Konten dari Pengguna

Ordal Artinya Apa? Simak Penjelasan dan Dampaknya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 Ilustrasi ordal. Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ordal. Foto: Pixabay.

Istilah ordal sedang ramai dibicarakan di media sosial. Ordal artinya merujuk pada status atau kedudukan pihak dalam suatu organisasi.

Fenomena ordal disinggung oleh Calon Presiden nomor urut 1 Anies Baswedan dalam debat pilpres pertama. Anies Baswedan mengatakan bahwa ordal menyebalkan karena dihadapi oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Fenomena ordal ini menyebalkan. Di seluruh Indonesia kita menghadapi fenomena ordal. Mau ikut kesebelasan ada ordalnya, mau masuk jadi guru ada ordal, mau daftar sekolah ada ordal, mau dapet tiket untuk konser ada ordal yang membuat meritokratik tidak berjalan dan etika luntur,” kata Anies di Kantor KPU, Jakarta Pusat, Selasa (12/12/2023).

Ordal sendiri merupakan akronim dari kata ‘orang dalam’. Untuk mengetahui lebih jauh arti ordal, simak informasi selengkapnya dalam ulasan berikut.

Ordal Artinya Apa?

Ilustrasi ordal. Foto: Pixabay.

Ordal telah menjadi fenomena umum di Indonesia. Fenomena ordal biasanya terjadi pada orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pihak yang memiliki jabatan maupun kekuasaan.

Orang dalam atau ordal merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut individu yang memiliki akses dalam suatu organisasi yang memungkinkan mereka mempengaruhi aturan, proses, hingga keputusan tertentu.

Akses yang dimaksud dapat berupa kebijakan maupun informasi yang sifatnya eksklusif atau rahasia.

Ordal memiliki peran signifikan dalam mencapai tujuan seseorang. Dengan bantuan ordal, seseorang memiliki peluang yang lebih besar untuk mendapatkan tujuan atau posisi tertentu.

Ordal sendiri merupakan suatu tindakan yang melanggar hukum karena termasuk dalam kategori nepotisme. Dikutip dari buku Birokrasi dan Good Governance oleh Manotar Tampubolon (2023), nepotisme merupakan praktik perlakuan khusus kepada anggota keluarga maupun kerabat dalam pengambilan keputusan penting.

Contoh umum dari praktik nepotisme atau ordal adalah HRD yang memilih orang dekatnya untuk menjadi pegawai suatu perusahaan, meskipun ada kandidat lain yang lebih layak.

Baca juga: Pakar soal Gibran Cawapres: Bagian dari Nepotisme

Dampak Nepotisme

Ilustrasi ordal. Foto: Pixabay.

Nepotisme memiliki dampak yang sangat merugikan bagi suatu organisasi. Dampak yang paling dirasakan adalah penurunan kinerja perusahaan atau instansi. Ini terjadi karena pengangkatan pegawai dilakukan atas dasar hubungan keluarga tanpa mempertimbangkan kompetensinya.

Berikut beberapa dampak nepotisme lainnya.

1. Merusak Etika Kerja

Nepotisme dapat merusak merusak etika kerja dalam organisasi karena mengutamakan hubungan keluarga daripada kepentingan bersama. Ini dapat mengakibatkan penurunan motivasi anggota atau karyawan yang kompeten.

2. Menimbulkan Konflik

Praktik ordal atau nepotisme juga dapat menimbulkan ketidakpuasan di kalangan karyawan sehingga rentan memicu konflik. Konflik terjadi karena kecemburuan sosial akibat perasaan tidak dihargai atau diabaikan.

3. Merusak Kredibilitas

Nepotisme juga membuat kepercayaan masyarakat terhadap suatu organisasi maupun institusi rusak. Nepotisme dianggap sebagai tindakan yang tidak adil dan korup. Tentunya ini akan mempengaruhi reputasi dan citra institusi di masyarakat.

(GLW)