Konten dari Pengguna

4 Contoh Hadits Palsu yang Perlu Diketahui agar Terhindar dari Kesesatan

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh hadits palsu Foto: Iqbal nuril anwar/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh hadits palsu Foto: Iqbal nuril anwar/Shutterstock

Hadits adalah sumber hukum kedua dalam Islam setelah Alquran. Di antara banyaknya hadits shahih yang menjadi petunjuk umat Muslim, terdapat hadits palsu yang tidak dapat dijadikan hujjah dalam Islam karena tidak memenuhi syarat-syarat kebenaran.

Dalam kajian ilmu fiqih, hadits seperti itu disebut juga dengan hadits maudhu. Mengutip buku Studi Al-Hadits oleh Moh. Ali Abdul Shomad, hadits maudhu adalah hadits yang diada-adakan dan dipalsukan atas nama Rasulullah SAW secara sengaja dengan motif tertentu.

Biasanya, pembuat hadits palsu menyusun perkataan yang berasal dari dirinya sendiri, lalu meletakkan sanad dan meriwayatkannya. Ada pula hadits palsu yang dibuat dengan mengambil perkataan dari ahli kemudian meletakkan sanadnya.

Para ulama sepakat bahwa hadits palsu merupakan hadits dha’if yang paling rendah dan paling buruk. periwayatannya sangat dilarang dalam kondisi apa pun kecuali disertai dengan penjelasan tentang statusnya. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim:

Barang siapa menceritakan suatu hadits dariku yang diketahui itu bohong, maka dia adalah salah satu pendusta.” (Muqaddimah Muslim bi Syarhi an-Nawawi, jilid 1)

Penyebaran hadits palsu yang sudah ada sejak zaman Nabi semakin merajalela di masa sekarang. Jika dibiarkan, hadits palsu akan menyesatkan umat Muslim karena menimbulkan kekeliruan yang besar. Lalu, apa saja contoh hadits palsu yang tidak boleh dijadikan rujukan?

Contoh Hadits Palsu

Ilustrasi Al-quran. Foto: Leila Ablyazova/Shutterstock

Mengutip buku Musthalahul Hadits oleh Syaikh DR. Mahmud Ath-Thahhan, ada beberapa cara membedakan hadits palsu dan shahih yang dapat dilakukan. Pertama, melalui indikasi dari para perawi. Misalnya jika ternyata perawi adalah seorang syiah rafidhah dan haditsnya berkaitan dengan keutamaan ahlul bait.

Cara kedua yaitu melalui indikasi pada hadits yang diriwayatkan. Misalnya, ada kata-kata janggal yang terdapat pada teks atau bertentangan dengan nalar dan akal sehat serta ayat-ayat Alquran.

Agar lebih mudah membedakannya, berikut beberapa contoh hadits palsu yang beredar di kalangan masyarakat:

1. Hadits tentang Air Mencapai Empat Puluh Kulah

Apabila telah mencapai empat puluh kulah, ia tidak mengandung kotoran (najis).”

Mengutip buku Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu’ tulisan Muḥammad Nāṣir al-Dīn Albānī, hadits tersebut termasuk hadits maudhu. Diriwayatkan oleh al-Uqaili dalam adh-Dhu’afa’ dari al-Qasim bin Abdullah bin Umar al-Umari, dari Muhammad bin al-Munkadir, dari Jabar bin Abdullah secara marfu’.

Al-Uqaili berkata bahwa Al-Qasim bin Abdullah banyak berbuat salah. Ia dikenal sebagai sosok pendusta yang suka memalsukan hadits. Itu sebabnya hadits ini tidak diperkenankan sebagai bahan rujukan.

2. Hadits tentang Keharusan Berpamitan Sebelum Bepergian

Apabila salah seorang dari kamu hendak bepergian, hendaklah berpamitan kepada saudara-saudaranya karena Allah menjadikan berkah untuknya dalam doa mereka.

Hadits ini maudhu, karena perawinya, Nufa’i. Dia adalah Abu Dawud Al-A’ma, didustakan oleh Qatadah. Ibnu Ma’in berkata, “Dia suka memalsukan hadits dan dia tidak ada apa-apanya.

Baca juga: Hadits Qudsi: Istilah Lain dan Perbedaannya dengan Alquran

3. Hadits tentang Gugurnya Amal Seorang Istri

Ilustrasi membaca Al Quran. Foto: Shutterstock

Apabila seorang wanita berkata kepada suaminya, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sama sekali darimu,’ maka gugurlah amalnya.

Hadits ini digolongkan maudhu dengan sanad dari Yusuf bin Ibrahim, dari Anas. Ibnu Hibban berkata, “Yusuf bin Ibrahim meriwayatkan dari Anas sesuatu yang bukan dari haditsnya. Tidak halal meriwayatkan darinya.

4. Hadits tentang Kepedulian terhadap Dunia dan Akhirat

Sebaik-baik kalian adalah yang tidak meninggalkan urusan akhirat nya untuk kepentingan dunianya, dan tidak pula meninggalkan kepentingan dunianya untuk kepentingan akhiratnya, dan tidak menjadi beban bagi manusia.

Menurut Abu Bakar al-Uzdiya dalam kitab al-Hadits dan al-Khathib, hadits ini termasuk maudhu dengan sanad dari Naim bin Salim bin Qunbur, dari Anas bin Malik r.a.

Sanadnya digolongkan maudhu sebab Abu Hatim menyebut Yughnam bin Salim sebagai perawi sanad yang dhaif. Sedangkan, Ibnu Hibban mengatakan, “Ia pernah memalsukan sanad yang dinisbatkan kepada Anas bin Malik.

(ADS)

Frequently Asked Question Section

Apa itu hadits palsu?
chevron-down

Hadits palsu merupakan hadits yang tidak dapat dijadikan hujjah dalam Islam karena tidak memenuhi syarat-syarat kebenaran.

Bagaimana cara mengetahui hadits palsu?
chevron-down

Ada beberapa cara, salah satunya melalui indikasi dari para perawi atau periwayatnya.

Sejak kapan pemalsuan hadits?
chevron-down

Penyebaran hadits palsu telah dilakukan sejak zaman nabi.