Konten dari Pengguna

Petunjuk Penyusunan Tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 2.3

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Modul 2.3 untuk pengembangan keterampilan coaching CGP.  Foto: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Modul 2.3 untuk pengembangan keterampilan coaching CGP. Foto: Pexels.com

Demonstrasi Kontekstual Modul 2.3 adalah bagian penting dari pelatihan calon guru penggerak (CGP) untuk mengembangkan kompetensi coaching dari setiap peserta. Pada bagian ini, CGP akan diminta untuk mempraktikkan secara langsung teknik coaching yang telah diajarkan.

Modul 2.3 merupakan modul pembelajaran yang berfokus pada pengembangan keterampilan coaching dalam supervisi akademik bagi CGP. Teknik coaching merupakan pendekatan yang digunakan untuk membantu seseorang mencapai kemampuan maksimalnya dan mengatasi masalah yang dihadapi.

Petunjuk Penyusunan Tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 2.3

Ilustrasi tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 2.3. Foto: Pexels.com

Pada bagian "Demonstrasi Kontekstual" dalam modul ini, CGP akan diminta untuk memainkan peran agar dapat menerapkan teknik coaching dengan benar. Tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 2.3 dikumpulkan berupa video yang memperlihatkan proses coaching dari setiap peserta.

Dirangkum dari modul Coaching untuk Supervisi Akademik karya Monika Irayati, dkk., berikut petunjuk penyusunan tugas modul Demonstrasi Kontekstual Modul 2.3:

  • Bentuk kelompok yang terdiri dari tiga CGP. Setiap anggota kelompok akan mengambil peran sebagai coach, coachee, atau pengamat (observer).

  • Pengamat berdiskusi dengan coach mengenai kompetensi coaching yang akan dikembangkan (presence, mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot).

  • Coach dan coachee melakukan sesi coaching berdasarkan situasi nyata yang dihadapi coachee. Pengamat mencatat observasi terkait proses coaching.

  • Setelah sesi coaching, pengamat memberikan umpan balik berbasis coaching kepada coach dengan pertanyaan yang mendalam dan reflektif.

  • Anggota kelompok berganti peran sehingga setiap orang mengalami menjadi coach, coachee, dan pengamat.

  • Semua sesi coaching direkam untuk penilaian dan dokumentasi.

  • Kirimkan file dokumentasi sesi coaching yang telah dilakukan. Fasilitator menilai rekaman sesi coaching menggunakan rubrik penilaian yang disediakan.

Baca Juga: Contoh Jawaban Koneksi Antar Materi Modul 2.3 Program Guru Penggerak

Ilustrasi tahapan coaching CGP. Foto: Pexels.com

Berdasarkan contoh tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 2.3 karya Hadisa yang dikutip pada laman Merdeka Mengajar, CGP perlu menggambarkan proses coaching menggunakan metode TIRTA dalam tugas ini.

Model TIRTA adalah model coaching yang terdiri dari empat tahapan utama, yakni Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi, dan Tanggung Jawab. Berikut penjelasan masing-masing tahapannya:

1. Tujuan

Coaching dengan metode Tirta dimulai dengan menetapkan tujuan yang jelas. Pada tahap ini, coach dan coachee bersama-sama menentukan tujuan dari sesi coaching. Hal-hal yang bisa ditanyakan meliputi rencana pertemuan, tujuan pertemuan, dan cara mengukur keberhasilan dari sesi coaching tersebut.

2. Identifikasi

Pada tahap ini, coach dan coachee bersama-sama memetakan situasi atau masalah yang sedang dihadapi. Coachee akan mengungkapkan kekuatan dan kelemahannya, serta mencari solusi untuk masalahnya. Melalui identifikasi yang tepat, coach dapat membantu menemukan langkah-langkah efektif untuk mencapai tujuan.

3. Rencana Aksi

Setelah mengidentifikasi masalah, coachee menyusun rencana aksi yang konkret. Rencana ini berisi strategi dan kegiatan yang akan dilakukan untuk menyelesaikan masalah dan mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Rencana aksi harus spesifik, terukur, realistis, relevan, dan memiliki batas waktu atau deadline.

4. Tanggung Jawab

Pada tahap terakhir, coachee membuat komitmen untuk melaksanakan rencana aksi dan mencapai hasil yang diinginkan. Ia bertanggung jawab untuk menindaklanjuti rencana dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Hasil dari tahap ini menjadi acuan untuk langkah-langkah berikutnya dalam proses coaching.

Dengan metode TIRTA, proses coaching yang akan dilaksanakan menjadi lebih terarah dan fokus, sehingga coachee dapat mengembangkan diri dan menyelesaikan masalah dengan lebih efektif.

(SAI)