Perkembangan Budaya Politik yang Berlangsung di Indonesia Pasca Reformasi

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Budaya politik mencerminkan nilai-nilai dan sikap masyarakat terhadap kehidupan bernegara. Nilai-nilai inilah yang menjadi pedoman dalam menjalankan berbagai aktivitas politik di tingkat individu, masyarakat, maupun pemerintahan.
Di Indonesia, budaya politik telah mengalami perkembangan yang panjang, mulai dari masa penjajahan hingga memasuki era reformasi. Setiap periode menghadirkan karakter dan corak politik yang berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan serta kondisi sosial masyarakat pada masanya.
Lalu, bagaimana perkembangan budaya politik yang berlangsung di Indonesia pasca reformasi? Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut!
Bagaimana Perkembangan Budaya Politik yang Berlangsung di Indonesia Pasca Reformasi?
Ada berbagai bentuk budaya politik di dunia, seperti budaya politik parokial, kaula (subjek), dan partisipan. Namun, dalam praktiknya, tidak ada satu pun negara yang menerapkan budaya politik secara murni, termasuk Indonesia.
Di Indonesia, budaya politik juga mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Pada era orde baru, tingkat partisipasi politik masyarakat masih tergolong rendah.
Kesadaran untuk turut memengaruhi kebijakan publik belum tumbuh secara luas. Hal ini disebabkan karena sistem pemerintahan yang saat itu bersifat sentralistik dan terbatas pada elite politik.
Lantas, bagaimana perkembangan budaya politik yang berlangsung di Indonesia pasca reformasi? Mengutip buku Pendidikan Kewarganegaraan Kelas XI, budaya politik Indonesia setelah reformasi mengalami perubahan besar.
Kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam perumusan kebijakan publik mulai meningkat. Karena itu, budaya politik Indonesia pasca reformasi dapat dikategorikan sebagai tipe subjek-partisipan.
Budaya politik subjek-partisipan adalah bentuk peralihan dari budaya subjek yang terpusat menuju budaya partisipan yang lebih demokratis dan terbuka. Dengan budaya politik ini, diharapkan akan tercipta pemerintahan yang demokratis, jujur, adil, dan bebas dari segala bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Baca Juga: Perbedaan Ibu Kota Negara dan Ibu Kota Politik, Ini Penjelasannya
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Budaya Politik
Budaya politik yang berkembang di masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mengutip buku Pendidikan Kewarganegaraan SMA Kelas XI oleh Drs. Hasim M., berikut faktor-faktornya:
1. Tingkat Pendidikan Warga Negara
Tingkat pendidikan warga negara berperan penting dalam membentuk budaya politik yang demokratis. Masyarakat yang berpendidikan akan memiliki pengetahuan dan pemahaman lebih baik mengenai pentingnya partisipasi mereka dalam kehidupan politik.
2. Tingkat Ekonomi
Kondisi ekonomi juga memengaruhi perkembangan budaya politik. Semakin tinggi tingkat kesejahteraan masyarakat, semakin besar pula partisipasi mereka dalam kegiatan politik dan pemerintahan.
3. Reformasi Politik
Reformasi politik mencerminkan semangat para pemegang kekuasaan untuk terus memperbaiki sistem politik ke arah yang lebih baik, transparan, dan akuntabel.
4. Supremasi Hukum
Penegakan hukum yang adil, independen, dan bebas akan menciptakan kepastian hukum. Dengan demikian, masyarakat akan lebih taat aturan dan sadar hukum, sehingga budaya politik yang terbentuk menjadi lebih sehat.
5. Media Komunikasi yang Independen
Pers dan media massa berperan sebagai alat kontrol sosial yang efektif. Melalui pemberitaan yang independen dan objektif, media membantu menumbuhkan budaya politik yang terbuka, kritis, dan partisipatif.
(NSF)
