Pengertian Jumlah Fi'liyah dalam Bahasa Arab beserta Ciri dan Contoh Kalimatnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jumlah fi’liyah merupakan istilah dasar yang sering ditemukan dalam pembelajaran bahasa Arab. Istilah ini merujuk pada salah satu cabang materi dalam ilmu nahwu yang membahas struktur atau susunan kata dalam suatu kalimat.
Mengutip buku Kamus Al-Quran: Quranic Explorer karya Ali As-Sahbuny, ilmu nahwu adalah ilmu yang mempelajari kaidah susunan kata dan perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab. Ilmu nahwu sering disebut juga dengan ilmu qowaid.
Dalam ilmu nahwu, kalimat bahasa Arab terbagi menjadi dua jenis berdasarkan fungsi dan kategori kata yang mengawalinya. Dua jenis kalimat tersebut adalah jumlah ismiyah, yakni kalimat yang diawali kata benda dan jumlah fi’liyah, yaitu kalimat yang diawali kata kerja.
Untuk mengetahui lebih lanjut terkait jumlah fi’liyah, ciri-ciri, dan contoh kalimatnya, simak ulasan berikut ini.
Pengertian Jumlah Fi’liyah
Menurut kamus Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyah al-Mu’ashirah, jumlah fi’liyah terdiri dari dua kata, yaitu jumlah dan fi’liyah. Jumlah dalam ilmu nahwu diartikan sebagai kalimat yang tersusun lebih dari satu kata, sedangkan fi’liyah adalah perbuatan atau kata kerja.
Secara sederhana, jumlah fi’liyah dapat dipahami sebagai kalimat bahasa Arab yang diawali dengan kata kerja. Dalam gramatika bahasa Indonesia, jumlah fi’liyah memiliki konsep yang hampir mirip dengan kalimat verbal.
Jumlah fi’liyah tersusun oleh dua unsur, yaitu fi’il dan fa’il. Fi’il adalah kata kerja, sedangkan fa’il berarti pelaku atau subjek. Fi’il yang digunakan dalam jumlah fi’liyah harus sesuai dengan fa’il-nya.
Jika fa’il mengarah pada laki-laki, maka fi’il-nya harus menyesuaikan, begitu pula sebaliknya. Simak contoh berikut.
1. Hadir
Laki-laki: حَضَرَ (Hadhara)
Perempuan: حَضَرَتْ (Hadharot)
2. Pulang
Laki-laki: رَجَعَ (Roja’a)
Perempaun: رَجَعَتْ (Roja’at)
Ciri-ciri Jumlah Fi’liyah
Dalam buku Cara Mudah Membaca Kitab Kuning karya A.Fatih Syuhud, jumlah fi’liyah memiliki beberapa ciri khas yang mudah dikenali, antara lain sebagai berikut.
1. Mengandung makna yang berhubungan erat dengan kata kerja berupa kegiatan, perbuatan, maupun tindakan.
2. Diawali dengan kata kerja (fi'il), baik yang bersifat lampau (madhi), sekarang atau yang akan datang (mudhari), perintah (amr), dan larangan (nahyi).
3. Terikat dengan waktu dari masa apapun, baik lampau, sekarang, maupun yang akan datang.
4. Minimal terdiri dari dua susunan kata, yaitu fi’il (predikat berupa kata kerja) dan fa’il (subjek).
Baca Juga: Contoh Jumlah Ismiyah dalam Kalimat, Lengkap dengan Penjelasannya
Contoh Kalimat Jumlah Fi’liyah dalam Bahasa Arab
Dihimpun dari buku 33 Hari Mahir Bahasa Arab, berikut adalah contoh penerapan jumlah fi’liyah dalam suatu kalimat.
1. Jumlah Fi’liyah Madhi (Lampau)
ذَهَبَ مُحَمَّدٌ إِلَى الْـمَدْرَسَةِ
Muhammad telah pergi ke sekolah
2. Jumlah Fi’liyah Mudhari (Sedang/akan terjadi)
يَذْهَبُ مُحَمَّدٌ إِلَى الْـمَدْرَسَةِ
Muhammad sedang / akan pergi ke sekolah
3. Jumlah Fi’liyah Amr (Perintah)
يَا مُحَمَّدُ اِذْهَبْ إِلَى الْـمَدْرَسَة
Wahai Muhammad pergilah ke sekolah!
4. Jumlah Fi’liyah Nahyi (Larangan)
لَا تَذْهَبْ إِلَى الْـمَدْرَسَةِ يَا مُحَمَّدُ
Jangan pergi ke sekolah wahai Muhammad!
(AAA)
Frequently Asked Question Section
Apa saja ciri-ciri jumlah fi’liyah?

Apa saja ciri-ciri jumlah fi’liyah?
Salah satu ciri jumlah fi’liyah adalah mengandung makna yang berhubungan erat dengan kata kerja berupa kegiatan, perbuatan, maupun tindakan.
Apa saja susunan jumlah fi’liyah?

Apa saja susunan jumlah fi’liyah?
Jumlah fi’liyah tersusun oleh dua unsur, yaitu fi’il dan fa’il. Fi’il adalah kata kerja, sedangkan fa’il berarti pelaku atau subjek.
Apa saja kata kerja yang termasuk jumlah fi’liyah?

Apa saja kata kerja yang termasuk jumlah fi’liyah?
Kata kerja (fi’il) yang termasuk jumlah fi’liyah terdiri dari kata kerja bersifat lampau (madhi), sekarang atau yang akan datang (mudhari), perintah (amr), dan larangan (nahyi).
