Konten dari Pengguna

Riset Kekhawatiran Masyarakat tentang Penggunaan AI di Indonesia 2025

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock

Kehadiran teknologi AI disambut baik oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, kini teknologi kecerdasan buatan itu dimanfaatkan secara masif di sejumlah bidang kehidupan, seperti pekerjaan, pendidikan, hingga kesenian.

AI memang hadir untuk mempermudah pekerjaan manusia. Namun, di balik manfaat itu, ada sejumlah hal yang dinilai bisa merugikan masyarakat, seperti penyebaran misinformasi (hoax) menggunakan foto atau video AI yang terlihat begitu nyata.

Masyarakat juga khawatir terhadap ancaman keamanan data dan privasi mereka. Untuk melihat rangkumannya, simak riset kekhawatiran masyarakat tentang penggunaan AI di bawah ini.

Riset Kekhawatiran Masyarakat tentang Penggunaan AI

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock

kumparan bersama Populix telah meriset cara pandang masyarakat Indonesia terhadap hadirnya AI dalam kehidupan. Hasilnya terangkum dalam laporan Indonesia AI Report 2025.

Salah satu isu yang dipaparkan adalah tentang kekhawatiran masyarakat terhadap penggunaan AI. Ternyata, 75% masyarakat khawatir AI digunakan untuk menyamar atau meniru orang lain, seperti membuat konten deepfake.

Kekhawatiran itu dirasakan oleh Gen Z maupun Milenial. Mereka juga khawatir terkait penyalahgunaan data pribadi oleh AI (62%). Angka tersebut menandakan tingginya tingkat kekhawatiran publik terhadap keamanan dan identitas digital mereka.

Meski Gen Z dan Milenial sama-sama menempatkan deepfake serta data pribadi di urutan teratas kekhawatirannya, ada hal lain yang membedakan keduanya. Gen Z lebih peduli dengan keakuratan informasi (50%) dan kurangnya pemahaman publik terhadap penggunaan AI (44%).

Sebaliknya, Milenial memiliki kepedulian lebih tinggi pada data pribadi (64%) serta hilangnya pekerjaan (46%). Perbedaan ini menunjukkan bahwa kekhawatiran setiap generasi terhadap risiko AI dipengaruhi oleh pengalaman dan kebutuhan masing-masing.

Kekhawatiran publik ini juga menguatkan dugaan tidak transparansinya perusahaan AI soal proses training dan retraining data. Akibatnya, publik tidak memiliki kejelasan apakah data yang diunggah ikut digunakan untuk melatih ulang model AI.

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock

Berikut ini rincian tingkat kekhawatiran Gen Z dan Milenial terhadap penggunaan AI di masa kini:

  • AI digunakan untuk menyamar atau meniru orang lain (misalnya deepfake): 76% Milenial, 73% Gen Z

  • Informasi pribadi masyarakat disalahgunakan AI: 64% Milenial, 60% Gen Z

  • Orang mendapatkan informasi yang tidak akurat dari AI: 47% Milenial, 50% Gen Z

  • AI menyebabkan hilangnya pekerjaan: 46% Milenial, 42% Gen Z

  • Masyarakat tidak memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan AI: 40% Milenial, 44% Gen Z

  • Adanya bias dalam keputusan yang dibuat AI: 41% Milenial, 39% Gen Z

  • AI membuat hubungan antara manusia menjadi lebih renggang: 32% Milenial, 33% Gen Z.

Baca hasil riset lengkap Indonesia AI Report 2025 di sini!

Untuk pengalaman membaca yang lebih nyaman, Klik “View on Slideshare”

iframe embed

ALTERNATIVE DOWNLOAD LINK: kumparan Indonesia AI Report 2025

Baca Juga: Riset Tingkat Ketergantungan AI di Indonesia dan Sumber Publik Belajar AI

(DEL)