikan dalam iringan musik tradisonal yang terdiri dari kenong, kendang, dan gong.
Hingga kini, masyarakat Banyumas masih memercayai begalan sebagai seni tradisi tutur yang bersih tentang makna kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Popokan yang Dijalankan Masyarakat Dusun Sendang Semarang
Properti dalam Tradisi Begalan
Dalam pelaksanaan tradisi begalan dibutuhkan sejumlah properti yang akan dibawa penari. Alat-alat tersebut berupa peralatan dapur yang disebut brenong kepang.
Perlatannya antara lain adalah pikulan, iyan, pedhang wlira, cething, siwur, kukusan, ilir, dan lain sebagainya. Kehadiran alat-alat ini bukan tanpa makna. Menukil dari situs djkn.kemenkeu.go.id, alat yang digunakan mengandung simbol atau pesan berikut:
Pikulan, merupakan simbol keseimbangan peran pria dan wanita dalam rumah tangga.
Iyan (tampah berbentuk segi empat), bermakna apabila seseorang sudah menikah, maka harus siap bersosialisasi dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.
Pedhang Wlira, merupakan simbol ketika seorang laki-laki berumah tangga, maka harus siap melindungi keluarganya dari segala bahaya.
Irus, bermakna bahwa seseorang yang berumah tangga harus bisa menjauhkan diri dari godaan pria maupun wanita lain yang berpotensi membuat keretakan rumah tangga.
(DEL)
