Penerapan Green Infrastructure di Indonesia beserta Prinsipnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Proyek Green infrastructure di Indonesia terus digencarkan guna mendukung upaya pengurangan emisi karbon dan efek rumah kaca secara berkelanjutan. Proyek ini juga mendukung pembangunan tata kota dan daerah yang relevan dengan lingkungan di sekitar.
Menurut laman Kementerian Sekretariat Negara RI, green infrastructure atau infrastruktur hijau dipilih sebagai solusi yang menjanjikan untuk membangun masa depan yang berkelanjutan. Prosesnya memanfaatkan elemen alamiah seperti vegetasi, tanaman, taman, dan sistem aliran di tengah perkotaan.
Contoh nyata dari penerapan green infrastructure di Indonesia adalah Hutan Kota Gelora Bung Karno (GBK). Area tersebut menerapkan konsep penghijauan wilayah urban yang bertujuan untuk megurangi cuaca panas, memaksimalkan pengelolaan air hujan, dan meningkatkan kualitas udara.
Tentu, masih banyak penerapan green infrastructure lainnya di berbagai wilayah Indonesia. Agar lebih paham, simak pembahasan lengkapnya dalam artikel berikut.
Penerapan Konsep Infrastruktur Hijau di Indonesia
Keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan menjadi unsur vital dalam pelaksanaan infrastruktur hijau di berbagai wilayah. Sebab, konsep ini mesti didukung dengan kebijakan sekaligus SDM yang mumpuni.
Menurut Primanda Kiky Widyaputra dalam buku Penerapan Insfrastruktur Hijau di Berbagai Negara (2020), infrastruktur hijau dapat melestarikan nilai-nilai ekosistem alam guna memberikan manfaat yang berkesinambungan bagi manusia. Dalam pelaksaannya, terdapat 10 prinsip utama yang mesti dipenuhi, antara lain:
1. Keterhubungan
Konsep infrastruktur hijau mesti dihubungkan dengan grand design suatu kota maupun desa. Sehingga, praktik pelaksanaannya bisa selaras dengan rencana pembangunan di awal.
2. Penekatan terpadu
Guna memperoleh bayangan yang luas mengenai kondisi suatu wilayah, semua pihak yang terlibat perlu memiliki pemahaman yang komprehensif. Mereka harus mempertimbangkan dampak sosial, ekonomi, serta lingkungan yang terjadi di ekosistem wilayah tersebut.
3. Teori dan praktik perencanaan ruang
Mengutip buku Ekologi Lingkungan: Perspektif Wilayah & Kota karya Dr. Suning, SE., MT (2021), keterlibatan ahli dari berbagai disiplin ilmu sangat diperlukan dalam konsep pengembangan green infrastructure. Ini mencakup arsitektur, teknik sipil, geografi, biologi konservasi, landscape ekologi, antropologi, dan lain-lain.
4. Utamakan kawasan budi daya dan lindung
Tidak semua wilayah bisa diaplikasikan konsep infrastruktur hijau ini. Maka, pengelola harus mengutamakan kawasan budi daya dan lindung terlebih dahulu.
5. Perencanaan dan perlindungan infrastruktur hijau
Sebelum pembangunan dilakukan, eksekutor harus melakukan perencanaan yang baik terlebih dahulu. Tujuannya agar konsep infrastruktur hijau yang dikembangkan tetap terjaga kelestariannya.
6. Investasi publik
Infrastruktur hijau mestinya didanai sejak awal oleh berbagai macam sumber pendanaan. Ini termasuk perencanaan ruang selaku dokumen publik, pembangunan grey insfrastruktur, jalan, serta jembatan dan perumahan.
7. Memberikan manfaat pada alam dan manusia
Pengelola sebaiknya tidak menjadikan kawasan pengembangan sebagai buffer (zona penyangga). Sehingga, risiko genangan banjir, tanah longsor, kebakaran, dan aspek bencana lain bisa dihindari.
8. Menghormati keinginan dan harapan
Pengelola infrastruktur hijau hendaknya bisa mengakomodasi harapan serta keinginan pemilik lahan maupun pemilik konsesi. Mereka juga harus menjanjikan pemafaatan lahan yang produktif, bertanggung jawab, serta terpelihara.
9. Mengutamakan kerja sama
Kerja sama antar kawasan sangat dibutuhkan dalam hal ini. Dengan begitu, pembangunan kota yang berkelanjutan bisa diwujudkan lewat konsep infrastruktur hijau.
10. Komitmen jangka panjang
Pada dasarnya, proyek infrastruktur hijau bertujuan untuk merealisasikan pembangunan berkelanjutan yang bisa dirasakan manfaatnya hingga generasi mendatang. Jadi, dibutuhkan komitmen jangka panjang bagi semua pihak agar terus bersinergi dalam proyek ini.
Baca juga: 4 Transportasi Masa Depan yang Sudah Dibuat Prototipenya
Ragam konten berkualitas dan inklusif tentang inisiatif individu, komunitas, dan pemangku kepentingan untuk mendorong terciptanya bumi berkelanjutan hanya di kumparan.com/greeninitiative.
(MSD)
