3 Contoh Geguritan Bahasa Jawa Tema Kehidupan

Penulis kumparan
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Geguritan merupakan puisi namun menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Jawa sendiri memang sampai sekarang masih sangat lestari dan masyarakat Jawa seperti Jawa Tengah memang menggunakan
Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari untuk saling berkomunikasi. Dalam bahasa Jawa sendiri memang banyak jenis karya sastra salah satunya geguritan.
Tema dari geguritan sendiri juga beragam, namun pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai geguritan bahasa Jawa dan contoh geguritan tema kehidupan atau lingkungan.
Apa yang Dimaksud dengan Geguritan?
Sebelum masuk pada contoh dari geguritan kita pahami terlebih dahulu mengenai apa yang dimaksud dengan geguritan.
Dikutip dari buku Antologi Geguritan, Tresna Lan Kuciwa (PBSD UNS) (2019: 7) geguritan berasal dari kata "gurit" yang memiliki arti kidung atau tembang, sedangkan "guritan" bermakna tembang yang burwujud purwakanti.
Geguritan adalah istilah yang digunakan untuk menyebut puisi Jawa modern yang bebas dari aturan-aturan tertentu seperti pada tembang macapat ataupun kidung.
Karya sastra ini digunakan untuk menyampaikan isi hati, memberi pelajaran, dan pengingat bagi yang membaca.
Padmosoekotjo dalam buku Ngengrengan kasusastran djawa II, menyebut geguritan sebagai karya sastra yang memiliki aturan tertentu. Aturan-aturan ini dapat berupa jumlah baris setiap bait, jumlah suku kata setiap baris, dan rima bahasa di akhir baris.
Geguritan Gunakeke Bahasa Apa?
Geguritan gunakeke atau migunakeke merupakan bahasa Jawa yang alus serta indah dan tidak menggunakan bahasa sehari-hari.
Menurut jurnal berjudul Gaya kebahasaan Rahmat Djoko Pradopo dalam antologi Geguritan Abang Mbranang oleh Bagus Wahyu Setyawan, dkk, geguritan berasal dari kata "gurit" artinya tulis, gambar, dan nyanyian.
Baca juga: Pengertian, Jenis, dan Contoh Geguritan dalam Sastra Jawa
Apa Manfaat Dari Geguritan?
Merujuk pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa manfaat dari menulis geguritan adalah untuk mengungkapkan perasaan penyair dengan bahasa yang indah dan tidak berpedoman pada aturan.
Dalam jurnal Peningkatan Keterampilan Menulis Geguritan dengan Metode Objek Langsung pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Kebumen oleh Eva Hapsari juga dijelaskan beberapa manfaat menulis geguritan sebagai salah satu karya sastra:
1. Apresiatif
Apresiatif dalam hal ini berarti dengan kegiatan membuat karya sastra berupa geguritan, seseorang dapat mengenal menyenangi, menikmati, dan mungkin menciptakan kembali secara kritis berbagai hal yang dijumpai dalam sastra dengan caranya sendiri.
Lebih dari itu, orang dapat memanfaatkan pengalaman baru tersebut dalam kehidupan nyata.
2. Ekspresif
Manfaat selanjutnya adalah eskpresif. Hal ini berarti seseorang dapat mengekspresikan berbagai pengalaman dan perasaannya untuk dapat disampaikan kepada orang lain melalui karya sastra sebagai sesuatu yang lebih bermakna.
Apa Saja Tema Geguritan
Setiap karya sastra tentu di dalamnya terkandung sebuah tema yang diangkat oleh penyair. Begitu juga dengan karya sastra geguritan.
Merujuk pendapat Waluyo dalam jurnal Geguritan Pilihan untuk Pembelajaran Bahasa Jawa Siswa Kelas IX di SMP Cepogo oleh Kiki Andriani, berikut ini jenis-jenis tema dalam geguritan, yaitu:
1. Tema Ketuhanan
Tema ketuhanan, yaitu tema geguritan yang mampu membawa manusia untuk lebih bertaqwa.
2. Tema Kemanusiaan
Tema kemanusiaan digambarkan oleh penyair tentang ketinggian martabat manusia dan juga rendah hati manusia terhadap sesama makhluk hidup.
3. Tema Patriotisme
Tema patrotisme, yaitu berisi tentang seorang penyair yang mengajak pembaca untuk meneladani orang-orang yang telah berkorban demi bangsa dan tanah air.
4. Tema Cinta Tanah Air
Tema cinta tanah air berisikan tentang pujaan kepada tanah air kelahiran atau negeri tercinta.
5. Tema Cinta Kasih
Tema cinta kasih antara pria dan wanita ini secara keseluruhan geguritan akan menggambarkan cinta kasih antara pria dan wanita.
6. Tema Kerakyatan atau Demokrasi
Tema kerakyatan dan demokrasi adalah tema yang mengungkapkan bahwa rakyat memiliki kekuasaan karena sebenarnya di tangan rakyat sendiri yang dapat menentukan pemerintahan suatu negara.
