Penyakit Lesi Otak: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya

Menyajikan informasi terkini, terbaru dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle dan masih banyak lagi.
Konten dari Pengguna
21 Maret 2023 11:26
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi CT Scan otak.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi CT Scan otak. Foto: Shutterstock
Lesi otak adalah area jaringan otak yang menunjukkan kerusakan akibat cedera atau penyakit. Kondisi ini dapat dideteksi dengan cara melakukan pemindaian diagnostik.
Mengutip situs My Cleveland Clinic, lesi otak bisa sembuh dengan sendirinya dan dapat pula diobati. Umumnya, kerusakan tersebut dapat terjadi karena kondisi medis tertentu seperti stroke, gegar otak, dan lain-lain.
Lesi otak dapat mengganggu cara kerja otak dan menyebabkan berbagai gejala seperti kelemahan, gangguan panca indra, dan kebingungan. Tingkat keparahannya pun berbeda pada tiap-tiap pasien.
Selain itu, lesi otak juga bisa mengganggu komunikasi di area otak yang terkena. Agar lebih memahaminya, simaklah penjelasan tentang lesi otak dalam artikel berikut ini.

Penyakit Lesi Otak

Ilustrasi tumor otak. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tumor otak. Foto: Shutterstock
Gejala lesi otak bisa bervariasi, tergantung pada lokasinya. Ada beberapa kondisi medis yang dapat menyebabkan lesi otak, yakni sebagai berikut:
  • Tumor otak dan kanker.
  • Kelainan bawaan sejak lahir dan gangguan metabolisme.
  • Penyakit otak degeneratif (terutama yang berkaitan dengan usia) seperti Alzheimer, demensia, parkinson, dan atrofi sistem ganda.
  • Kondisi kekebalan dan peradangan seperti multiple sclerosis atau lupus.
  • Infeksi mikroorganisme seperti bakteri, jamur, parasit, dan amuba.
  • Kondisi genetik seperti Huntington atau Wilson.
  • Kelumpuhan supranuklear progresif.
  • Kejang dan epilepsi.
  • Stroke dan serangan iskemik sementara.
  • Cedera dan trauma.
Jika Anda mengalami kondisi tersebut, maka sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Anda bisa melakukan pemeriksaan neurologis untuk mengetahui diagnosis pastinya.
Nantinya, pihak medis akan menguji kekuatan otot di anggota tubuh Anda, memeriksa refleks, dan menguji apakah indera bisa bekerja dengan baik atau tidak. Jika pemeriksaan neurologis tidak menghasilkan diagnosis, dokter akan merekomendasikan pengujian lanjutan.
Mengutip situs Mayoclinic, beberapa jenis pemindaian yang bisa dilakukan yaitu Computed Tomography (CT) Scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI) Scan, dan Positron Emission Tomography (PET) Scan.
Ilustrasi lesi otak. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lesi otak. Foto: Shutter Stock
Beberapa kondisi yang menyebabkan lesi otak seperti gegar otak ringan dapat hilang dengan sendirinya. Jika lesi tidak parah, maka pasien tidak membutuhkan perawatan khusus.
Pasien akan diminta untuk istirahat penuh dan mengurangi aktivitas yang berat. Ini dapat memulihkan kondisi seperti semula dan menghilangkan lesi otak secara perlahan.
Jika lesi otak disebabkan oleh infeksi, maka dianjurkan untuk diobati dengan antibiotik dan perawatan suportif lainnya. Sedangkan tumor yang muncul akibat lesi otak bisa dihilangkan dengan operasi.
Namun sayangnya, ada jenis lesi otak yang tidak bisa diobati. Biasanya, kondisi ini disebabkan oleh kerusakan yang parah seperti alzheimer dan lain-lain. Beberapa hal yang bisa membantu Anda terhindar dari lesi otak antara lain sebagai berikut:
  • Makan menu yang seimbang dan lakukan diet.
  • Aktif secara fisik seperti olahraga dan lain sebagainya.
  • Gunakan helm ketika berkendara dengan motor.
  • Gunakan sabuk pengaman saat bekendara dengan mobil.
(MSD)
Apa itu lesi otak?
chevron-down
Apa penyebab lesi otak?
chevron-down
Apa saja tes yang bisa dijalani untuk mengetahui diagnosis lesi otak?
chevron-down