Puisi Lama: Pengertian, Macam-macam, Ciri-ciri, dan Contohnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi merupakan karya sastra yang identik dengan kata-kata indah dan imajinatif. Karya sastra ini dapat dibedakan menjadi dua, yakni puisi modern dan puisi lama.
Biasanya, puisi modern ditulis dengan gaya yang lebih bebas. Sementara itu, puisi lama terikat dengan aturan tertentu, salah satunya jumlah baris. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam buku Top Fokus Ulangan & Ujian SMP (2020) tulisan Tim Maestro Eduka.
Bagi Anda yang ini mempelajari lebih lanjut mengenai puisi lama, langsung saja simak uraian di bawah ini.
Baca Juga: Pengertian Pantun Nasehat beserta Contoh dan Maknanya
Pengertian Puisi Lama
Berdasarkan informasi dari buku Sukses UN SD 2009 (Matematika, Bhs. Indonesia, IPA), puisi menjadi ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, rama, dan penyusunan larik serta bait. Umumnya, bahasa yang dimuat dalam puisi cenderung padat.
Lalu seperti disebutkan sebelumnya, puisi lama adalah jenis puisi yang terikat dengan berbagai aturan, di antaranya pola irama, sajak, dan jumlah baris. Ragam sastra ini sudah dibuat sebelum masa pujangga baru.
Puisi lama adalah jenis puisi yang masih terikat oleh berbagai aturan. Aturan inilah yang membedakannya dengan puisi modern. Biasanya, puisi lama ditulis dengan bahasa Melayu dan identitas penulisnya tidak diketahui (anonim).
Baca Juga: Puisi Pendidikan Pendek beserta Tips Menulis Puisi yang Indah
Ciri-ciri Puisi Lama
Seperti karya sastra lainnya, puisi lama juga dapat dikenali dengan beberapa ciri. Berikut ciri-ciri puisi lama seperti dijelaskan dalam buku Fresh Update Mega Bank Soal Bahasa Indonesia SMP kelas 1, 2, & 3 oleh Tim Guru Eduka (2015):
Rima akhir dalam setiap lariknya bernada
Dipengaruhi unsur tradisi atau adat istiadat
Kebanyakan pengarangnya tidak diketahui atau anonim
Disampaikan dari mulut ke mulut, sehingga kerap disebut dengan sastra lisan
Memakai gaya bahasa yang tetap (statis) dan klise
Berisikan kerajaan, fantastis, dan instanasentris
Masih terikat dengan berbagai aturan, yakni pola irama, sajak, dan jumlah baris.
Baca Juga: Pengertian dan Persamaan Pantun, Syair, dan Gurindam
Macam-macam Puisi Lama
Mengutip buku Aku Mampu Berbahasa dan Bersastra Indonesia oleh Kastam Syamsi dan Anwar Efendi (2010), ada berbagai macam puisi lama yang sering dijumpai, yakni:
1. Pantun
Pantun merupakan salah satu bentuk puisi lama di Indonesia yang dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu. Ciri-ciri pantun adalah:
Tiap bait terdiri dari empat baris (a-b-a-b)
Tiap baris biasanya terdiri dari empat kata
Baris pertama dan kedua berisi sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi.
Contoh:
Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belum lagi teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu sebelum lagi sembuh
2. Syair
Syair adalah puisi lama yang berirama dan disampaikan dalam bentuk rangkap. Syair tidak memiliki pengarang khusus, karena itu masyarakat Melayu lama menganggapnya sebagai milik bersama. Secara umum, syair memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Terdiri dari 4 baris lengkap
Tidak memiliki maksud
Biasanya menceritakan suatu kisah, di mana setiap barisnya memiliki makna yang berkaitan dengan baris-baris sebelumnya
Tiap baris terdiri atas 8-12 suku kata
Tema yang digunakan umumnya adalah romantis, sejarah, perumpamaan, dan keagamaan.
Contoh:
Dengarlah adik, abang berpesan
Jangan adik menurut perasaan
Pilih pasangan hendak fikirkan
Baik buruk harap bedakan
3. Gurindam
Gurindam diartikan sebagai ragam sastra Indonesia (lama) yang berisi dua baris yang mengandung petuah atau nasihat. Umumnya, baris pertama gurindam berisi semacam soal, masalah, atau perjanjian. Sedangkan baris kedua adalah jawaban atau akibat dari masalah pada baris pertama.
Contoh:
Baik-baik memiliki kawan
Salah-salah bisa menjadi lawan
4. Talibun
Mengutip buku Pantun dan Puisi Lama Melayu terbitan Khitah Publishing, talibun merupakan jenis puisi bebas, di mana persajakan di dalamnya tidak sama teraturnya dengan puisi lama lainnya. Pola persajakan talibun tidak tetap, bergantung pada jumlah larik setiap bait.
Talibun ditulis menggunakan bahasa yang berulang. Pengulangan ini biasanya di awal larik dan letaknya cukup bervariasi, bisa jadi pengulangan di lirik awal, tengah, maupun larik akhir, baik di bagian sampiran maupun isi.
Contoh:
Kalau anak pergi ke pekan,
yu beli belanak pun beli,
ikan panjang beli dahulu.
Kalau anak pergi berjalan,
ibu cari sanak pun cari,
induk semang cari dahulu.
Baca Juga: Struktur Syair dan Jenis-jenisnya
(ADS)
