Konten dari Pengguna

Pengertian, Jenis, dan Contoh Geguritan dalam Sastra Jawa

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh geguritan. Foto: Shutterstock.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh geguritan. Foto: Shutterstock.

Dalam bahasa Jawa, geguritan disebut juga sebagai puisi. Karya sastra ini mengandung kata-kata puitis yang terkesan mendayu-dayu jika dibaca dengan intonasi yang tepat. Dalam sastra Jawa, ada banyak sekali contoh geguritan yang bisa dipelajari dan dilestarikan.

Dikutip dari jurnal berjudul Gaya kebahasaan Rahmat Djoko Pradopo dalam antologi Geguritan Abang Mbranang oleh Bagus Wahyu Setyawan, dkk, geguritan berasal dari kata gurit artinya tulis, gambar, dan nyanyian. Karya sastra ini digunakan untuk menyampaikan isi hati, memberi pelajaran, dan pengingat bagi yang membaca.

Padmosoekotjo dalam buku Ngengrengan kasusastran djawa II, menyebut geguritan sebagai karya sastra yang memiliki aturan tertentu. Aturan-aturan ini dapat berupa jumlah baris setiap bait, jumlah suku kata setiap baris, dan rima bahasa di akhir baris.

Dalam sastra Jawa, ada beberapa jenis geguritan yang terbagi berdasarkan kosakata yang terkandung di dalamnya. Apa saja?

Jenis Geguritan

Ilustrasi contoh geguritan. Foto: Antara/Hendra Nurdiyansyah

Mengutip jurnal Gaya kebahasaan Rahmat Djoko Pradopo dalam antologi Geguritan Abang Mbranang, menurut jenisnya geguritan dibagi menjadi dua yakni geguritan gagrag lawas dan geguritan gagrag anyar.

Geguritan gagrag lawas berbentuk kakawin, kidung, atau syair-syair tembang macapat yang masih terikat aturan baku seperti guru lagu, guru gatra, dan guru wilangan. Selain itu, bahasa yang digunakan lebih banyak menggunakan kosakata dari bahasa Jawa kuno ataupun dari bahasa Kawi.

Berbeda dengan geguritan gagrag lawas, gagrag anyar tidak terikat dengan aturan-aturan baku. Jenis geguritan ini cenderung lebih bebas dari segi strukturnya maupun bahasanya. Bahkan pada geguritan jenis ini, tak jarang ditemukan penggunaan bahasa asing seperti bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris.

Selain itu, gaya bahasa dari masing-masing geguritan pun berbeda-beda tergantung dari beberapa aspek. Seperti gaya bahasa pengarang, tema geguritan, pesan moral yang ingin disampaikan, dan sasaran pembaca geguritan tersebut.

Untuk mengetahui lebih lanjut karya sastra geguritan. Simak contoh geguritan berikut.

Contoh Geguritan dalam Karya Sastra Jawa

Ilustrasi contoh geguritan. Foto: Freepik.

Berikut dua contoh geguritan Bahasa Jawa yang dikutip dari buku Gurit Singgang: Kumpulan Geguritan oleh Novy Wahyu Dwi Indrawati.

Contoh Geguritan 1

Samethine

Karya Novi W

Dakentha gurit iki

Dadya Batangan

Marang wengi kang mbalang cecangkriman

Kasunyatan

Ndhedhet peteng tan kuwawa

Ngemuli lelakon legok geneng

Samesthine luputku dudu sliramu

Gatra kang ngrengga pucuking lathi

Kobar kebrangas pangudarasaning ati

Apa isi ana pituwas..

Contoh Geguritan 2

Singgang

Karya Novi W

Apa isih ana crita dawa

Bisa dakcathet ing lembaran buku lawas

Kanggo nguntapake sujana

Kang menclok ing gumandhule maras

Mbareng saiket gela nyrimpet laku gegadhangan

Apa manther praupan during resik kabilas

Saka wening iline sendhang

Kamangka rembes luh wus neles wewirune krudhung kembang

Sadurunge ndingkluk pari dadi singgang

Sadurunge banjir bandhang tega nggaringake dawane gorokan

Aku mung bisa kandha

Talinanan ginurit bungkik kang kurang sapada

(IPT)