Rebo Wekasan: Pengertian, Hukum Pelaksanaan, dan Bacaan Doanya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rebo Wekasan adalah sebuah tradisi yang dilakukan setiap tahun oleh masyarakat Jawa pada hari Rabu terakhir bulan Safar, bulan ke dua dalam penanggalan Hijriyah. Ada beberapa nama lain dari Rebo Wekasan ini, yaitu Rabu Pamungkas, Arba Mustakmir, atau Arba Musta'mir.
Masyarakat Jawa percaya, bahwa di waktu itu akan turun bencana dan sumber penyakit, sehingga harus melaksanakan berbagai amalan untuk menolak bala atau sial. Hal ini dijelaskan dalam Buku Risalah Ahlusunnah Wal Jama'ah An-Nahdliyah karya Subaidi.
Menurut Siti Nur Aidah dalam buku berjudul Kitab Doa-Doa Tolak Bala, bulan Safar identik dengan cuaca pancaroba atau suasana yang tidak menentu serta memiliki aura kurang baik. Maka dari itu, umat Islam banyak mengerjakan amalan tolak bala pada bulan Safar.
Hukum Melaksanakan Tradisi Rebo Wekasan
Melansir buku JABALKAT I: Jawaban Problematika Masyarakat yang disusun oleh Tim Kodifikasi ANFA’ Purna, Islam melarang umatnya untuk melaksanakan amalan Rebo Wekasan, sebab hal ini tidak disyariatkan.
Tak hanya itu, hukum meyakini akan datangnya malapetaka di akhir bulan Safar ini sudah dijelaskan dalam hadist shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, yang berbunyi:
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda: "Tidak ada penyakit menular, tidak ada kepercayaan datangnya malapetaka di bulan Safar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati itu rohnya menjadi burung yang terbang.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Menurut al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, hadits tersebut merupakan respon dari Nabi Muhammad Saw terhadap tradisi yang berkembang di zaman Jahiliyah.
Ibnu Rajab menuliskan dalam kitab Lathaif al-Ma’arif, jika orang awam masih meyakini datangnya sial pada bulan Saafar hingga terkadang melarang bepergian pada bulan itu maka termasuk jenis thiyarah (meyakini pertanda buruk) yang dilarang.
Meski begitu, adapula sebagian ulama yang memperbolehkan umat Muslim untuk tetap melakukan amalan Rebo Wekasan ini. Tujuannya agar selalu terhindar dari segala bala dan malapetaka.
Hal tersebut merujuk pada pendapat Imam Abdul Hamid al-Qudsi dalam Kanzun Najah yang menyebut bahwa pada Rebo Wekasan Allah SWT akan menurunkan 320.000 bencana dari langit.
Begitu juga penjelasan dari Imam al-Qurtuby dalam tafsirnya al-Jami li Ahkamil Qur'an yang menjelaskan bahwa Allah membinasakan kaum ‘Aad dengan angin kencang pada Rabu terakhir bulan Safar.
Doa Tolak Bala dalam Tradisi Rebo Wekasan
Melansir Buku Induk Fikih Islam Nusantara karya K. H. Imaduddin Utsman, meski kebenaran akan Rebo Wekasan masih simpang siur, bagi ulama yang meyakini mereka mengatakan bahwa ada doa tolak bala yang dapat dibaca dalam tradisi Rebo Wekasan, yaitu:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا أَنْتَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اللهم بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ وَأُمِّهِ وَبَنِيْهِ اِكْفِنِيْ شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Artinya: “Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah pada junjungan kami, Nabi Muhammad Saw, keluarga dan para sahabatnya. Ya Allah, Tuhan Yang Maha Memiliki Kekuatan dan Keupayaan.
Ya Tuhan Yang Maha Mulia dan karena kemuliaan-Mu itu, menjadi hinalah semua makhluk ciptaan-Mu, peliharalah aku dari kejahatan makhluk-Mu. Ya Tuhan Yang Maha Baik. Yang Memberi Keindahan, Keutamaan, Kenikmatan dan Kemuliaan. Ya Allah, Tiada Tuhan kecuali hanya Engkau. Kasihanilah aku dengan Rahmat-Mu, wahai Zat yang Maha Penyayang.
Ya Allah, dengan rahasia kemuliaan Sayyidina Hasan dan saudaranya, serta kakeknya dan ayahnya, ibunya dan keturunannya, jauhkan aku dari kejahatan hari ini dan kejahatan yang akan turun padanya. Wahai Zat Yang Maha Mencukupi harapan dan Menolak bala’, cukuplah Allah Yang Maha Memelihara lagi Maha Mengetahui untuk memelihara segalanya.
Cukuplah Allah tempat kami bersandar, tiada daya dan upaya kecuali atas izin Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Nabi Muhammad Saw. beserta keluarganya dan para sahabatnya."
(NDA)
