Konten dari Pengguna

Musim Kemarau 2026 Sampai Bulan Apa? Ini Prediksi BKMG

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi musim kemarau. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi musim kemarau. Foto: Shutter Stock

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Kondisi tersebut menjadi penanda bahwa sebagian besar wilayah Indonesia masih akan mengalami cuaca kering pada periode tersebut.

Berdasarkan informasi dari laman BMKG, sekitar 48,84 persen wilayah Indonesia diperkirakan mencapai puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Sementara itu, sebanyak 25,41 persen wilayah lainnya diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada September 2026.

BMKG juga mengungkapkan bahwa fenomena El Nino 2026 telah aktif dan diperkirakan berpotensi mencapai kategori sangat kuat. Akibatnya, musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih kering dan berdurasi lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia.

Lantas, musim kemarau 2026 diperkirakan akan berlangsung hingga bulan apa? Simak prediksi dari BMKG beserta penjelasan lengkapnya berikut ini.

Musim Kemarau 2026 Sampai Bulan Apa?

Ilustrasi Musim Kemarau. Foto: Bambang Yulyanto/Shutterstock

Dikutip dari laman BMKG, puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September. Adapun wilayah yang diperkirakan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026 meliputi:

  • Sumatra bagian tengah

  • Sebagian besar Pulau Jawa

  • Bali

  • Nusa Tenggara Barat

  • Sebagian Nusa Tenggara Timur

  • Sebagian besar Kalimantan

  • Sebagian Sulawesi

  • Sebagian Maluku

  • Maluku Utara

  • Sebagian besar Pulau Papua

Sementara itu, sebanyak 169 ZOM atau sekitar 25,41 persen wilayah Indonesia diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada September 2026. Wilayah tersebut meliputi:

  • Kepulauan Bangka Belitung

  • Sebagian besar Sumatra Selatan

  • Lampung

  • Sebagian kecil Pulau Jawa

  • Sebagian besar Nusa Tenggara Timur

  • Kalimantan bagian selatan

  • Sebagian besar Sulawesi

  • Sebagian besar Maluku Utara

  • Sebagian Maluku

  • Papua Pegunungan bagian tengah

Berdasarkan prediksi BMKG, curah hujan mulai muncul secara bertahap pada Oktober hingga November 2026. Memasuki November 2026, awal musim hujan diperkirakan mulai mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia dengan intensitas curah hujan yang bervariasi, mulai dari kategori rendah hingga tinggi.

Imbauan BMKG Menghadapi Musim Kemarau 2026

Ilustrasi Sawah Kekeringan. Foto: ANTARA/Syifa Yulinnas

BMKG menjelaskan bahwa musim kemarau 2026 berpotensi memberikan dampak pada berbagai sektor sehingga diperlukan langkah antisipasi sejak dini. Mengutip laman BMKG, berikut beberapa imbauan yang perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko dan dampak musim kemarau:

1. Pertanian, Air, dan Energi Perlu Persiapan

BMKG mengimbau para pemangku kepentingan untuk melakukan berbagai langkah antisipasi guna mengurangi dampak musim kemarau, terutama pada sektor pertanian, sumber daya air (SDA), dan energi. Adapun langkah-langkah yang direkomendasikan meliputi:

  • Sektor pertanian: Menyusun jadwal awal musim tanam yang sesuai dengan kondisi iklim serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan.

  • Sektor sumber daya air (SDA): Menghitung ketersediaan air baku dan mengelola volume air bendungan agar pasokan air tetap terjaga selama musim kemarau.

  • Sektor energi: Mengantisipasi perubahan produksi listrik tenaga air (PLTA), serta menyiapkan langkah pengendalian potensi peningkatan kebutuhan energi.

2. Waspadai Dampak terhadap Kesehatan

Curah hujan yang rendah selama musim kemarau dapat memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mewaspadai beberapa risiko berikut:

  • Penurunan kualitas udara yang dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

  • Perubahan pola penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan malaria.

  • Meningkatnya risiko heat stroke akibat cuaca panas ekstrem.

3. Tingkatkan Kesiapsiagaan Karhutla

BMKG juga mengimbau sejumlah sektor untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta memanfaatkan peluang yang muncul selama musim kemarau. Berikut langkah yang direkomendasikan:

  • Sektor kehutanan dan kebencanaan: Meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman kekeringan serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

  • Sektor perikanan dan tambak garam: Mengoptimalkan produksi garam serta memanfaatkan fenomena upwelling yang dapat meningkatkan hasil tangkapan ikan.

Baca Juga: Fenomena Suhu Bediding Sampai Kapan? Ini Kata Dosen IPB

(ANB)