Pengertian Hadits Menurut Bahasa dan Istilah Serta Tingkatannya dalam Islam

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai sumber hukum kedua setelah Alquran, hadits mengandung banyak ketentuan dan pembelajaran bagi umat Islam. Namun, sebelum membahas hal itu, perlu diketahui pengertian hadits menurut bahasa dan istilah terlebih dahulu.
Secara bahasa, hadits artinya sesuatu yang baru, dekat, atau singkat. Mengutip buku Pengantar Studi Ilmu Hadits karya Syaikh Manna al-Qaththan, hadits juga bisa berarti sesuatu yang diberitakan, diperbincangkan, dan dipindahkan dari seorang kepada orang lain.
Secara istilah, hadits adalah hal-hal yang datang dari Rasulullah SAW, baik berupa ucapan, perbuatan, ataupun pengakuan. Hadits dapat menjadi penjelas bagi ayat Alquran yang bersifat global.
Selain itu, hadits juga bisa melengkapi perintah Allah yang tercantum dalam Alquran. Agar lebih memahaminya, berikut penjelasan tentang hadits lengkap dengan fungsi dan tingkatannya dalam Islam.
Kedudukan dan Fungsi Hadits
Kedudukan hadits sebagai sumber hukum kedua, telah dijelaskan dalam beberapa ayat Alquran. Dalam surat Al-Hasyr ayat 7, Allah berfirman:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…” (QS. Al Hasyr: 7).
Ayat tersebut menekankan bahwa umat Islam harus mengikuti hal-hal yang disampaikan Rasulullah SAW melalui haditsnya. Umat Islam harus menjadikan perilaku Rasulullah sebagai suri tauladan dalam menjalani kehidupan mereka.
Dikutip dari jurnal Fungsi Hadits Terhadap Alquran karya Hamdani Khairul Fikri, ada sejumlah fungsi hadits yang perlu diketahui umat Islam, yakni sebagai berikut:
Memperjelas isi Alquran (bayan taqrir)
Menafsirkan isi Alquran (bayan tafsir)
Mengkhususkan yang bermakna umum (takhshish Al-’am)
Mengganti hukum yang telah lewat keberlakuannya (bayan tabdila)
Baca Juga: 4 Contoh Hadits Palsu yang Perlu Diketahui agar Terhindar dari Kesesatan
Tingkatan Hadits
Berdasarkan kualitas sanad dan perawinya, hadits dapat digolongkan menjadi tiga tingkatan yakni shahih, hasan, dan dhaif. Berikut penjelasannya:
1. Hadits Shahih
Mengutip buku Al-Qur'an Hadits Madrasah Aliyah Kelas X, hadits shahih adalah hadits musnad yang bersambung sanadnya, dinukil oleh seorang yang adil dan dabit hingga akhir sanadnya, tanpa ada kejanggalan dan cacat.
Hukum memakai hadits sahih adalah wajib, sebagaimana disepakati oleh ahli hadits dan para fuqaha. Sebab, hadits sahih merupakan salah satu sumber hukum syariat, sehingga tidak ada alasan untuk mengingkarinya.
2. Hadits Hasan
Abu Isa at-Tirmidzi mengartikan hadits hasan sebagai hadits yang dalam sanadnya tidak terdapat orang yang tertuduh bohong, haditsnya tidak janggal, serta diriwayatkan tidak hanya dalam satu jalur rawian.
3. Hadits Dhaif
Hadits dhaif adalah sabda Rasulullah yang tidak memenuhi syarat diterimanya suatu hadits dikarenakan hilangnya salah satu dari beberapa syarat yang ada. Hadits jenis ini tingkatannya paling lemah di antara jenis hadits lain.
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan hadits?

Apa yang dimaksud dengan hadits?
Hadits adalah hal-hal yang datang dari Rasulullah SAW, baik berupa ucapan, perbuatan, ataupun pengakuan.
Bagaimana tingkatan hadits dalam Islam?

Bagaimana tingkatan hadits dalam Islam?
Berdasarkan kualitas sanad dan perawinya, hadits dapat digolongkan menjadi tiga tingkatan yakni shahih, hasan, dan dhaif.
Apa fungsi hadits terhadap Alquran?

Apa fungsi hadits terhadap Alquran?
Memperjelas isi Alquran, menafsirkan isi Alquran, mengkhususkan yang bermakna umum, dan mengganti hukum yang telah lewat keberlakuannya.