7. Tema Keadilan Sosial
Tema dalam geguritan ini menggambarkan tentang tuntutan keadilan bagi kaum yang tertindas. Geguritan ini mengungkapkan protes terhadap keadilan dalam masyarakat yang dilakukan oleh kaum karya, penguasa, bahkan negara terhadap rakyat jelata.
8. Tema Pendidikan
Tema dalam geguritan ini menggambarkan pendidikan dan nasihat tentang budi pekerti yang dapat menajdi teladan bagi anak-anak muda hingga orang dewasa.
9. Tema Umum
Selain tema-tema di atas, geguritan juga bisa menggunakan tema umum lainnya, seperti tema lingkungan. Kemudian, isi dari geguritan tersebut akan mengikuti tema yang telah ditentukan.
Baca juga: Mengenal Jenis-Jenis dan Contoh Purwakanthi
Apa Ciri-Ciri Geguritan?
Mengutip dari jurnal Peningkatan Keterampilan Menulis Geguritan melalui Media Fotografi pada Ssiswa Kelas VIIIA SMP Negeri 1 Watumalang Kabupaten Wonosobo oleh Zulaeha, berikut ini ciri-ciri geguritan:
Bukan bahasa padinan atau bahasa yang digunakan sehari-hari.
Tembung atau katanya adalah pilihan
Jumlah liriknya tidak ditentukan
Sajak akhiran bebas
Jarang menggunakan tembung atau kata terikat
Bagaimana Cara Menulis Geguritan?
Tentunya kamu bertanya-tanya, bagaimana cara menulis geguritan? Berikut ini beberapa langkah menulisnya yang dikutip dari jurnal Peningkatan Keterampilan Menulis Geguritan dengan Metode Objek Langsung pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Kebumen oleh Eva Hapsari:
1. Menentukan Tema
Tema adalah pokok persoalan yang akan dikemukakan dalam puisi. Dalam hal ini, tema disesuaikan dengan objek yang ada.
2. Menentukan Kata Kunci
Setelah mengamati objek, selanjutnya menentukan kata kunci. Kata kunci dapat diperoleh dari ciri-ciri atau suasana dari objek yang dilihat dan dirasakan.
3. Mengembangkan Kata Menjadi Larik dan Bait Puisi
Kata-kata yang berhubungan dengan tema tersebut dikembang kan menjadi larik puisi. Selanjutnya, larik-larik itu disusun sehingga menjadi bait-bait puisi.
4. Menyusun Bait Menjadi Puisi
Langkah terakhir adalah menyusun bait-bait puisi menjadi puisi yang utuh dan bermakna. Dalam hal ini, penulis mulai melakukan revisi terhadap beberapa kata agar menjadi lebih berirama dan lebih mewakili pikiran dan perasaan penulis.
3 Contoh Geguritan Bahasa Jawa Tema Kehidupan atau Lingkungan
Berikut adalah 3 contoh geguritan dalam bahasa Jawa dengan tema kehidupan atau lingkungan sekitar:
"Lintang Panjer Rahina"
Nalika bumi isih sepi
Lintang panjer rahina wis tangi
Menehi Pepadhang sagung dumadi
Kang wiwit gumregah ngupaya rejeki
Para among tani wis ndalidir mecaki galengan
Mbok bakul sinambiwara wus sengkut makarya
Para ngulama tumungkul mengestu puja
Para santri wiridan ngaji
Jago kluruk sesautan
Melu tasbeh marang pangeran
Ndonya wis gagat rahina
Maringi kalodhangan janma ngupadi pangupajiwa
"Kitir"
Kitir iki
Isi panantangku marang wengi
Sing kebacut anggone nguja sepi
Dolanan swarane asu baung nggeririsi
Kitir iki
Wujud pangundhamanaku marang awang-awang
Sing kebacut brangasan
Ngrentengi lintang, nguntal rembulan
Kitir iki
Srana gugatku marang isen-isening jagad
Sing pijer royokan brekat
Tan keguh njaluk ruwat
"Rembulan Tipis"
Repepeh repepeh wus lumarap aneng tepine langit mangsa ketiga
Sang sitoresmi cemlurit ngabiyantara sedeku tumungkul konjem ing pertiwi
Sunare kebak pratandha rangu anggembol wadi kang kawekas
Lirih luruh ngarih arih angrerintih pocapane kasangkut pager wesi bebetenge rasa.
Wewadhul marang angin kang uga wus kalepyan ing janji
Amung pengin takon ana ngendi dununge prasapa kang wus tinali bakal dumadi
Napas-napas pangajab tansah ngesuk ing pambudi supaya anglari rakitane pradondi
Apa isih kudu semaya yen ta rembulan ndadari wus kapecak telung candra tanpa kandha.
Rembulan tipis ngempet tangis aneng kikising rasa kang wus kinalungan kalpika.
Demikian penjelasan lengkap mengenai geguritan sastra Jawa yang dapat kamu pelajari bersama teman-teman. Semoga bermanfaat, ya!
(WWN dan FNS)
