Konten dari Pengguna

Penyebab Banjir di Bali, Bukan Hanya Karena Hujan Deras

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Petugas melakukan proses pencarian korban di sekitar bangunan ruko yang hancur akibat diterjang banjir di kawasan Jalan Sulawesi, Denpasar, Bali, Kamis (11/9/2025). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas melakukan proses pencarian korban di sekitar bangunan ruko yang hancur akibat diterjang banjir di kawasan Jalan Sulawesi, Denpasar, Bali, Kamis (11/9/2025). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO

Banjir melanda sebagian besar wilayah Provinsi Bali sejak diguyur hujan lebat pada Selasa (9/9). Hal ini menelan korban jiwa dan memaksa ratusan warga mengungsi.

Merujuk data BNPB per Jumat (12/9) pagi, total korban meninggal dunia adalah 16 orang, meliputi 10 orang di Kota Denpasar, 2 orang di Kabupaten Jembrana, 3 orang di Kabupaten Gianyar, dan satu orang di Kabupaten Badung.

Sementara itu, BPBD Provinsi Bali mencatat 562 warga mengungsi, dengan rincian 327 warga di Kabupaten Jembrana dan 235 warga di Kota Denpasar.

Sebenarnya, apa penyebab banjir di Bali hingga dampaknya sebesar itu? Simak penjelasannya berikut ini.

Penyebab Banjir di Bali

Proses evakuasi korban banjir di Jalan Hasanuddin, Denpasar, Bali, Kamis (11/9/2025) Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, penyebab banjir di Bali adalah gabungan dari faktor alam dan kelalaian manusia. Faktor alam yang dimaksud adalah curah hujan tinggi sejak Selasa (9/9).

Lalu, faktor kelalaian manusia adalah manajemen sampah yang buruk. Selain itu, Gede Teja juga menyoroti masifnya pembangunan infrastruktur di kota, tapi tidak memerhatikan aspek lingkungan.

Pembangunan itu mengganggu aliran air sungai. Akibatnya, sungai jadi mudah meluap saat diterpa hujan lebat berhari-hari.

"Pembangunan ini masalah infrastruktur, infrastruktur jaringan saluran air itu kan harus bagus, kemudian aliran-aliran sungai itu juga terganggu kan karena dampak pembangunan," ucap Gede Teja saat dihubungi kumparanNEWS, Kamis (11/9).

Mengapa Curah Hujan di Bali Meningkat?

Kondisi meluapnya sungai atau Tukad Badung di Kota Denpasar, Bali, pada Rabu (10/9). Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Dalam rilis BMKG, Kamis (8/9), tentang Prospek Cuaca Mingguan Periode 9-15 September 2025, disebutkan bahwa pada pekan kedua bulan September akan terjadi peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, salah satunya Bali.

Kondisi tersebut didukung oleh Dipole Mode Index (DMI) yang bernilai negatif, sehingga meningkatkan aktivitas awan di wilayah Bali. Gelombang atmosfer Rossby, Kelvin, dan Madden Julian Oscillation (MJO) juga diperkirakan masih aktif di pekan tersebut.

Ketiganya merupakan fenomena atmosfer yang memengaruhi cuaca di wilayah tropis. Ketika aktif secara bersamaan, potensi pertumbuhan awan hujan akan meningkat dan menyebabkan cuaca ekstrem.

Aktifnya ketiga fenomena atmosfer tersebut tercermin dari nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang dominan negatif. Itu menunjukkan kecenderungan pertumbuhan awan hujan, khususnya di Indonesia bagian barat, tengah, dan timur.

Pernyataan Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar juga menyebutkan bahwa peningkatan curah hujan di Bali sejak Selasa (9/9) dipicu oleh gelombang ekuatorial Rossby.

"Aktifnya gelombang ekuatorial Rossby di wilayah Bali dan sekitarnya mendukung pertumbuhan awan konvektif penyebab hujan lebat," kata Ketua Kelompok Kerja Operasional Meteorologi BBMKG Wilayah III, Wayan Musteana, dikutip dari Antara, Rabu (10/9).

Di saat yang bersamaan, nilai kelembapan udara di Bali meningkat dari lapisan permukaan hingga lapisan 500 milibar (mb). Kondisi ini membuat potensi terjadinya hujan lebat semakin meningkat.

Baca Juga: Cerita Aulia Gelantungan di Pohon Selama 3 Jam saat Banjir 2,5 Meter di Denpasar

(DEL)