Peran ABT dalam Memanfaatkan Aset Strategis untuk Transformasi Digital Sekolah

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak sekolah menganggap transformasi digital mustahil dilakukan karena keterbatasan fasilitas dan anggaran. Padahal, dengan adanya pendekatan Asset-Based Thinking (ABT), modal untuk bergerak lebih digital ada di tangan sekolah itu sendiri.
Pendekatan ABT mengajak sekolah untuk berhenti mengeluhkan kekurangan dan mulai memetakan kekuatan yang dimiliki. Lantas, bagaimana ABT membantu sekolah memanfaatkan aset strategi untuk mendukung transformasi digital?
Bagaimana ABT Membantu Sekolah Memanfaatkan Aset Strategis untuk Mendukung Transformasi Digital?
Dikutip dari Brata (2024) dalam penelitian berjudul Penerapan Asset Based Thinking dalam Kepemimpinan Instruksional Sekolah Penggerak pada SDN Tanah Jambo Aye dan SDN 7 Syamtalira Aron di Kabupaten Aceh Utara oleh Nurlindayani dkk. (2024) yang diterbitkan di Journal on Education, ABT adalah cara praktis menemukan hal-hal positif dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, berfokus pada apa yang sudah berjalan baik dan berpotensi untuk dikembangkan.
Sekolah memiliki tujuh modal utama yang bisa dioptimalkan, yaitu modal manusia, sosial, fisik, lingkungan atau alam, finansial, politik, serta agama dan budaya. Tujuh modal itu adalah aset strategi yang siap dimaksimalkan.
Contohnya, guru yang melek teknologi adalah modal manusia. Komunitas orang tua yang aktif adalah modal sosial, sementara ruang kelas yang tersedia adalah modal fisik.
Semua bisa diarahkan untuk mendukung transformasi digital apabila sekolah terlebih dahulu memetakannya dengan pendekatan ABT. Sekolah dengan budaya ABT lebih siap mengadopsi perubahan berbasis digital karena perhatiannya tertuju pada potensi yang bisa digunakan.
Sebagai gambaran, sekolah yang menerapkan ABT dalam konteks transformasi digital bisa memulai dengan memetakan guru mana yang sudah terbiasa menggunakan aplikasi pembelajaran, lalu menjadikan mereka mentor bagi rekan-rekan yang belum familiar.
Selanjutnya, komunitas orang tua bisa diajak berkontribusi lewat grup komunikasi digital yang sudah berjalan. Ruang kelas yang ada juga bisa difungsikan sebagai ruang praktik literasi digital tanpa harus menunggu laboratorium komputer berdiri.
Kepala Sekolah sebagai Penggerak Utama ABT
Keberhasilan ABT sangat bergantung pada peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. Dijelaskan dalam penelitian Nurlindayani dkk. (2024), kepala sekolah penggerak yang menerapkan ABT harus berfokus pada pengakuan terhadap aset yang dimiliki, mendorong kolaborasi, serta mengembangkan kepemimpinan di semua lini.
Dalam konteks transformasi digital, kepala sekolah bisa memulai dengan memetakan guru yang paling siap secara digital, platform tersedia, dan komunitas yang bisa diajak bermitra. Langkah kecil berbasis aset ini lebih efektif dibandingkan menunggu bantuan dari luar.
(FHK)
Baca juga: Kapan Libur Sekolah Semester 2 2026? Catat Tanggalnya
