Pengertian Ittiba Al Hawa dan Dampaknya bagi Umat Muslim

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengikuti hawa nafsu dan menuruti keinginan diri termasuk perbuatan yang menghalangi ittiba. Dalam Islam, perbuatan ini disebut dengan ittiba al hawa dan dilarang oleh Allah SWT.
Ittiba sendiri artinya mengikuti. Mengutip buku Fiqh Dan Ushul Fiqh tulisan Dr. Nurhayati, M.Ag. dan Dr. Ali Imran Sinaga, M.Ag., ittiba adalah mengikuti pendapat seseorang (ulama, fuqaha, dan sebagainya) dengan mengetahui dan memahami dalil/hujjah suatu perkara yang digunakan.
Ittiba juga diartikan sebagai upaya mengikuti semua yang diperintahkan dan dibenarkan Rasulullah serta menjauhi segala yang dilarang Allah dan Rasul-Nya. Namun, ittiba al hawa membuat seseorang justru melakukan hal sebaliknya.
Ittiba Al Hawa
Mengutip jurnal Zuhud dan Ittibaul Hawa karangan Ihyaul Mawatdah, ittiba al hawa berasal dari dua akar kata, yaitu ittiba dan hawa. Sebagaimana telah disebutkan, ittiba mengandung arti mengikuti, sedangkan hawa diartikan sebagai hawa nafsu. Jadi, ittiba al hawa adalah mengikuti hawa nafsu.
Ittiba al hawa adalah keinginan atau kecintaan jiwa terhadap sesuatu secara berlebihan. Seseorang dengan sikap tersebut akan mengikuti keinginannya tanpa mempertimbangkan sebab dan akibatnya.
Allah memerintahkan hamba-Nya untuk tidak mengikuti hawa nafsu atau semata-mata keinginan diri, melainkan menyesuaikan kehendak dan keinginannya dengan mengikuti kehendak Allah SWT. Peringatan tentang ini disebutkan berkali-kali dalam Alquran, salah satunya dalam surat Sad ayat 26 yang berbunyi:
“Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”
Baca juga: Ittiba: Pengertian, Jenis-jenis, dan Hukumnya dalam Islam
Dr. Budiman, M.A. dalam buku Filsafat Pendidikan Islam (Landasan Filosofi Keilmuan dan Dimensi Spiritual) menjelaskan, melakukan ittiba al hawa sama saja berbuat zalim kepada diri sendiri. Sebab, mengikuti hawa nafsu bertentangan dengan kebenaran, keadilan, iman, dan kebaikan yang menjerumuskan seseorang ke dalam kesesatan.
Tidak hanya itu, ittiba al hawa yang semakin tidak terkendali juga akan mendatangkan kebinasaan. Allah SWT berfirman:
“Andai kata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebangaan mereka tetapimereka berpaling dari kebangaan itu.” (QS. Al-Mu’minun: 71)
Alquran dan As-Sunnah pun diturunkan untuk mencegah hal itu terjadi. Kehadiran kedua sumber hukum Islam itu diharapkan dapat mengendalikan hawa nafsu manusia dan mengingatkan setiap Muslim untuk menyesuaikan keinginannya dengan kehendak Allah SWT.
Dalam sebuah hadits disebutkan, “Orang yang cerdas adalah orang yang dapat menundukkan hawa nafsu dan beramal untuk bekal sesudah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah dengan panjang angan-angan (Tuulul ‘amal).” ( HR. Tirmidzi )
(ADS)
Baca juga: Ayat dan Hadits tentang Hawa Nafsu serta Tahapan Melawannya dalam Islam
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan ittiba?

Apa yang dimaksud dengan ittiba?
Ittiba adalah mengikuti pendapat seseorang (ulama, fuqaha, dan sebagainya) dengan mengetahui dan memahami dalil/hujjah suatu perkara yang digunakan.
Apa itu ittiba al hawa?

Apa itu ittiba al hawa?
Ittiba al hawa artinya mengikuti hawa nafsu.
Apa akibat mengikuti hawa nafsu?

Apa akibat mengikuti hawa nafsu?
Mengikuti hawa nafsu dapat membuat seseorang terjerumus ke dalam kesesatan.
